Minggu, 06 Sep 2026 10:04 WIB

Sajikan Kisah Penggusuran Tanpa Buldoser, Film Layang-Layang Ajak Maknai Ulang Ruang Hidup

  • Penulis : Ading
  • | Rabu, 22 Mar 2023 21:10 WIB

selalu.id - Ruang hidup untuk masyarakat kelas bawah selalu menjadi problematika yang tidak habisnya, begitu pula dengan bagaimana peliknya realitas dan asa mereka dalam memperjuangkan haknya atas ruang hidup yang seakan menjadi begitu sukar terdengar.

Film Layang-Layang garapan Ryo Maestro, seorang sutradara dan penulis naskah asal Surabaya, pun mengambil peran yang cukup miring dalam memandang permasalahan ruang hidup masyarakat kelas bawah ini, yang mana ia cenderung menyorot irisan-irisan sentimen dalam relasi interpersonal yang ada di sebuah keluarga.

 

Baca Juga: Suar Suara Perempuan dalam Film "Pulih" dan Monolog "Pelaminan Kosong" di GNI Surabaya

Membahas sudut pandang yang lebih sentimentil dan humanis, film ini pun diputar dan didiskusikan dalam acara Screening Film yang digelar di Coffee Toffee Airlangga Corner, Selasa malam kemarin, (21/3/2023).

Dalam film Layang-layang ini, Ryo menelurkan satu pemikiran mendalamnya tentang bagaimana permasalahan ruang hidup tak hanya tentang kemampuan seseorang untuk mempertahankan rumahnya sebagai salah satu komponen fundamental dalam kebestarian kehidupan manusia, tapi ia juga memberikan banyak spotlight tentang keputusan-keputusan personal untuk memaknai sendiri apa itu ruang dan kehidupan.

Menariknya, dalam film Layang-layang ini adegan penggusuran itu justru tidak ditampilkan secara banal. Tidak ada buldozer atau konfrontasi massa yang memperjuangkan rumah-rumah mereka.

Justru, Ryo Maestro mengambil scope yang lebih personal dan semua pemikiran itu, termanifestasikan dalam kisah seorang ibu dan ketiga laki-lakinya yang mendialogkan bagaimana mereka semua memaknai rumah yang sedang dalam upaya penggusuran tersebut.

Baca Juga: Perempuan Bersuara Suarkan Narasi HKTP dengan Film dan Monolog di Surabaya



Pemutaran Film yang dinaungi oleh Kreasitama Foundation juga merupakan ruang diskusi terbuka untuk membicarakan tentang permasalahan ruang hidup sebagai ide yang diusung dalam film Layang-layang.

Audience yang hadir pun terdiri dari komunitas pemuda seperti Gerdu Suroboyo, mahasiswa ITS, Pemuda Katolik Surabaya, Wani, Kartar Mleto, Kartar Karang Rejo, Rujag Ulek Channel, CIPHOC Unitomo, Actthinkclub, SMELEH, Musisi, Sineas Surabaya untuk mengikuti diskusi. Beberapa audience yang hadir juga berasal dari beberapa kota lain seperti Bekasi dan Madura.

Salah satu peserta diskusi yakni Senior Advisor Gusdurian CMARS, Wahyuni Widya berpendapat film tersebut menyajikan lebih dekat apa yang terjadi dialami oleh masyarakat. Wahyuni pun mengaku pernah menghadapi bahkan seringkali menemukan oknum-oknum yang berkuasa melakukan penggusuran seperti yang terjadi di film 'Layang-layang'.

Ia pun menegaskan bahwa penggusuran adalah sebuah pelanggaran berat atas Hak Asasi Manusia (HAM), “Ketika terdapat tempat yang digusur maka ada sejarah dan budaya yang turut hilang, dan pasti ada hak yang dilanggar," ungkap Wahyuni.

Ryo pun sepakat dengan pendapat Wahyuni, bahwa memang dalam film tersebut ataupun kenyataan realita kehidupan yang terjadi itu juga merupakan HAM dan tragedi kemanusiaan.

"Bahwa terdapat pelanggaran HAM yang terjadi pada proses penggusuran yang bisa kita sebut tragedi kemanusiaan. Penggusuran lahan itu memaksa keluarga ini untuk menjual tanah yang telah mereka tempati sejak lama. Ironis," kata Ryo.

Saat ditanya tentang sorotan film ini yang cenderung lebih sentimentil, Ryo mengatakan bahwa itu adalah caranya mendekatkan diri pada realitas, yakni pada subjektifitas manusia.

Baca Juga: Putri Gus Dur Yenny Wahid Bakal Dukung Salah Satu Pasangan Pilpres, Ini Bocorannya

"Menampilkan tragedi dalam tema secara banal memang seksi, tetapi saya mencoba untuk tidak kehilangan jangkar subjektifitas karena saya pikir dari situlah setiap kebenaran dapat dimunculkan. Dan dengan hadirnya diskusi inipun memicu lahirnya wacana tentang ruang hidup dan dunia hidup baru dari berbagai prespektif yang diberikan oleh apresiator lainnya (audience, red)," tukasnya.

Selayaknya agenda bersambut, beberapa perwakilan komunitas antusias dalam menanggapi diskusi dengan berbagi pengalaman empiris, kabar dari media massa hingga harapan terhadap kebijakan yang ideal dan tentunya adil.

Di penghujung diskusi Ryo dan Wahyuni sepakat menutup diskusi dengan harapan agar sineas bisa bersinergi bersama komunitas untuk lebih berani dan tajam dalam mengirim narasi-narasi karya ke publik mengenai nilai kemanusiaan dan keadilan.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Petugas mencatat area gudang yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 700 meter persegi.

Hadiri Raker Gabungan DPP Apeksi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita: TKD Harus Fleksibel

Ning Ita menegaskan Apeksi akan terus mendorong agar relasi pusat dan daerah dibangun dengan prinsip kuat, adil, dan adaptif.

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item

DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.

Menyoal Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo, Kemenag RI Dorong Upaya Investigasi

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah.

Kenang Setahun Wafatnya Affan Kurniawan, Forkopimda Sidoarjo Bagi Beras ke Seribu Driver Ojol

Bantuan bertepatan dengan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol asal Jakarta yang meninggal dunia setahun lalu dalam aksi ujuk rasa.