Leptospirosis Tak Bisa Disepelekan, Penyebab Weil, Gagal Ginjal Hingga Pendarahan Otak
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 14 Mar 2023 16:00 WIB
Selalu.id - Penyakit Leptospirosis telah menjadi momok yang terus diwaspadai. Meski belum terdapat satu pun kasus leptospirosis di Surabaya, tapi setidaknya sudah terdapat 249 orang menderita penyakit kencing tikus dan belasan di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Baca Juga: Ternyata Bukan Hanya Tikus, Leptospirosis Juga Bisa Disebabkan Hewan-hewan Ini
Dari data yang dihimpun Selalu.id, terdapat beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa leptospirosis adalah anjing, tikus, sapi, dan babi. Bakteri Leptospira interrogans dapat bertahan hidup selama beberapa tahun dalam ginjal hewan yang terinfeksi. Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui kontak langsung dengan paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi oleh urine dari hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, leptospirosis banyak terjadi di daerah yang terkena banjir dan pada area di mana terdapat hewan-hewan yang rentan terinfeksi.
Meski demikian tikus menjadi agen pembawa penyakit paling dominan, karena tikus hidup ditempat kotor dan lebih banyak bermunculan ketika banjir. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus berupa bakteri yang masuk melalui kulit yang lecet atau selaput lendir pada saat kontak dengan banjir atau genangan air sungai hingga selokan dan lumpur.
Dihimpun dari berbagai sumber, leptospirosis ini dikenal juga sebagai penyakit Weil yang ditandai dengan adanya nyeri pada dada serta pembengkakan pada tangan dan kaki. Melalui website resminya, kemenkes.go.id pun memberikan berbagai informasi terkait leptospirosis yang dapat menyebabkan gejala tingkat rendah hingga tingkat tinggi.
Penderita leptospirosis umumnya menunjukkan gejala tingkat rendah sekitar dua minggu hingga sebulan setelah infeksi terjadi. Tanda dan gejala yang muncul umumnya adalah mual dan muntah, demam dan meriang, nyeri kepala, nyeri perut, nyeri otot, diare, jaundice (kekuningan pada kulit dan sclera mata), konjungtivitis, serta ruam pada kulit. Jika mendapatkan pengobatan yang adekuat dan penderita memiliki kekebalan tubuh yang baik, penderita leptospirosis umumnya akan pulih dalam waktu satu minggu.
Sedangkan gejala tingkat berat biasa disebut dengan penyakit Weil ini menunjukkan penyakit ginjal akut, ikterus (kuning) karena terganggunya hati, serangan jantung, dan perdarahan di paru, saluran cerna atau di otak yang menyebabkan kematian. Leptospira masuk ke dalam tubuh kita melalui kulit yang terluka atau lapisan mukosa (selaput lendir) mulut, saluran cerna, saluran hidung dan selaput mata. Kuman Leptospira mengikuti aliran darah menuju seluruh tubuh dan menyerang organ-organ penting seperti: hati, jantung, ginjal, paru dan otak.
Baca Juga: Leptoslirosis Belum Ada di Surabaya, Kerja Preventif Pemkot Diapreasiasi Komisi D DPRD
Sedangkan dr. Muchlis Achsan Udji Sofro,SpPD-KPTI,FINASIM dari RSUP Dr.Kariadi dalam unggahan di website resmi RS Kariadi, rskariadi.co.id mengatakan bahwa Gejala klinis Leptospirosis bervariasi, mulai sakit ringan (Leptospirosis ringan) hingga Leptospirosis Berat (seluruh tubuh berwarna kuning seperti sakit Hepatitis, timbul perdarahan misalnya: mimisan, batuk darah, muntah darah, berak darah, perdarahan di otak hingga pasien mengalami koma).
Leptospirosis ringan (90% kasus Leptospirosis) ditandai : demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri perut, mual dan muntah. Pasien sering datang ke dokter dengan keluhan mirip sakit influenza. Pemeriksaan laborat acapkali didapatkan: leukositosis (peningkatan jumlah leukosit), dan trombositopeni (penurunan jumlah trombosit) sehingga kadang dianggap sebagai demam berdarah. Dengan antibiotik golongan dasar sudah dapat disembuhkan sempurna.
Leptospirosis Berat (10% kasus Leptospirosis) didapatkan kelainan organ tubuh: ginjal (penurunan fungsi ginjal). Pasien datang ke dokter dengan demam dan penurunan produksi urin, sesak nafas karena penumpukan cairan di paru. Perdarahan di paru (batuk darah), sebagian pasien leptospirosis berat masuk ke Rumah Sakit dianggap Tuberkulosis Paru karena batuk darah.
Baca Juga: Waspada! Leptoslirosis, Penyakit Kencing Tikus Mematikan Telah Masuk Jatim, Begini Cirinya.
Komplikasi di jantung mengalami miokarditis (gangguan otot jantung) yang menyebabkan nyeri dada dan mati mendadak. Sebagian pasien dengan serangan jantung dan demam setelah diperiksa ternyata Leptospirosis yang berkomplikasi ke Jantung. Setelah dikelola Leptospirosis mengalami perbaikan serangan jantungnya. Kadang Leptospriosis berat menglami perdarahan di otak (mirip stroke).
Komplikasi di organ target tersebut tergantung virulensi (keganasan) kuman Leptospira, jenis (strain yang berjumlah 32 buah) dan status kekebalan tubuh pasien.
Semua pasien Leptospirosis berat menunjukkan gejala demam yang tinggi (lebih dari 39 C) pada dua hari pertama, dan bisa berlangsung sampai 8 hari. Selanjutnya muncul gejala kuning (ikterus) di mata, kulit, dan air kencing yang berwarna kuning tua seperti air teh, sehingga sering saat pertama kali terdiagnosis dianggap sebagai Hepatitis akut.
Sebagian besar Leptospirosis Berat mengalami perdarahan (hampir 70%). Perdarahan ini bisa perdarahan di bawah kulit (bintik-bintik kemerahan), perdarahan gusi dan langit-langit mulut, mimisan, perdarahan saluran cerna (muntah darah, berak darah), perdarahan paru (batuk darah) dan perdarahan otak (mirip Stroke: sakit kepala, sulit tidur, gangguan kesadaran, dan kekakuan leher). Gejala saluran cerna yang dikeluhkan pasien: nafsu makan menurun, susah buang air besar, mual, muntah, nyeri perut, kembung dan cegukan. (Adg)
Editor : Ading