Selasa, 03 Feb 2026 22:37 WIB

Sajikan Kisah Penggusuran Tanpa Buldoser, Film Layang-Layang Ajak Maknai Ulang Ruang Hidup

  • Penulis : Ading
  • | Rabu, 22 Mar 2023 21:10 WIB

selalu.id - Ruang hidup untuk masyarakat kelas bawah selalu menjadi problematika yang tidak habisnya, begitu pula dengan bagaimana peliknya realitas dan asa mereka dalam memperjuangkan haknya atas ruang hidup yang seakan menjadi begitu sukar terdengar.

Film Layang-Layang garapan Ryo Maestro, seorang sutradara dan penulis naskah asal Surabaya, pun mengambil peran yang cukup miring dalam memandang permasalahan ruang hidup masyarakat kelas bawah ini, yang mana ia cenderung menyorot irisan-irisan sentimen dalam relasi interpersonal yang ada di sebuah keluarga.

 

Baca Juga: Suar Suara Perempuan dalam Film "Pulih" dan Monolog "Pelaminan Kosong" di GNI Surabaya

Membahas sudut pandang yang lebih sentimentil dan humanis, film ini pun diputar dan didiskusikan dalam acara Screening Film yang digelar di Coffee Toffee Airlangga Corner, Selasa malam kemarin, (21/3/2023).

Dalam film Layang-layang ini, Ryo menelurkan satu pemikiran mendalamnya tentang bagaimana permasalahan ruang hidup tak hanya tentang kemampuan seseorang untuk mempertahankan rumahnya sebagai salah satu komponen fundamental dalam kebestarian kehidupan manusia, tapi ia juga memberikan banyak spotlight tentang keputusan-keputusan personal untuk memaknai sendiri apa itu ruang dan kehidupan.

Menariknya, dalam film Layang-layang ini adegan penggusuran itu justru tidak ditampilkan secara banal. Tidak ada buldozer atau konfrontasi massa yang memperjuangkan rumah-rumah mereka.

Justru, Ryo Maestro mengambil scope yang lebih personal dan semua pemikiran itu, termanifestasikan dalam kisah seorang ibu dan ketiga laki-lakinya yang mendialogkan bagaimana mereka semua memaknai rumah yang sedang dalam upaya penggusuran tersebut.

Baca Juga: Perempuan Bersuara Suarkan Narasi HKTP dengan Film dan Monolog di Surabaya



Pemutaran Film yang dinaungi oleh Kreasitama Foundation juga merupakan ruang diskusi terbuka untuk membicarakan tentang permasalahan ruang hidup sebagai ide yang diusung dalam film Layang-layang.

Audience yang hadir pun terdiri dari komunitas pemuda seperti Gerdu Suroboyo, mahasiswa ITS, Pemuda Katolik Surabaya, Wani, Kartar Mleto, Kartar Karang Rejo, Rujag Ulek Channel, CIPHOC Unitomo, Actthinkclub, SMELEH, Musisi, Sineas Surabaya untuk mengikuti diskusi. Beberapa audience yang hadir juga berasal dari beberapa kota lain seperti Bekasi dan Madura.

Salah satu peserta diskusi yakni Senior Advisor Gusdurian CMARS, Wahyuni Widya berpendapat film tersebut menyajikan lebih dekat apa yang terjadi dialami oleh masyarakat. Wahyuni pun mengaku pernah menghadapi bahkan seringkali menemukan oknum-oknum yang berkuasa melakukan penggusuran seperti yang terjadi di film 'Layang-layang'.

Ia pun menegaskan bahwa penggusuran adalah sebuah pelanggaran berat atas Hak Asasi Manusia (HAM), “Ketika terdapat tempat yang digusur maka ada sejarah dan budaya yang turut hilang, dan pasti ada hak yang dilanggar," ungkap Wahyuni.

Ryo pun sepakat dengan pendapat Wahyuni, bahwa memang dalam film tersebut ataupun kenyataan realita kehidupan yang terjadi itu juga merupakan HAM dan tragedi kemanusiaan.

"Bahwa terdapat pelanggaran HAM yang terjadi pada proses penggusuran yang bisa kita sebut tragedi kemanusiaan. Penggusuran lahan itu memaksa keluarga ini untuk menjual tanah yang telah mereka tempati sejak lama. Ironis," kata Ryo.

Saat ditanya tentang sorotan film ini yang cenderung lebih sentimentil, Ryo mengatakan bahwa itu adalah caranya mendekatkan diri pada realitas, yakni pada subjektifitas manusia.

Baca Juga: Putri Gus Dur Yenny Wahid Bakal Dukung Salah Satu Pasangan Pilpres, Ini Bocorannya

"Menampilkan tragedi dalam tema secara banal memang seksi, tetapi saya mencoba untuk tidak kehilangan jangkar subjektifitas karena saya pikir dari situlah setiap kebenaran dapat dimunculkan. Dan dengan hadirnya diskusi inipun memicu lahirnya wacana tentang ruang hidup dan dunia hidup baru dari berbagai prespektif yang diberikan oleh apresiator lainnya (audience, red)," tukasnya.

Selayaknya agenda bersambut, beberapa perwakilan komunitas antusias dalam menanggapi diskusi dengan berbagi pengalaman empiris, kabar dari media massa hingga harapan terhadap kebijakan yang ideal dan tentunya adil.

Di penghujung diskusi Ryo dan Wahyuni sepakat menutup diskusi dengan harapan agar sineas bisa bersinergi bersama komunitas untuk lebih berani dan tajam dalam mengirim narasi-narasi karya ke publik mengenai nilai kemanusiaan dan keadilan.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!

“Insya Allah konstruksinya sudah sesuai. Tiang-tiang utamanya juga masih kuat,” jelas Juru Bicara Anda Advertising, Nana.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya. 

PMI Surabaya dan Solo Jajaki Kerja Sama "Sister City" dalam Kunjungan Studi Banding

“Melihat potensi kedua kota, kami mengusulkan adanya kerja sama antata Surabaya dan Solo,” jelas Sumartono.