Selasa, 21 Jul 2026 18:03 WIB

PDIP Bongkar Dugaan Kecurangan Pemilu di Era SBY

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 18 Sep 2022 22:52 WIB
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto

selalu.id - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Yogyakarta yang juga saksi dugaan kecurangan di Pemilu 2009, Eko Suwanto membenarkan adanya dugaan kecurangan dalam pemilu yang berlangsung di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Hal tersebut disampaikannya ketika hadir saat Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melakukan konferensi pers kepada awak media secara daring pada Minggu (18/9/2022). Ajang itu untuk merespons pernyataan SBY mengenai tuduhan adanya kecurangan di 2024 oleh Pemerintahan Jokowi.

Baca Juga: Mampir di Surabaya, Hasto Bicara Soal Tudingan PDIP Sebagai Dalang Aksi Demonstrasi

“Benar bahwa terjadi skandal DPT fiktif. Bahkan di Ponorogo selain DPT fiktif itu, mereka yang meninggal kemudian masuk ke dalam daftar pemilih,” kata Eko Suwanto.

Selain itu, sesuai Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu pengurus ranting itu kan berhak mendapatkan DPS perbaikan, tapi faktanya KPU tidak memberikan daftar pemilih.

“Anak-anak di bawah umur juga masuk dalam daftar pemilih. Kemudian, selain orang meninggal ada (data) ganda yang identik,” ungkap Eko.

Karena itu, dia menegaskan, DPT Pemilu 2009 itu tidak akurat dan benar sebagaimana adanya. Bahkan manipulatif.

"Ini bisa kami buktikan. Bahwa laporan-laporan kami ke Panwaslu maupun ke Bawaslu pada masa itu juga banyak dan pada akhirnya di sidang Mahkamah Konstitusi pun saya juga diberi tugas menjadi saksi salah satunya tentang daftar pemilu yang bermasalah ini," jelas Eko.

Baca Juga: PDIP Surabaya Wajibkan 40 Persen Pengurus Ranting dari Gen Z

Bahkan, menurutnya, DPR juga telah membentuk pansus saat itu.

"Dan kesimpulannya benar, DPT-nya bermasalah," kata Eko.

Bukan hanya DPT, di Ponorogo juga ditemukan TPS fiktif.

Baca Juga: Kisah Menyentuh Rizky Andranata, Dari Bukan Siapa-siapa Kini Masuk PDIP

"Di Desa Tonatan di Kecamatan Ponorogo itu seharusnya ada 11 TPS. Tapi kemudian ada TPS ke-12 dengan jumlah pemilih 544 orang yang tercantum di dalamnya," jelas Eko.

"Dan kemudian diakui oleh KPU bahwa TPS itu tidak ada. Dan berdasarkan kesepakatan itu, TPS-nya dicoret," sambungnya.

Bahkan, menurut Eko ini terjadi juga di Yogyakarta. "Solo juga kurang lebih sama," pungkasnya. (SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Puluhan Motor dan Truk Terjaring Razia di Mojokerto, Banyak yang Belum Bayar Pajak

Razia ini digelar karena jumlah warga yang membayar pajak kendaraan bermotor dan memperpanjang uji berkala kendaraan atau KIR mengalami penurunan.

Pemkab Sidoarjo Dorong Perbaikan Sekolah Terpencil dan Usulan Tunjangan Khusus Guru Pesisir

Pemkab Sidoarjo menilai seluruh anak berhak memperoleh fasilitas pendidikan yang aman dan nyaman tanpa membedakan lokasi tempat tinggal mereka.

MTQ ke-32 Kabupaten Sidoarjo Resmi Ditutup, Berikut Daftar Juaranya

Fenny mengatakan lomba ini sejalan dengan upaya mencetak generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik.

Presiden Prabowo Serukan Kebangkitan Koperasi, DEKOPIN Yakin jadi Pilar Ekonomi Nasional

Menurut Prabowo, kekuatan koperasi terletak pada semangat gotong royong. Ia mengibaratkannya seperti sapu lidi yang akan menjadi kuat ketika bersatu.

Program Bunga Desaku Jember, Dari Bantuan UMKM hingga Rencana Investasi Rp2 Triliun

Fawait mengingatkan agar seluruh bantuan yang diberikan pemerintah dimanfaatkan sesuai tujuan dan tidak dialihkan untuk kepentingan lain.

Serunya Slimetastic Lab: Cara Kreatif Luminor Hotel Surabaya Jemursari Manjakan Tamu Cilik

Luminor Hotel Surabaya Jemursari terus berkomitmen menjadi destinasi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati liburan yang nyaman dan edukatif.