Rabu, 22 Jul 2026 00:19 WIB

Sikapi Tragedi Kanjuruhan, Pembina Syubbanul Muslimin Sebut PSSI Harus Berbenah

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 04 Okt 2022 15:39 WIB
Pembina majelis Syubbanul Muslimin Pengasuh Pon Pes Nurul Qadim Probolinggo Jawa Timur, H Hafidzul Hakim Noer
Pembina majelis Syubbanul Muslimin Pengasuh Pon Pes Nurul Qadim Probolinggo Jawa Timur, H Hafidzul Hakim Noer

selalu.id - Pembina majelis Syubbanul Muslimin Pengasuh Pon Pes Nurul Qadim Probolinggo Jawa Timur, H Hafidzul Hakim Noer ikut prihatin atas Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Gus Hafidz mengungkapkan, tragedi tersebut harus ditangani dengan objektif dan kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi dunia sepak bola.

Baca Juga: Setelah Lumat Singo Edan, Bajul Ijo Taklukkan Badai Pasifik

"Menurut saya peristiwa ini bukanlah kesalahan siapa siapa, di dalam kondisi seperti ini jangan kita mencari siapa yang salah, Tetapi saatnya kita intropeksi mungkin ini teguran dari Allah yang kadang kita lalai,"ungkap Gus Hafidz, melalui keterangannya, Selasa (4/10/2022).

Menurutnya, Kepolisian atau TNI sudah menjalankan prosedur yang benar. Namun, tentunya kejadian tersebut juga terjadi diluar nalar.

"Tentunya Polisi tidak akan bertindak kalau tidak ada api, memang simalakama ya menjadi polisi,"ujarnya.

Menurutnya, Indonesia harus berbenah dari segala bidang, khususnya dunia sepak bola tanah air. Ia menyebut masyarakat harus bijak dengan media sosial

Baca Juga: Hasil Super League: Persebaya Surabaya Bantai Arema FC 0-4

"Pesan saya, kita harus dewasa dalam ber medsos , sebab di Indonesia ini kan maha benar netizen atas semua pendapatnya,"ucapnya.

Lebih lanjut Hafidz menjelaskan, dalam kasus tragedi Kanjuruhan tersebut harus ditangani dengan bijak dan tak boleh menyudutkan pihak satu sama yang lain.

"Kita Intropeksi diri agar kedepan sepak bola Indonesia lebih baik lagi dan TNI Polri dapat tetap menjaga rakyat indonesia, apalagi kita melihat jasa mereka untuk mengamankan Indonesia juga besar,"tuturnya.

Baca Juga: Kapolda Jatim Satukan Aremania dan Bonek, Sepakat Tak Ada Rivalitas di Luar Lapangan

Ia menambahkan, untuk suporter juga tidak perlu disalahkn. Sebab, mereka hanya mengalami kekecewaan adanya dugaan wasit yang kurang fair.

Apalagi, kepercayaan publik saat ini terhadap PSSI juga menjadi kondisi yang tidak baik. Hal tersebut harus dibenahi, jika tidak dunia sepak bola tak pernah menjadi baik karena hanya untuk kepentingan.

"Untuk itu saatnya kita berbenah agar PSSI menjadi wadah para pesepak bola yang memiliki kompetensi apalagi kita akan menjadi tuan rumah Piala Dunia, tentu seyogyanya PSSI cepat berbenah demi masa depan Indonesia,"pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.