Rabu, 04 Feb 2026 13:24 WIB

Wali Kota Eri Sikapi Pengusiran Cucu Mensos Risma: Kalau Ada Diskriminasi, Tutup

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 04 Sep 2022 08:55 WIB
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi

selalu.id - Menyikapi kasus pengusiran cucu Menteri Sosial, Tri Rismaharini, di Playtopia, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan sebagai Kota Layak Anak (KLA), tidak boleh ada diskriminasi di Surabaya.

"Saya begini, kalau terkait diskriminasi, kita lihat dulu lah kejadiannya seperti apa. Tapi jangan pernah ada diskriminasi di Surabaya, gak oleh iku diskriminasi (tidak boleh itu diskriminasi)," tegas Eri, saat dikonfirmasi selalu.id, Sabtu (3/9/2022).

Baca Juga: TPK Banjarmasin Gencarkan Safety Awareness di Bulan K3 2026, Pertegas Komitmen High Performance Zero Accident

Kasus pengusiran tersebut, tambah Eri, harus dilihat dari kedua sisi. Eri menjelaskan, kejadian tersebut terkait aturan SOP prokes yakni soal pemakaian masker di wahana bermain tersebut.

"Kemarin kan disampaikan, memang aturannya pakai masker dan (cucu Risma) tidak pakai masker dan disuruh keluar. Sudah selesai kan, mas Fuad gelem metu (mau keluar). Tapi ketika keluar kok sik onok sing gak nggawe masker nang kono (kok masih ada yang tidak pakai masker disana), nah inilah yang perlu dipertanyakan," jelas Eri.

Eri menyebut bahwa hal tersebut mungkin hanya kesalahpahaman saja lantaran meyakini bahwa di Surabaya sudah tidak ada lagi diskriminasi.

"Saya berharap tidak ada diskriminasi di kota Surabaya dan saya yakin tidak ada diskriminasi. Tapi yo mungkin miskomunikasi, karena apa, yang saya minta cari," imbuhnya.

Eri menegaskan bahwa dirinya tidak akan mentolelir adanya diskriminasi di Surabaya. Eri menyebut jika terbukti ada diskriminasi dalam kasus pengusiran tersebut dirinya mengaku tak segan menutup wahana permainan tersebut.

Baca Juga: Expo Campus 2026 Surabaya: Ajak Siswa Jelajahi Minat dan Masa Depan Pendidikan

"Tapi nek wes onok diskriminasi, temenan Yo ditutup ae pak, gak onok Suroboyo diskriminasi (tapi jika ada diskriminasi, ditutup saja (wahana permainan), Surabaya tidak ada diskriminasi," tegasnya.

"Kalau ada diskriminasi, tutup pak! dan Saya pastikan itu ditutup. Tapi kalau ternyata tidak (salah paham) baru lah didelok (baru lah dilihat)," geramnya.

Eri menyebut bahwa karakter Surabaya adalah Egaliter alias blak-blakan, dalam artian jika ada kesalahan warga Surabaya akan gentelmen untuk meminta maaf secara terbuka dan tidak memperpanjang masalah tersebut.

"Iki Suroboyo, Suroboyo iku wes terkenal budaya arek Suroboyo, blak-blakan wae. Nek salah Yo njaluk sepuro, nek ternyata onok salah khilafe, e salah paham yo dimarekno (ini Surabaya, Surabaya itu terkenal dengan budaya arek Surabaya, ngomong apa adanya aja. Kalau salah ya minta maaf, kalau ada khilaf atau salah paham ya diselesaikan). Tapi jangan sampai ada diskriminasi di Kota Surabaya," tegas Eri.

Baca Juga: Perda Baru Buka Jalan Investasi Lewat Pemanfaatan Aset Pemkot Surabaya

Dalam kasus ini, kedua pihak (manajemen Playtopia dan Fuad Benardi) telah bertemu dan berdamai. Manajemen Playtopia serta manajemen Ciputra World Surabaya menyatakan permintaan maaf secara terbuka dan permintaan maaf tersebut diterima oleh putra sulung Mensos Risma, Fuad Benardi.

Fuad Benardi mengatakan, manejemen Playtopia berjanji akan memperbaiki SOP agar tidak terjadi lagi masalah seperti yang dirinya dan keluarga alami.

"Iya pihak Playtopia sudah meminta maaf dan akan memperbaiki SOP tanpa ada perbedaan semua anak. Mereka juga siap menerima saran masukan, supaya lebih baik lagi,"terangnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Susur Sungai Ngotok di TBM, Destinasi Wisata Baru Kota Mojokerto

Dengan hadirnya susur Sungai Ngotok, Pemkot Mojokerto berharap TBM akan menjadi magnet wisata baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Kota Mojokerto Dipercaya Jadi Pilot Project Digitalisasi Bansos Nasional

Melalui program ini, diharapkan model digitalisasi bansos yang diuji di beberapa daerah pilot project dapat direplikasi secara nasional.

Balita 2 Tahun di Probolinggo Hilang Misterius

Balita itu bernama Muhammad Arsyad Arrazi, berusia 2 tahun, anak dari pasangan Abdul Manan dan Zuharo, warga Dusun Polai, Desa Sumendi.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.