Waspada! Leptoslirosis, Penyakit Kencing Tikus Mematikan Telah Masuk Jatim, Begini Cirinya.
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 14 Mar 2023 10:29 WIB
Selalu.id - Leptospirosis atau penyakit kencing tikus. Penyakit yang biasanya datang saat musim penghujan berbarengan dengan merebaknya DBD.
Penyakit leptospirosis yang lambat ditangani bisa menyebabkan komplikasi yang menyerang organ lain seperti gangguan pada otak (meningitis), pembuluh darah di paru-paru bocor, gagal ginjal, gagal jantung, kelumpuhan hingga kematian.
Saat ini pun, angka kasus penyakit leptospirosis atau kencing tikus di Jawa Timur tercatat sebanyak 249 kasus hingga 5 Maret 2023. Diketahui angka tersebut diprediksi meningkat saat musim penghujan, bahkan belasan orang di Jatim meninggal dunia.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes)Surabaya Nanik Sukristisna menyebut di Kota Surabaya masih belum menemukan kasus leptospirosis.
"Belum ada kasus (Leptospirosis di Surabaya)," kata Nanik saat dihubungi, Selasa (13/3/2023).
Nanik mengatakan, Dinkes Surabaya tetap waspada dan melakukan upaya antisipasi menangani penyakit tersebut.
Salah satunya bekerjasama dengan institusi lain seperti BBTKL & PP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit). Pihaknya juga melakukan pemantauan di beberapa wilayah khususnya wilayah padat dan rawan banjir.
"Melakukan surveilance pemeriksaan sentinel tikus dan survei kepadatan tikus di beberapa wilayah di Kota Surabaya, khususnya wilayah padat penduduk dan rawan terjadinya banjir,” ujarnya.
Pemkot Surabaya melalui Dinkes juga sudah mengeluarkan surat edaran (SE) untuk kewaspadaan dini dan menyiapkan seluruh fasilitas kesehatan (faskes).
Dinkes Surabaya juga telah melakukan sosialisasi di seluruh faskes agar masyarakat mengetahui dan waspada gejala-gejala penyakit leptospirosis.
"Melakukan deseminasi informasi di faskes mengenai penyakit leptospirosis melalui media KIE berupa leaflet, poster, penyuluhan terhadap masyarakan dan media sosial," katanya.
Lebih lanjut Nanik menambahkan, pihaknya melakukan monitoring intensif puskesmas mau pun rumah sakit jika ditemukan kasus Leptospirosis.
“Monitoring dan evaluasi intensif secara rutin setiap minggu pada aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) di tingkat Pusk dan RS," terangnya.
Diketahui melalui data Dinkes Jawa Timur, tercatat dari total 249 kasus, terbanyak ditemukan di Pacitan dengan 204 kasus dengan jumlah kematian 6 orang. Kemudian disusul Kabupaten Probolinggo 3 kasus dengan kematian 2 orang, dan Kota Probolinggo 5 kasus dengan kematian 1 orang.
Sementara di Gresik terdapat 3 kasus, Lumajang 8 kasus, Sampang 22 kasus, dan Tulungagung 4 kasus. Diketahui, gejala penyakit ini mirip seperti DBD. Leptospirosis sendiri disebabkan oleh bakteri leptospira. (Ade/ADG)
Baca Juga: Ternyata Bukan Hanya Tikus, Leptospirosis Juga Bisa Disebabkan Hewan-hewan Ini
Editor : Ading