Selasa, 03 Feb 2026 22:11 WIB

Jelang Nataru, Harga Telur Ayam dan Cabai di Surabaya Melonjak

Hanafi penjual telur ayam
Hanafi penjual telur ayam

selalu.id - Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga telur ayam di pasar tradisional Surabaya mengalami lonjakan signifikan. Dalam tiga hari terakhir, harga telur ayam meroket dari Rp24.000 per kilogram menjadi Rp32.000 per kilogram. Kenaikan harga ini membuat para pedagang mengeluh karena omset penjualan mereka menurun.

Hanafi, seorang pedagang telur ayam di Pasar Dukuh Kupang Surabaya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga telur ayam dalam tiga hari terakhir telah berdampak pada penjualannya. "Ada kenaikan pak ya, memang 3 harian ini naik terus pak. Dulunya sebelum itu kan cuman 24 gitu, sekarang sampai 32 saya jual. Ya tiap harinya naik, sekarang 32 saya jual ya dalam tiga hari yang sudah ini pak," terangnya.

Baca Juga: Komisi B Surabaya Nilai Urban Farming Pemkot Kurang Berdampak Tekan Harga Pangan

"Ya kalau bisa jelang Natal dan Tahun Baru dinormalkan, kasihan rakyat ini. Dampak juga ini pak, biasanya beli 2 kilo jadi 1 kilo. Kadang yang mau beli nggak jadi karena naik," lanjut ujar Hanafi kepada selalu.id di Surabaya, Rabu (11/12/2024).

Tidak hanya telur ayam, harga cabai rawit dan cabai merah besar juga mengalami kenaikan. Harga cabai rawit yang sebelumnya Rp25.000 per kilogram kini menjadi Rp35.000 per kilogram. Sementara itu, harga cabai merah besar naik dari Rp25.000 menjadi Rp30.000 per kilogram. Harga bawang putih juga ikut naik dari Rp45.000 menjadi Rp47.000 per kilogram.

Baca Juga: Cabai Meroket Jelang Nataru, DPRD Nilai Pemkot Lambat Hadapi Gejolak Harga

"Kayak sayur naik, cabai kecil cabai merah naik. Yang asalnya 25 cabai kecil sekarang 35, cabai besar 30," ungkap Sofia, seorang pedagang sayur di Pasar Dukuh Kupang.

Kenaikan harga bahan pangan jelang Nataru ini dikeluhkan oleh masyarakat, khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah. "Kalau bisa setiap mau Natal Tahun Baru harganya normal lah, jangan naik semua tinggi semua naiknya. Ya pak susah terlalu tinggi, kebutuhan lain banyak," keluh Kurniawan, seorang pembeli bahan pangan.

Baca Juga: Hadapi Gejolak Harga, Surabaya Alihkan Urban Farming ke Cabai dan Bawang

Baik pedagang pasar maupun masyarakat berharap pemerintah dapat melakukan stabilisasi harga untuk meringankan beban mereka. Kenaikan harga bahan pangan jelang Nataru memang menjadi fenomena tahunan yang kerap terjadi. Namun, diharapkan pemerintah dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk menekan kenaikan harga, seperti operasi pasar atau subsidi biaya angkut.

Kenaikan harga sejumlah bahan pangan jelang Nataru di Surabaya menjadi bukti bahwa kebutuhan pokok masyarakat rentan terhadap fluktuasi harga. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menstabilkan harga dan memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terjangkau.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!

“Insya Allah konstruksinya sudah sesuai. Tiang-tiang utamanya juga masih kuat,” jelas Juru Bicara Anda Advertising, Nana.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya. 

PMI Surabaya dan Solo Jajaki Kerja Sama "Sister City" dalam Kunjungan Studi Banding

“Melihat potensi kedua kota, kami mengusulkan adanya kerja sama antata Surabaya dan Solo,” jelas Sumartono.