Komisi B Surabaya Nilai Urban Farming Pemkot Kurang Berdampak Tekan Harga Pangan
- Penulis : Ade Resty
- | Kamis, 18 Des 2025 15:07 WIB
selalu.id – Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Yuga Pratisabda Widyawasta, menilai program urban farming yang digencarkan Pemerintah Kota Surabaya belum memberikan dampak signifikan dalam menahan lonjakan harga bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Baca Juga: Cabai Meroket Jelang Nataru, DPRD Nilai Pemkot Lambat Hadapi Gejolak Harga
Yuga menyampaikan, kenaikan harga cabai, bawang, dan komoditas hortikultura lain merupakan pola yang berulang setiap momentum hari besar keagamaan dan seharusnya telah diantisipasi sejak awal.
“Urban farming itu bagus, tapi kalau dilihat dari sisi tonase dibanding kebutuhan warga Surabaya, dampaknya sangat terbatas. Pengaruhnya ke inflasi mungkin hanya sekitar 5 sampai 10 persen. Artinya, ini lebih tepat sebagai alternatif, bukan penopang utama pengendalian harga,” kata Yuga, Rabu (18/12/2025).
Ia menilai, pengendalian inflasi pangan menjelang Nataru perlu lebih bertumpu pada pengamanan pasokan dan distribusi. Menurutnya, koordinasi aktif dengan daerah penghasil, pelaksanaan operasi pasar, serta penguasaan data distribusi oleh PD Pasar menjadi langkah yang lebih menentukan.
Yuga menekankan, ketika daerah penghasil di Jawa Timur mengalami gangguan panen, Pemkot Surabaya seharusnya segera membuka jalur pasokan dari wilayah lain yang memiliki produksi melimpah, seperti Nusa Tenggara Barat atau Jawa Tengah.
“Kalau daerah penghasil utama bermasalah, harus ada langkah cepat mencari pasokan alternatif. Jangan menunggu harga di pasar sudah melonjak tinggi,” tegas politisi PSI tersebut.
Baca Juga: Hadapi Gejolak Harga, Surabaya Alihkan Urban Farming ke Cabai dan Bawang
Meski demikian, Yuga tetap mengapresiasi urban farming sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat perkotaan. Namun, ia mengingatkan agar program tersebut ditempatkan secara proporsional dalam strategi pengendalian inflasi.
“Urban farming tetap penting, kualitas hasil panennya juga baik. Tapi ketahanan pangan kota tidak bisa hanya mengandalkan produksi lokal. Pasokan dari luar daerah dan pengawasan distribusi tetap menjadi kunci,” ujarnya.
Baca Juga: Urban Farming Jadi Strategi Surabaya Hadapi Nataru dan Cuaca Ekstrem
Ia menambahkan, kebijakan pengendalian harga pangan perlu disusun secara menyeluruh dengan menggabungkan data produksi, distribusi, dan pola konsumsi masyarakat, agar intervensi pemerintah lebih tepat sasaran.
Sebelumnya, Pemkot Surabaya melalui Surabaya Urban Farming Competition 2025 menegaskan urban farming sebagai salah satu langkah memperkuat ketahanan pangan kota. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menyebut cabai dan bawang merah dipilih karena kerap menjadi pemicu inflasi saat hari besar dan kondisi cuaca ekstrem.
“Kami mendorong kelompok tani membudidayakan cabai dan bawang agar Surabaya lebih siap menghadapi kenaikan harga menjelang Nataru,” ujar Antiek.
Editor : Ading