Rabu, 28 Okt 2026 21:09 WIB

Wali Kota Eri Cahyadi Tegaskan Siap Rekomendasikan Pembubaran Ormas Pelaku Premanisme

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 30 Des 2025 14:09 WIB
Foto: Wali Kota Eri Cahyadi
Foto: Wali Kota Eri Cahyadi

selalu.id - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan tidak memberi ruang sedikit pun bagi praktik premanisme di Kota Pahlawan. 

 

Baca Juga: Wali Kota Surabaya Tak Mau Seragam Bikin Sekolah Negeri Terlihat Beda Kasta

Ia menyatakan siap merekomendasikan pembubaran organisasi kemasyarakatan (ormas) yang terbukti terlibat pemaksaan ataupun tindak kekerasan terhadap warga.

 

“Ketika ada tindakan atas nama organisasi masyarakat, maka proses hukum harus berjalan. Dan kita akan rekomendasikan pembubaran ormas itu ketika melakukan premanisme di Kota Surabaya,” tegas Eri Cahyadi di Balai Kota Surabaya, Senin (29/12/2025).

 

Pernyataan ini disampaikan merespons kasus dugaan pengusiran dan pembongkaran rumah yang ditempati Nenek Elina Widjajanti (80). Eri memastikan Pemkot Surabaya telah mengambil langkah pencegahan agar persoalan serupa tidak terjadi lagi.

 

Ia menyebut, Pemkot mulai mengkonsolidasikan pemuda dan komunitas untuk memperkuat komitmen anti kekerasan.

 

“Kita tidak ingin ada premanisme yang meresahkan masyarakat. Hari ini kita mengumpulkan arek-arek Suroboyo dan melakukan sosialisasi Satgas Anti-Premanisme,” katanya.

 

Sebagai tindak lanjut, Eri memastikan seluruh elemen masyarakat akan dikumpulkan akhir tahun ini.

 

“Tanggal 31 Desember kita mengumpulkan semua ormas dan semua suku di Surabaya untuk memastikan Satgas Anti-Premanisme berjalan,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, Surabaya dibangun atas nilai agama dan Pancasila. Karena itu, praktik pemaksaan dan intimidasi tidak bisa dinegosiasikan.

 

Baca Juga: Madas Sedarah Jember Dikukuhkan, Janji Sinergis dengan Forkopimda

“Kalau ada yang melakukan ini (premanisme), hukumnya haram di Kota Surabaya,” tegasnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Eri mengajak warga berani melaporkan segala bentuk kekerasan, pemerasan, atau pemaksaan agar pemerintah bisa menindaklanjuti.

 

“Sehingga kita bisa hilangkan premanisme dari Kota Surabaya,” ujarnya.

 

Terkait kasus pembongkaran rumah Nenek Elina, Eri menjelaskan masalah itu bermula dari sengketa tanah yang belum diputuskan pengadilan. Ia menilai pembongkaran paksa tidak sesuai hukum.

 

“Kalau terjadi sengketa, maka harus diputuskan pengadilan,” katanya.

Baca Juga: Tasyakuran HUT ke-81 dengan Nobar Film Kemerdekaan, Wali Kota Eri Cahyadi jadi Aktornya

 

Menurutnya, laporan kasus ini sudah ditangani Polda Jawa Timur dan kini ditingkatkan ke tahap penyidikan.

 

“Ini menjadi atensi Polda Jawa Timur. Dari penyelidikan sejak 29 Oktober, hari ini naik menjadi penyidikan,” tuturnya.

 

Ia berharap penegakan hukum berjalan tegas untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat.

 

“Saya berharap Polda Jawa Timur segera menetapkan keputusannya agar warga merasa terlindungi secara hukum,” pungkasnya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Elf Bawa Rombongan dari Bojonegoro Rem Blong di Pacet, 4 Orang Patah Kaki-Tangan

Beruntung, kendaraan yang ditumpangi 17 orang satu keluarga asal Bojonegoro itu berhasil berhenti setelah menabrak tumpukan sekam. Mereka pun selamat.

Nama Gubernur Khofifah Muncul di Sidang Korupsi ESDM Jatim, Saksi Ungkap Alurnya

Tak cuma sepatu, Dinas ESDM Jatim juga meminta pasokan rutin produk air mineral untuk kebutuhan konsumsi kantor dinas.

Cewek yang Tabrak Orang hingga Tewas Usai Dugem di Club Ambyar Kini Disidang

Atas tindakan nekatnya ini, terdakwa Erica Natasha Risakotta dijerat pasal berlapis. Ancaman hukuman berat pun menantinya.

Jaga Kondusifitas, Polda Jatim Rangkul Ribuan Mahasiswa hingga Santri

Irjen Dekananto menegaskan, konsolidasi ini menjadi momentum krusial bagi generasi muda dalam menyambut Indonesia Emas 2045.

Potret Pelindo Terminal Petikemas Bekali Keterampilan Anak Binaan LPKA Kelas I Blitar

Dukungan pendidikan dan pengembangan keterampilan ini menjadi bagian penting dalam membuka kesempatan bagi mereka untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ketika Proyek Penanganan Banjir di Surabaya Hampir Rampung, Tapi Anggaran Belum Cair

Dengan progres tersebut, DPRD Surabaya menilai pekerjaan fisik penanganan banjir tetap perlu dikawal hingga akhir tahun 2026.