Begini Tanggapan Mensos Risma Soal Pria Marah di Lokasi Gempa Pasaman Barat
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 01 Mar 2022 20:06 WIB
selalu.id - Sebuah video pengusiran Menteri Sosial Tri Rismaharini oleh seorang pria saat mengunjungi lokasi terdampak gempa di Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat,Sumatera Barat yang viral disebutkan karena pencitraan dibantah oleh Mensos Risma. Menurutnya itu hanya salah paham saja.
Diketahui beredar video yang menjadi viral seorang pria marah-marah kepada Mensos Risma saat mengunjungi lokasi gempa di sumatera Barat, pada Sabtu (26/2/2022). Pria tersebut marah dan berkata "Tidak usah dikunjungi daerah kami," ujarnya dengan ada tinggi.
Baca Juga: Demi Konten, Empat Remaja Kebut Kebutan di Jalan Tol Mojo
Kepada selalu.id, Mensos Risma mengatakan, bahwa kemarahan pria dalam video tersebut lantaran panik karena daerahnya belum mendapat kunjungan dan merasa tidak diperhatikan.
"Hanya salah paham saja, dia itu minta daerahnya dikunjungi," ujar Risma tanpa merinci desa tempat tinggal pria dalam video tersebut.
Risma mengatakan, bahwa kunjungannya tersebut dilakukan secara estafet dan bergantian berdasar kebutuhan bantuan masing-masing daerah terdampak gempa.
Baca Juga: Viral! Pedagang di Kodam Surabaya Pamer Kekayaan, Warganet: Mungkin dia CEO yang Menyamar
"Kan tidak semua bisa didatangi. Skala prioritas, tapi bantuan saya pastikan tersalurkan seluruhnya kepada warga terdampak di semua lokasi," imbuhnya.
Saat ditanya apakah dirinya tersulut emosi atas kemarahan salah satu warga tersebut, Risma mengaku memaklumi dan memahami kondisi psikologis warga tersebut. Menurutnya jika tidak dalam suasana bencana perilakunya mungkin berbeda.
"Tidak lah (marah), saya paham betul warga di sana panik dan membutuhkan bantuan segera. Mereka adalah korban bencana, jadi kita harus bisa memaklumi," imbuhnya.
Baca Juga: Pengamat Sebut Eri Cahyadi Masih Sulit Tandingi Tri Rismaharini
Sebagai seorang pejabat negara dan membawa bantuan, apakah Risma tidak merasa tersinggung dengan perlakuan seorang warga yang dianggap tidak sopan dan berpotensi terjerat hukum tersebut, dengan tegas Risma menjawab tidak.
"Ini sudah resiko pekerjaan. Yang kita hadapi adalah para korban yang panik, bingung dan berduka. Mereka adalah masyarakat dan tugas pemerintah adalah merangkul dan mengayomi mereka. Jadi tidak usah diperbesar lah kejadian itu. Sepenuhnya saya memaklumi dan memahami kondisi psikologis mereka," pungkas Risma. (SL1)
Editor : Redaksi