Senin, 09 Feb 2026 17:50 WIB

Wali Kota Eri Akui Tanggul Lama Pakis Tak Mampu Hadapi Hujan Ekstrem, Pemkot Siapkan Rumah Pompa 

  • Penulis : Ade Resty
  • | Senin, 05 Jan 2026 17:20 WIB
Pemberian sand bag untuk meredam air ke pemukiman
Pemberian sand bag untuk meredam air ke pemukiman

selalu.id - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengakui infrastruktur pengendali banjir lama di kawasan Pakis sudah tidak lagi mampu menghadapi intensitas hujan ekstrem. 

Kondisi tersebut ditandai ambrolnya plengsengan dan melemahnya tanggul lama saat hujan deras mengguyur Surabaya pada Minggu (4/1/2026) sore. 

Baca Juga: Dugaan Korupsi di KBS, Wali Kota Eri Minta Kejati Jatim Usut Tuntas

Eri menjelaskan, derasnya debit air menyebabkan saluran lama di kawasan Pakis, khususnya Pakis 1B, tidak mampu menahan aliran air sehingga ambrol. Situasi ini memaksa Pemkot Surabaya mengambil langkah darurat demi melindungi kawasan permukiman.

“Plengsengan dan tanggul lama di Pakis memang sudah tidak kuat menahan debit air saat hujan ekstrem,” kata Eri, Senin (5/1/2026).

Ia mengungkapkan, untuk mencegah dampak yang lebih luas, Pemkot Surabaya menutup pintu air dan mengalihkan sementara genangan ke badan jalan Mayjen Sungkono, tepatnya di sisi selatan yang berbatasan dengan sungai.

“Kalau pintu air tidak kita tutup, wilayah Pakis bisa tenggelam. Maka genangan sementara kita alihkan ke jalan, itu pun hanya satu sisi. Sisi lainnya tetap aman dan air cepat surut setelah hujan reda,” ujarnya.

Baca Juga: Capaian Satu Tahun Eri-Armuji Pimpin Surabaya

Menurut Eri, langkah tersebut murni bersifat darurat dan dilakukan dalam kondisi hujan dengan intensitas di atas normal. Berdasarkan informasi dari BMKG, hujan lebat yang melanda Surabaya dipengaruhi fenomena siklon tropis, sehingga debit air melonjak tajam dalam waktu singkat.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Surabaya telah menyiapkan pembangunan rumah pompa baru yang akan mengalirkan air ke arah Gunungsari dan Ronggolawe. Proyek tersebut direncanakan mulai dianggarkan pada tahun 2026 sebagai bagian dari pembenahan sistem pengendalian banjir.

“Ke depan, kita siapkan rumah pompa baru karena infrastruktur lama memang tidak dirancang untuk menghadapi hujan dengan intensitas seperti sekarang,” tuturnya.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Percepat Overlay Jalan yang Rawan Genangan saat Hujan

Selain Pakis, Eri menegaskan penanganan banjir tahun 2026 juga akan difokuskan di sejumlah kawasan rawan lainnya, seperti Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, Simo Rejo 1A dan 1B, serta Tanjungsari.

Ia menambahkan, persoalan banjir di wilayah barat Surabaya bersifat menahun dan memerlukan penanganan bertahap dari hulu hingga hilir, termasuk normalisasi sungai, pembangunan bozem, serta penataan ulang aliran air.

“Ini bukan pekerjaan singkat. Tapi satu per satu kita benahi agar kejadian serupa tidak terus berulang,” pungkas Eri.

Editor : Yasin
Berita Terbaru

Menanti Siapa Saja Anggota DPRD Surabaya yang Jadi Tersangka Kasus Bimtek

Kasus ini berpusat pada dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan bimtek bagi anggota DPRD Surabaya yang menyedot anggaran hingga miliaran rupiah.

Tingkatkan Layanan Terminal Peti Kemas, Pelindo Datangkan Alat Bongkar Muat Baru

Alat-alat tersebut rencananya akan mulai tiba secara bertahap pada semester-II tahun 2026.

Kasus Korupsi Bimtek DPRD Surabaya, Siapa yang Akan Jadi Tersangka?

Kasus ini berpusat pada dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan bimtek bagi anggota DPRD Surabaya dengan anggaran miliaran rupiah.

Khofifah Dirujak Netizen usai Mangkir di Sidang Korupsi Dana Hibah Jatim: Pedes Banget!

Tak banyak dari mereka, menyatakan kekhawatiran akan kemungkinan penyelidikan tidak berjalan transparan, hingga menginginkan proses hukum berjalan cepat.

Pesan Khusus Ning Ita pada Insan Pers Dalam Perayaan HPN ke-80 di Mojokerto

Ning Ita mengatakan di tengah berbagai tantangan nasional dan global, pers di daerah memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang menyejukkan.

Temuan Mengejutkan Menteri LH saat Sidak Kebersihan di Surabaya, Langsung Beri Catatan Khusus

“Kalau masih seperti itu, maka agak susah untuk kita tingkatkan nilainya,” tegas Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq.