Kamis, 22 Okt 2026 12:04 WIB

Wali Kota Eri Kritisi Pengembang Perumahan yang Tak Sediakan Lahan Pemakaman

  • Penulis : Ade Resty
  • | Sabtu, 08 Mar 2025 09:15 WIB
Wali Kota Eri Cahyadi
Wali Kota Eri Cahyadi

selalu.id- Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyoroti semakin sempitnya lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang kini hampir penuh.

 

Baca Juga: Hindari Penyekapan, Wali Kota Eri Cahyadi Siapkan Perwali Penyaluran ART di Surabaya

Menurut Eri, penyebab menyempitnya lahan makam di Surabaya ini, salah satunya adalah pengembang perumahan tidak menyediakan lahan pemakaman sebagaimana mestinya. 

 

Ia menegaskan bahwa setiap perumahan seharusnya memiliki lahan makam, namun banyak yang mengabaikan kewajiban tersebut.

 

“Setiap perumahan harus menyediakan lahan makam, setiap kampung juga jangan dibangun semua. Kalau mereka punya tanah kavlingan, harusnya menghitung berapa makam yang disediakan. Selama ini kan nggak dihitung, padahal itu kewajiban,” ujar Eri, kepada Selalu.id, Jumat (7/3/2025).

 

Kondisi ini semakin terasa karena banyak TPU Surabaya yang sudah penuh. Bahkan, kata dia, beberapa makam sudah menerapkan sistem tumpang sebagai solusi terakhir. TPU Keputih dan Babat Jerawat, misalnya, sudah mencapai kapasitas maksimal.

 

“Ya memang terpaksa tumpang tindih kalau tidak ada lahan. Kalau tidak seperti itu, Surabaya makin kehabisan tempat. Di Mekah pun sudah seperti itu. Ini yang sedang kita hitung dan evaluasi,” jelasnya.

 

Eri juga mengungkapkan bahwa Pemkot Surabaya harus mempertimbangkan skala prioritas dalam penggunaan anggaran. 

Baca Juga: Influenza A Naik di Surabaya, Dinkes Minta Warga Tak Merespon Berlebihan

 

Ia menilai bahwa pengadaan lahan makam baru membutuhkan biaya besar, sementara pemerintah juga harus mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan kesehatan gratis.

 

“Beli lahan makam itu nggak murah. Per meter bisa Rp4 juta–Rp5 juta, kalau puluhan hektare? Itu uangnya bisa buat berapa orang berobat gratis? Berapa mahasiswa bisa sekolah sarjana? Nah, ini yang harus dipilih, mana yang lebih prioritas,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan bahwa sistem tumpang menjadi solusi yang diperbolehkan, terutama bagi keluarga yang memiliki makam lama.

Baca Juga: Tasyakuran HUT ke-81 dengan Nobar Film Kemerdekaan, Wali Kota Eri Cahyadi jadi Aktornya

 

“Misalnya ada orang tua yang dulu dimakamkan, lalu anggota keluarga lain ingin dimakamkan di tempat yang sama, itu bisa. Bahkan ada yang sampai tumpang tiga atau empat, dan secara agama tidak masalah,” ujarnya.

 

Selain itu, ia juga menyebut bahwa masih ada banyak makam kampung yang dikelola warga. Namun, karena beberapa di antaranya berbayar, banyak warga yang akhirnya memilih TPU milik Pemkot yang gratis.

 

“Pemkot hanya mengelola 13 TPU plus satu krematorium. Sementara ada sekitar 300 makam kampung yang dikelola warga. Karena makam kampung kadang berbayar, banyak yang beralih ke TPU Pemkot,” jelas Dedik.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Perampokan Toko Emas di Jember, Pelaku Bawa Tas Isi mata Uang Asing dan Valas Raib

Pelaku juga membacok pemilik toko emas murni Aliong dan ibunya.

67 Bangunan Liar di Frontage Road Sidoarjo Diratakan

selalu.id - Pemkab Sidoarjo menurunkan sekitar 600 personel gabungan untuk membongkar 67 bangunan liar di sepanjang frontage road di Kecamatan Waru, Gedangan,

Top 5 Berita: Klaim Utang Mendiang Suami hingga Hasil Liga Champions

Pembaca tertarik berita utang piutang hingga ekonomi.

Hasil Liga Champions: Como Bantai Manchester United 4-1, Setan Merah Tak Berkutik

Nico Paz jadi bintang lapangan. Gelandang muda Argentina itu mencetak 2 gol dan 1 assist.

Antisipasi Kekeringan, Pemkab Mojokerto Salurkan 84 Tangki Air Bersih ke Trawas dan Ngoro

Langkah Pemkab Mojokerto ini diharapkan dapat meringankan beban warga selama musim kemarau dan memastikan kebutuhan air bersih terpenuhi hingga musim hujan.

Polda Jatim Luncurkan Polisi Jogo Sekolah, Bentengi Siswa dari Bullying dan Narkoba

Irjen Dekananto memastikan Polisi Jogo Sekolah tidak akan berhenti sebagai kegiatan seremonial belaka, melainkan memberi manfaat nyata bagi pendidikan di Jatim.