Kamis, 04 Jun 2026 08:49 WIB

Opini

Ketika Candaan Menjadi Kekerasan: Literasi Komunikasi untuk Menghentikan Bullying

  • Penulis : Ading
  • | Sabtu, 01 Nov 2025 09:16 WIB

Oleh: Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi

Baca Juga: Orang Mati Masih Terdaftar PBI JKN: Potret Rapuhnya Validasi Data Kemensos dan Dukcapil

 

selalu.id - Kasus bullying kembali mencuat di sejumlah sekolah dan kampus. Korban tidak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga trauma psikis yang dalam. Ironisnya, banyak pelaku berdalih bahwa tindakannya sekadar “candaan”. Ungkapan seperti “jangan baper” atau “kan cuma bercanda” seolah menjadi alasan yang membenarkan kekerasan komunikasi. Fenomena ini menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap dampak serius kata-kata yang diucapkan.

 

Bahasa dan Kekuasaan dalam Bullying

Dalam perspektif ilmu komunikasi, bullying bukan hanya tindakan agresi, tetapi bentuk penyalahgunaan kekuasaan simbolik melalui bahasa dan perilaku. Pierre Bourdieu menyebut bahasa sebagai alat dominasi sosial. Ketika seseorang menggunakan komunikasi untuk mempermalukan atau menjatuhkan orang lain, ia sedang mengendalikan martabat orang tersebut.

Pola komunikasi yang tidak setara ini berbahaya karena menormalisasi kekerasan dalam interaksi sosial. Ketika ejekan dianggap lucu dan penghinaan diterima sebagai hiburan, masyarakat tanpa sadar sedang melanggengkan budaya kekerasan simbolik.

 

Rendahnya Literasi Komunikasi dan Empati Sosial

Salah satu akar maraknya perilaku bullying adalah rendahnya literasi komunikasi. Literasi ini tidak hanya berarti kemampuan berbicara atau menulis, tetapi juga mencakup kepekaan empatik—kemampuan memahami dampak pesan terhadap perasaan orang lain.

Sekolah dan kampus perlu menjadikan literasi komunikasi bagian dari pendidikan karakter. Melalui pelatihan komunikasi empatik dan simulasi percakapan, peserta didik dapat belajar bahwa berbicara dengan baik berarti juga berpikir sebelum berbicara.

 

Bullying di Era Digital: Kekerasan Tanpa Sentuhan

Kekerasan kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Cyberbullying melalui komentar, meme, atau unggahan yang menghina dapat menghancurkan kepercayaan diri seseorang tanpa harus berhadapan langsung. Kekerasan semacam ini sering dianggap ringan karena tak meninggalkan luka fisik, padahal efek psikologisnya jauh lebih berat.

Baca Juga: Komitmen Polres Pasuruan dalam Menekan Ancaman Narkoba hingga Judi Online di Sekolahan

Literasi media menjadi sangat penting agar pengguna internet memahami etika berkomentar dan bertanggung jawab atas setiap pesan yang disebarkan. Media sosial harus menjadi ruang yang suportif, bukan tempat reproduksi kekerasan verbal.

 

Peran Media dan Komunikator Publik

Media dan influencer memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik terhadap bullying. Sayangnya, banyak tayangan dan konten yang menampilkan ejekan sebagai hiburan, tanpa sadar menormalkan kekerasan simbolik.

Media seharusnya menjadi agen edukasi yang mempromosikan komunikasi positif dan empatik. Begitu pula para influencer, mereka dapat menjadi teladan dalam menampilkan konten yang menghormati dan menguatkan, bukan merendahkan.

 

Menata Ulang Budaya Komunikasi

Baca Juga: Homeless Media dan Tantangan Kepercayaan Publik

Menghentikan bullying tidak cukup dengan kampanye “Stop Bullying”. Perubahan harus dimulai dari cara kita berkomunikasi setiap hari. Orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu membangun budaya komunikasi terbuka yang berlandaskan empati.

Komunikasi humanis adalah kuncinya—yakni upaya mengembalikan nilai kemanusiaan dalam setiap interaksi. Dengan melihat dari perspektif orang lain, kita belajar bahwa setiap kata memiliki daya membangun atau menghancurkan.

 

Refleksi: Dari Kata ke Kesadaran

Bullying berawal dari kata, maka penyembuhannya juga harus dimulai dari kesadaran berbahasa. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: apakah kata ini menghibur atau melukai? Apakah saya sedang berkomunikasi untuk mendekatkan, atau menjauhkan?

Literasi komunikasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi fondasi moral dalam berinteraksi. Dengan memahami kekuatan pesan, kita dapat mengubah candaan menjadi kebaikan dan menjadikan setiap kata sebagai jembatan empati, bukan sumber luka.

 

Editor : Ading
Berita Terbaru

Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Camat Sukolilo Surabaya, M Aries Hilmi mengatakan telah meminta klarifikasi kepada pengembang terkait status lahan yang dipersoalkan warga. Hasilnya begini.

Beranikah Pemkot Surabaya Tutup Gion Spa, Tempat yang Jadi Eksploitasi Anak?

Fathoni mengatakan predikat Kota Layak Anak yang selama ini disandang Surabaya harus dibuktikan melalui tindakan tegas ketika terjadi kasus eksploitasi anak.

Maling SPPG Itu Bernama Dadan Hindayana

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membenarkan salah satu pemicu Dadan dicopot dari Kepala BGN adalah dugaan jual beli SPPG.

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Ini Dugaan Kasusnya

Saat ditahan, Dadan mengenakan rompi merah muda dengan dikawal penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejagung.

SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan

Plt Direktur Utama PT SIER, Lussi Erniawati, mengatakan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan generasi muda.

Foto: Menikmati Rintik Hujan hingga Kuliner di Jalan Hefang Hangzhou

Sore ini, Rabu, 3 Juni 2026, Jalanan Hefang atau Qinghefang terpantau diguyur hujan. Suasananya syahdu.