Rabu, 22 Mei 2024 03:48 WIB

Khofifah Sebut Ini Resep PPDS Jatim Jauh dari Depresi

Foto: Khofifah Indar Parawansa

Foto: Khofifah Indar Parawansa

selalu.id - Khofifah Indar Parawansa memberikan perhatian terkait data terbaru Kementerian Kesehatan yang menyebutkan bahwa 22,4 persen calon dokter yang sedang mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mengalami depresi.

Hal itu terungkap setelah Kementrian Kesehatan melakukan survey terhadap 12.121 dokter yang menjalani PPDS di 28 rumah sakit vertikal pada Maret 2024.

Hasil skrining mengungkap, 22,4 persen peserta PPDS mengalami gejala depresi, dan 0.6 persen di antaranya mengalami depresi berat. Bahkan ditemukan dokter yang ingin bunuh diri.

Dari 22,4 persen PPDS yang mengalami depresi, 381 orang (14 persen) menjalani pendidikan spesialis anak, 350 pendidikan spesialis penyakit dalam, 248 anestesiologi, 164 neurologi, dan 153 obgyn.

PPDS yang mengalami gejala depresi terbanyak (22,4 persen) berasal dari RSCM Jakarta, 250 dari RS Hasan Sadikin Bandung, 326 dari RS Sardjito Yogyakarta, 284 dari RS Ngoerah Denpasar.

"Kita bersyukur bahwa calon dokter spesialis  yang sedang PPDS di RSUD Dr Soetomo maupun RS di Jatim tidak masuk dalam daftar di atas. Ini menandakan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan di rumah sakit pendidikan di Jatim sudah on the track dan tidak melenceng  dari koridor yang seharusnya," tegas Khofifah.

Dikatakannya, sistem yang diberlakukan di RSUD Dr Soetomo  maupun Dr. Saiful Anwar untuk PPDS sudah sangat baik. Selain itu fasilitas dan dukungan penunjang untuk para calon dokter  spesialis yang menempuh PPDS di RSUD Dr Soetomo maupun Dr. Saiful Anwar.

Sejumlah fasilitas yang disediakan seperti PPDS RSUD Dr Soetomo seperti tunjangan setiap bulan juga tengah dianggarkan khusus oleh Pemprov Jatim.

Selain itu di setiap unit RSUD Dr Soetomo juga menyediakan kamar istirahat yang nyaman untuk peserta PPDS. Di unit perawatan penyakit jantung ada 3 kamar khusus untuk PPDS, 2 kamar di UGD dan sejumlah kamar di unit lain.

Banyak yang mengatakan bahwa PPDS memiliki beban yang cukup besar. Beban besar itu yang menjadi kemungkinan peserta PPDS yang belajar dan melayani di rumah sakit vertikal berisiko mengalami depresi. Hal itu disadari benar oleh RSUD Dr Soetomo. Yang mempertimbangkan betul terkait beban dan kinerja dari dokter PPDS.

"Terkait beban kerja juga sangat disesuaikan dengan kemampuan. Ada tiga shift saat ini untuk PPDS yang sangat memungkinkan untuk para dokter PPDS mendapatkan istirahat yang cukup dan work life balance. Sebelumnya memang dua shift namun dengan berbagai pertimbangan maka dibagi tiga shift saat ini," tegasnya.

Untuk itu, ke depan, pihaknya berharap seluruh calon dokter spesialis yang sedang menjalani program PPDS bisa terhindar dari depresi yang bahkan sampai menjurus ke tindakan percobaan bunuh diri ataupun melukai diri sendiri.

Sistem pendidikan di setiap rumah sakit pun harus dievaluasi agar bisa memberikan beban kerja yang seimbang pada semua calon dokter spesialis.

"Dukungan penuh dari rumah sakit, keluarga dan juga pemerintah dibutuhkan. Terutama terkait perbaikan sistem agar proses pendidikan yang berjalan tetap bisa memberikan keberpihakan pada calon dokter spesialis yang menempuh pendidikan spesialis," pungkasnya.

Baca Juga: Tokoh PWNU Ini Berpotensi Diusung PKB Maju Pilgub Jatim

Editor : Ading