Kronologi Pembunuhan Mahasiswi UMM, Tersangka Sekap Korban dari Probolinggo
- Penulis : Dony Maulana
- | Rabu, 14 Jan 2026 14:36 WIB
selalu.id Detil pembunuhan Faradila Amelia Najwa (21), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), terungkap dalam rekonstruksi yang digelar Polda Jawa Timur pada Selasa (13/1/2026). Dua tersangka, Bripka Agus Sulaiman dan Suyitno, memperagakan 14 adegan yang menggambarkan rangkaian penyekapan hingga pembuangan jasad korban.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur menjelaskan, pembunuhan bermula dari penyekapan korban di rumah milik Bripka Agus di Probolinggo. Rumah tersebut disebut merupakan pemberian orang tua tersangka.
Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Pembunuhan di Wonokusumo, Tersangka Utama Ditangkap di Sampang
"Intinya korban sudah disekap sejak dari rumah di Probolinggo. Di rumah itu tempat penyekapan. Itu rumah si (Bripka) Agus pemberian dari orangtuanya," ujar Jumhur.
Setelah korban disekap, kedua tersangka membawa Faradila dari Probolinggo menuju Kabupaten Batu, lalu melanjutkan perjalanan ke arah Cangar. Namun, rencana awal untuk mengeksekusi korban di kawasan Cangar sempat dibatalkan.
"Jadi mereka perjalanan dari Probolinggo ke Batu, lalu ke Cangar. Di sana, korban diduga hendak dieksekusi. Tapi tidak jadi, lalu balik lagi ke Batu, antara Cangar dan Batu korban lalu dieksekusi," tegas Jumhur.
Baca Juga: Pria Tewas Dengan Luka Bacok di Wonokusumo Surabaya, Identitas Belum Diketahui
Selama perjalanan, korban berada dalam kondisi tangan dan kaki terikat serta wajah dibekap lakban. Pembunuhan dilakukan di dalam mobil dengan cara mencekik korban secara bergantian.
"Pertama yang mencekik itu tersangka Suyitno, baru kemudian si Agus, dan mati. Setelah memastikan korban tak bernyawa, dua pelaku melepas lakban saat perjalanan ke Pasuruan, lokasi pembuangan," jelas Jumhur.
Baca Juga: Rekonstruksi Pembunuhan Mahasiswi UMM, 14 Adegan dari Penyekapan hingga Pembuangan Jasad
Jumhur juga mengungkapkan bahwa kedua tersangka sempat menyusun skenario untuk mengelabui penyelidikan dengan membeli helm, guna membuat peristiwa tersebut seolah-olah merupakan aksi kejahatan begal.
"Jadi mereka ini menyetting seolah korban ini korban begal," pungkasnya.
Editor : Ading