Selasa, 03 Feb 2026 22:10 WIB

Hamper dan Parcel, Sejarah hingga Perbedaan Value yang Mungkin Belum Banyak Orang Tahu

  • Penulis : Ade Resty
  • | Sabtu, 15 Apr 2023 14:46 WIB
hamper dan parcel
hamper dan parcel

Selalu.id - Memberikan hantaran atau bingkisan adalah salah satu tradisi orang Indonesia, terutama saat perayaan besar diselenggarakan, salah satunya Hari Raya. Mendekati Hari Raya Idul Fitri pun menjadi momentum untuk berbagai hantaran atau bingkisan baik berupa hampers ataupun parcel.

Nah, apa Kawan Selalu tahu ternyata hamper dan parcel berbeda?

Baca Juga: Luffy, Joy Boy dan Kebebasan Absolut

SEJARAH SINGKAT HAMPER DAN PARCEL
Hamper ternyata adalah tradasi orang Prancis di abad 11, loh. Mulanya disebut dengan nama hanapier dan dibuat dari anyaman kayu willow yang digunakan untuk keranjang makanan yang akan dibawa untuk berburu atau perjalanan jauh, semacam bekal gitu. Kemudian, kata hanapier diserap dalam bahasa Inggris pada era Victoria menjadi hamper.

Sedangkan kata parcel sebenarnya berasal dari bahasa Perancis lama, yaitu parcelle yang kemudian diserap dalam bahasa latin menjadi particella. Akan tetapi, kini kata parcel telah diserap dalam bahasa Indonesia dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagai kata baku. Apabila dilihat dari pengertian parcel, maka dapat diketahui bahwa parcel merujuk pada benda yang telah dibungkus dengan rapi serta baik dengan menggunakan kertas maupun bahan lainnya.

Sedangkan kemasan untuk hamper, apabila merujuk dari pengertiannya ialah bingkisan yang ditata dengan menggunakan keranjang. Sesuai dengan sejarah hampers yang pertama kali digunakan di Prancis dan Inggris, hampers merupakan bingkisan yang dikemas dengan menggunakan keranjang yang terbuat dari anyaman.

Pada tahun 1066, Kerajaan Inggris oleh pemerintahan Raja William, mulai melakukan tradisi mengirimkan hamper. Tapi mengirimkan hamper ini bukan sebagai bingkisan, melainkan untuk menyumbang kebutuhan pokok yang mayoritas isinya makanan kepada orang yang membutuhkan. Lambat laun, hamper dikenal sebagai bingkisan makanan yang pengguaannya lebih fleksible, seperti untuk bekal, hadiah dan sebagainya.

Sedangkan parcel, pada mulanya juga banyak dijadikan hadiah oleh orang muslim di India. Biasanya berisi permen yang dibungkus untuk hadiah Idul Fitri. Selain mengirimkan parcel, masyarakat muslim di India juga menyelipkan beberapa uang yang disebut sebagai Eidi dari para orang tua untuk anak-anak.

Selain di India, masyarakat muslim di China yang bertempat tinggal di daerah Lhasa pun memiliki kebiasaan mengirimkan parcel. Kebiasaan mengirimkan parcel ini juga disebutkan dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh Xiachun Yang tahun 2011 mengenai warga muslim di Lhasa yang sering bertukar parcel dengan tetangga yang berasal dari etnis Tibet dan Han. Bertukar parcel di China tidak hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Akan tetapi, juga dilakukan ketika Festival Musim Semi China diadakan.

Baca Juga: Pinter lewat Instagram! Ini Rekomendasi Akun Bikin Followersnya Nambah Pengetahuan Filsafat dan Literasi

Sedangkan di Indonesia, mengirimkan parcel dan hampers ternyata telah dimulai sejak masa penjajahan. Di mana perempuan akan mengirimkan bingkisan berisi makanan kepada keluarga yang tengah berperang. Usai perang berakhir, tradisi mengirimkan bingkisan berisi makanan tersebut masih terus berlanjut hingga Natal ataupun Ramadan tiba atau momen spesial lainnya.

KEMASAN YANG BERBEDA
Tapi hampers dan parcel kemudian merupakan dua jenis bingkisan yang berbeda. Hampers masih mempertahankan kualitas kotak bingkisannya yang sedari mulanya berawal dari bahan kayu yang kokoh sedangkan parcel meski sudah semakin berkembang, bingkisannya masih dipergunakan sebatas sebagai ornamen atau pembungkus belaka.

Variasi hiasan yang digunakan untuk mengemas pun berbeda, pada hamper ornamenanya dibuat dengan lebih artistik dan ekslusif, seperti bunga handcraft ataupun ornamen custom lainnya. Sedangkan parcel hiasannya ditambahkan untuk sisi artistik yang lebih umum.

ISIAN
Kedua bingkisan ini sama-sama ditujukan untuk memberikan paket yang berguna bagi penerimanya. Namun, paket hamper lebih mengedepankan subtasi atau barang yang bisa digunakan lebih lama daripada parcel.
Contoh: Pada isian makanan, hamper lebih mengedepankan bagaimana makanan itu di memiliki nilai yang ergonomis sedangkan parcel lebih mengendepankan sisi konsumtif. Oleh karenanya, biasanya isian hamper terasa lebih istimewa dan dibuat dengan sentuhan 'spesial'.

Baca Juga: Belum Lengkap Euforia Oppenheimer kalau Kalian Gak Tahu Soal Ini!

HARGA
Baik pada hamper maupun parcel, harga bisa sangat beragam tergantung pada isian dan besaran, tetapi karena hamper mengedepannya kualitas dari material yang ergonomis, sustainability atau berkelanjutan, dan custom aestetic maka harga hamper cenderung lebih mahal daripada parcel yang biasanya isian dan kemasannya dibuat dari produk-produk yang sudah umum ada dipasaran.

 Itu dia Kawan Selalu, perbedaan dari hamper dan parcel. Sudahkah berbagai bingkisan untuk menyambut lebaran tahun ini?

 

Editor : Ading
Berita Terbaru

Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!

“Insya Allah konstruksinya sudah sesuai. Tiang-tiang utamanya juga masih kuat,” jelas Juru Bicara Anda Advertising, Nana.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya. 

PMI Surabaya dan Solo Jajaki Kerja Sama "Sister City" dalam Kunjungan Studi Banding

“Melihat potensi kedua kota, kami mengusulkan adanya kerja sama antata Surabaya dan Solo,” jelas Sumartono.