Ternyata Bukan Hanya Tikus, Leptospirosis Juga Bisa Disebabkan Hewan-hewan Ini
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 14 Mar 2023 12:59 WIB
Selalu.id - Penyakit leptosporisis masih awam di telinga banyak orang, yang nyatanya diam-diam telah merebak di Jawa Timur dan menyebabkan setidaknya 249 orang tertular dengan belasan kasus kematian.
Leptospirosis atau yang biasa disebut penyakit kencing tikus ini kerap terjadi di musim penghujan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Lucia Tri Suwanti mengatakan bahwa Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira Sp yang pada umumnya ditularkan melalui kencing tikus.
Prof Dr Lucia menjelaskan, kasus leptospirosis sejatinya tidak hanya ditularkan oleh tikus, melainkan semua hewan yang terkontaminasi oleh bakteri Leptospira Sp bisa menjadi agen penularan. Oleh karenanya, Prof Dr Lucia menghimbau untuk mewaspadai hewan-hewan lainnya yang mungkin menjadi agen penyebaran leptospirosis.
“Tikus itu memang agen penyakit. Salah satunya leptospirosis. Tapi, saya pernah menemukan kasus unik yang mana anak bimbingan saya itu meneliti adanya leptospirosis dari seorang peternak yang ternaknya tidak pernah dimandikan,” ujar Prof Dr Lucia, Selasa (14/3/2023).
Kasus peternak, Prof Dr Lucia menyebut karena kondisi kandang yang tidak dibersihkan dengan baik. Hal itu membuat ternak menjadi kotor dan ketika peternak itu berkontak langsung dengan hewan ternaknya, maka menyebabkan infeksi leptospirosis.
“Kalau dari udara tidak menular, tapi kalau dari luka yang terbuka kemudian makanan dan minuman itu pasti,” ucapnya.
Prof Dr Lucia juga menuturkan bahwa leptospirosis tidak menular dari manusia ke manusia lainnya. Sebab, manusia adalah inang terakhir.
“Namun perlu diwaspadai juga mengingat pada dasarnya penularan antar hewan masih dapat terjadi,” terangnya.
Lebih lanjut Prof Dr Lucia menjelaskan terkait pencegahan yang perlu diwaspadai adalah kebersihan lingkungan. Terlebih saat musibah banjir.
“Budayakan untuk selalu menggunakan sepatu anti boots, sarung tangan, dan rajin mencuci tangan,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar mengelola bangkai tikus dengan baik. Hal itu bisa dilakukan dengan membakar atau mengubur.
“Dengan demikian diharapkan bangkai tersebut tidak dimakan oleh binatang lain sehingga meminimalisir potensi penyakit yang bisa ditularkan,” pungkasnya. (Ade/adg)
Baca Juga: Leptoslirosis Belum Ada di Surabaya, Kerja Preventif Pemkot Diapreasiasi Komisi D DPRD
Editor : Ading