Opini
Ketika Candaan Menjadi Kekerasan: Literasi Komunikasi untuk Menghentikan Bullying
- Penulis : Ading
- | Sabtu, 01 Nov 2025 09:16 WIB
Oleh: Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi
Baca Juga: Kebocoran Data Mahasiswa, Bom Waktu di Dunia Pendidikan
selalu.id - Kasus bullying kembali mencuat di sejumlah sekolah dan kampus. Korban tidak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga trauma psikis yang dalam. Ironisnya, banyak pelaku berdalih bahwa tindakannya sekadar “candaan”. Ungkapan seperti “jangan baper” atau “kan cuma bercanda” seolah menjadi alasan yang membenarkan kekerasan komunikasi. Fenomena ini menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap dampak serius kata-kata yang diucapkan.
Bahasa dan Kekuasaan dalam Bullying
Dalam perspektif ilmu komunikasi, bullying bukan hanya tindakan agresi, tetapi bentuk penyalahgunaan kekuasaan simbolik melalui bahasa dan perilaku. Pierre Bourdieu menyebut bahasa sebagai alat dominasi sosial. Ketika seseorang menggunakan komunikasi untuk mempermalukan atau menjatuhkan orang lain, ia sedang mengendalikan martabat orang tersebut.
Pola komunikasi yang tidak setara ini berbahaya karena menormalisasi kekerasan dalam interaksi sosial. Ketika ejekan dianggap lucu dan penghinaan diterima sebagai hiburan, masyarakat tanpa sadar sedang melanggengkan budaya kekerasan simbolik.
Rendahnya Literasi Komunikasi dan Empati Sosial
Salah satu akar maraknya perilaku bullying adalah rendahnya literasi komunikasi. Literasi ini tidak hanya berarti kemampuan berbicara atau menulis, tetapi juga mencakup kepekaan empatik—kemampuan memahami dampak pesan terhadap perasaan orang lain.
Sekolah dan kampus perlu menjadikan literasi komunikasi bagian dari pendidikan karakter. Melalui pelatihan komunikasi empatik dan simulasi percakapan, peserta didik dapat belajar bahwa berbicara dengan baik berarti juga berpikir sebelum berbicara.
Bullying di Era Digital: Kekerasan Tanpa Sentuhan
Kekerasan kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Cyberbullying melalui komentar, meme, atau unggahan yang menghina dapat menghancurkan kepercayaan diri seseorang tanpa harus berhadapan langsung. Kekerasan semacam ini sering dianggap ringan karena tak meninggalkan luka fisik, padahal efek psikologisnya jauh lebih berat.
Baca Juga: Soal Bullying di Sekolah, Program Curhat Sebaya Bakal jadi Solusi Dispendik Surabaya
Literasi media menjadi sangat penting agar pengguna internet memahami etika berkomentar dan bertanggung jawab atas setiap pesan yang disebarkan. Media sosial harus menjadi ruang yang suportif, bukan tempat reproduksi kekerasan verbal.
Peran Media dan Komunikator Publik
Media dan influencer memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik terhadap bullying. Sayangnya, banyak tayangan dan konten yang menampilkan ejekan sebagai hiburan, tanpa sadar menormalkan kekerasan simbolik.
Media seharusnya menjadi agen edukasi yang mempromosikan komunikasi positif dan empatik. Begitu pula para influencer, mereka dapat menjadi teladan dalam menampilkan konten yang menghormati dan menguatkan, bukan merendahkan.
Menata Ulang Budaya Komunikasi
Baca Juga: Redaksi selalu.id dan Wawali Armuji
Menghentikan bullying tidak cukup dengan kampanye “Stop Bullying”. Perubahan harus dimulai dari cara kita berkomunikasi setiap hari. Orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu membangun budaya komunikasi terbuka yang berlandaskan empati.
Komunikasi humanis adalah kuncinya—yakni upaya mengembalikan nilai kemanusiaan dalam setiap interaksi. Dengan melihat dari perspektif orang lain, kita belajar bahwa setiap kata memiliki daya membangun atau menghancurkan.
Refleksi: Dari Kata ke Kesadaran
Bullying berawal dari kata, maka penyembuhannya juga harus dimulai dari kesadaran berbahasa. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: apakah kata ini menghibur atau melukai? Apakah saya sedang berkomunikasi untuk mendekatkan, atau menjauhkan?
Literasi komunikasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi fondasi moral dalam berinteraksi. Dengan memahami kekuatan pesan, kita dapat mengubah candaan menjadi kebaikan dan menjadikan setiap kata sebagai jembatan empati, bukan sumber luka.
Editor : Ading
