Potensi Peralihan Suara Jika Pilpres 2024 Dua Putaran, Begini Kata Pengamat
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 09 Jan 2024 19:59 WIB
selalu.id - Mendekati Pilpres 2024, persaingan politik yang terjadi dengan skema tiga pasangan calon pun semakin ketat. Untuk itu, pengamat politik menilai bahwa pendukung masing-masing calon bisa jadi masih akan menjaga fanatismenya meski terjadi dua putaran pemilu.
Oleh karenanya isu jika pemilih dari paslon-paslon akan beralih mendukung paslon yang menang di putaran pertama pemilu pun bisa jadi tidak terwujud. Hal tersebut pun menjadi sorotan tersendiri bagi pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura UTM) Surokim Abdussalam Surokim.
Baca Juga: Pengamat Pertanyakan Protokoler Wawali Armuji saat ke Yai Mim Malang
“Jika pilpres berlangsung dua putaran tentu tidak otomatis dan juga belum tentu yang kalah akan mengeroyok yang menang,” kata Pengamat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam Surokim, saat dihubungi selalu.id (9/1/2024).
Ia menilai setiap paslon Pilpres 2024 mempunyai voters yang beragam. Sehingga, jika putaran satu nantinya yang kalah akan mendukung salah satu paslon putaran kedua, ia menilai hal itu akan dinamis.
“Voters kita beragam ada logika elit dan logika voters bawah yang tidak selalu linier. Ya memang ada yang strike mengikuti tetapi juga ada yang split tidak mengikuti. Jadi masih selalu dinamis,” ujarnya.
Baca Juga: Plt PDIP Surabaya Tak Mampu Redam Konflik Internal, Ini Saran Pengamat
Tak hanya itu, Surokim menilai nantinya para pemilih yang sudah mendukung kedua paslon Ganjar-Mahfud dan Anies-Cak Imin, tidak menutup kemungkinan memilih untuk golong putih (Golput) untuk menjaga fanatismenya.
“Bisa jadi yang gak sreg akan juga bisa golput khususnya pemilih-pemilih fanatik dan ideologis,” ungkapnya.
Baca Juga: Rombongan Paslon Bupati Sampang Diserang, 1 Orang Tewas, Polda Jatim Buru Pelaku
Meski begitu, dukungan menyatu ini bisa terjadi apabila ada instruksi dari politik elit yang mendukung kedua Paslon. Ia menilai hal itu belum tentu efektif.
“Bisa dilakukan intsruksi, elit tetapi itu juga belum tentu efektif untuk konteks pemilih saat ini yang lebih independen,” pungkasnya.
Editor : Ading