Jumat, 04 Sep 2026 17:12 WIB

Keluh Kesah Biduan Dangdut Surabaya Akibat 'Digoyang' Pandemi Covid-19

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 13 Sep 2020 14:53 WIB
Para biduan saat acara Kopdar APSI Surabaya. (Dari kiri ke kanan) Dessy Arisandi, Reza Amorza, Tutus Monica, dan Nuriska Pramyta
Para biduan saat acara Kopdar APSI Surabaya. (Dari kiri ke kanan) Dessy Arisandi, Reza Amorza, Tutus Monica, dan Nuriska Pramyta

Surabaya (selalu.id) - Meski telah diperbolehkan manggung, namun puluhan biduan Surabaya mengeluh lantaran sepinya job di masa pandemi Covid-19 ini.

Sepinya job tersebut disebut lantaran masih banyaknya larangan panggung dangdut atau electone di beberapa wilayah di Surabaya.

Baca Juga: Ketika Korban Penganiayaan di Surabaya Diintimidasi dan Ditawari Uang Damai Rp150 Juta

Nuriska Pramyta, salah satu Biduan yang ikuti kopdar APSI Surabaya, di gedung Cak Durasim, Sabtu (12/9/2020) malam mengatakan bahwa masih sebagian Biduan yang bisa mendapatkan job manggung. 

"Sebagian sudah bisa manggung, job-joban, sebagian ada yang belum. Jadi belum lancar seperti dahulu, masih ada yang ragu memberikan ijin, seperti pihak-pihak tertentu," ujarnya.

Saat ditanya pihak mana saja yang tak mengizinkan adanya panggung dangdut, meskipun sudah menjalankan protokol kesehatan, Nuriska menjawab, jika penolakan kebanyakan dari perangkat kampung dan Kepolisian setempat. 

"Dari RT, RW, Kelurahan, Polsek. Malah kalau Polrestabes tau semua, pasti ngebolehin. Sudah tau soal Aliansi Pekerja Seni Indonesia (APSI) Surabaya. Ada beberapa yang enggak boleh, dan itu tertentu sih mas kalau dari wilayahnya," imbuhnya. 

Baca Juga: Hapus Stigma Kampungan, Kanwil Kemenag Jatim Gelar Expo Madrasah 2026

Ia menerangkan, susahnya para biduan mendapatkan ijin manggung, mayoritas di daerah Surabaya Barat. 

"Di daerah Surabaya Utara sudah banyak yang bisa, tetapi tergantung dari kampungnya. Kalau untuk Surabaya Barat yang belum bisa, dan kebanyakan dari perangkat RT, RW, Kelurahan, dan Polsek setempat," jelasnya. 

Alasan para perangkat tersebut, karena masih ragu dalam memberi ijin. Padahal, keinginan para biduan untuk mendapatkan job nyanyi sudah tinggi. 

Baca Juga: Tragedi Berdarah di Diskotek Triple X Surabaya: Pemuda Dikeroyok Brutal, Kepala Dihantam Paving

"Kadang dipersulit, mungkin masih ragu mereka memberikan ijin, padahal kita sudah ijin. Keinginannya seperti yang dahulu, normal lagi, bisa bekerja lagi, kasihankan yang butuh pemasukan, seperti janda seperti saya ini," jelas Nuriska. 

Sementara, Biduan lain yang juga ada di lokasi kopdar APSI Surabaya, Reza Amorza, menjelaskan perihal kopdar kali ini, yang didatangi oleh banyak pihak seperti APSI pusat, dan Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur. 

"Ini Kopdar untuk silaturahmi, dan mempererat, khususnya anggota APSI Surabaya wilayah Barat. Sebagian juga ada pengurus APSI pusat, yang datang ke Korwil Surabaya Barat," pungkasnya.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Kemenag Jatim dan Baznas Kirim 27 Ton Bantuan Logistik untuk Korban Bencana di NTT

Pengiriman ini merupakan hasil kolaborasi bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jatim dan Forum Zakat (FOZ) Jatim.

Ternyata Banyak Sarjana di Surabaya Belum Update KK, Disdukcapil Wanti-wanti Begini

Irvan menekankan, kesadaran memperbarui data kependudukan kian krusial menyongsong era integrasi data nasional dan pengembangan Digital Public Infrastructure.

Korban Keracunan MBG Sidoarjo Tembus 730 Orang, BGN-SPPG Malah Mangkir di Hearing DPRD

Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, Usman, mendesak audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh dapur penyedia program MBG.

Sambut Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Cabang Mojokerto Beri Kejutan Haru untuk Nasabah

Momen tahunan ini dimanfaatkan sebagai wadah menyapa langsung sekaligus mendekatkan diri dengan nasabah setia.

Tak Cuma Fisik, Dinkes Sidoarjo Gelar Rapid Asesmen Jiwa Pulihkan Trauma Santri Keracunan MBG

Langkah rapid asesmen ini menegaskan komitmen Pemkab Sidoarjo bahwa penanganan darurat MBG dilakukan secara menyeluruh hingga aspek psikologis korban pulih.

Tiga OPD Pemkab Jember Sabet Penghargaan Public Service of The Year 2026

Gus Fawait menegaskan apresiasi ini bukan sekadar piala biasa, melainkan pelecut semangat agar Pemkab Jember terus melahirkan terobosan baru.