Senin, 15 Jul 2024 02:52 WIB

Banjir Barang Impor, Mendag Patok Tarif Bea Masuk 200 Persen

Impor

Impor

selalu.id - Seperti diketahui, sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan alias Zulhas memastikan akan segera menerapkan bea masuk barang impor 100-200 persen.

Hal tersebut dilakukan untuk menekan masuknya barang impor di pasar domestik yang lambat laun akan mematikan sektor industri dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam negeri.

Menurut Mendag, hampir seluruh barang impor siap pakai akan dikenakan bea masuk yang rata-rata berkisar di atas 100 persen. Beberapa di antaranya seperti produk beuty, alas kaki, Pakaian jadi, TPT dan keramik. Seluruhnya akan dikenakan bea masuk di atas 100 persen.

Rencana pemerintah menaikkan bea masuk sebesar 100 hingga 200 persen terhadap produk impor asal China dikhawatirkan bakal berisiko terhadap ekspor Indonesia ke China.

Adapun, rencana pengenaan bea masuk hingga ratusan persen tersebut mencuat sebagai respons atas banjirnya produk tekstil dan keramik impor asal China yang belakangan disinyalir jadi biang kerok industri dalam negeri terpuruk.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, mengatakan, pada dasarnya setiap negara diperbolehkan menaikkan bea masuk terhadap suatu produk impor.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia juga harus bisa membuktikan bahwa adanya tindakan dumping pada produk impor asal China yang dianggap merugikan industri dalam negeri. Musababnya, pembuktian menjadi bagian dari prosedur untuk bisa menaikkan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap suatu produk impor.

"Walaupun kita sekarang bisa menaruh BMAD yang tinggi, tapi pada suatu hari kita harus bisa buktikan itu semua apakah benar terjadi dumping atau enggak," ujar Yose, Selasa (2/7/2024).

Di sisi lain, Yose pun terang-terangan bahwa pengenaan BMAD yang terlalu tinggi terhadap produk impor berisiko terhadap munculnya aksi retaliasi dari negara asal. Bisa saja, China kemudian berbalik menerapkan bea masuk yang tinggi terhadap produk eskpor Indonesia.

"Ini harus diperhitungkan juga, apalagi kalau kita menaikkan BMAD dan belum ada bukti dumping, itu artinya kita membuka kemungkinan adanya retaliasi," tegasnya.

Sebelumnya, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) tengah menargetkan penyelidikan dugaan praktik dumping produk keramik impor asal China rampung pada pekan ini. Ketua KADI, Danang Prasta Danial membeberkan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan penyelidikan antidumping terhadap produk keramik impor asal China.

Menurutnya, proses penyelidikan telah memasuki tahap akhir dan bakal diumumkan hasilnya pada pekan ini. "Jika tidak ada kendala yang berarti, estimasi rilis hasil penyelidikan dalam minggu ini," tandas Danang.

Baca Juga: Kemendag Kirim 640 Ribu Liter Minyak Goreng Murah ke Papua Melalui Tanjung Perak

Editor : Ading