Senin, 02 Feb 2026 04:11 WIB

Empat Pilar Kebangsaan Dinilai Relevan Hadapi Krisis, Mufti Anam Sapa Warga Pasuruan

selalu.id - Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus membumikan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar pada 12 Desember 2025 dan diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas warga di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

 

Baca Juga: Mufti Anam Dorong Warga Hidupkan Semangat Kolektif Berlandaskan Empat Pilar Kebangsaan

Dalam paparannya, Mufti Anam menegaskan bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, persoalan ketahanan pangan, hingga tekanan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan tetap relevan sebagai pedoman untuk melewati tantangan tersebut.

 

“Situasi ekonomi yang tidak mudah belakangan ini membutuhkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial. Nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan menjadi fondasi penting agar bangsa ini tetap kokoh,” ujar Mufti.

 

Ia menjelaskan bahwa konsolidasi Empat Pilar Kebangsaan pertama kali digagas oleh almarhum Taufiq Kiemas saat menjabat sebagai Ketua MPR RI periode 2009–2014. Empat pilar tersebut meliputi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Mufti menekankan bahwa Pancasila memiliki posisi sentral sebagai ideologi bangsa, dasar negara, sekaligus falsafah hidup masyarakat Indonesia. “Pancasila digali langsung oleh Bung Karno dari nilai budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia, dan pertama kali disampaikan dalam pidato 1 Juni 1945. Artinya, Pancasila benar-benar lahir dari rakyat Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga: Mufti Anam Dorong Generasi Muda Pasuruan Hidupkan Nilai Empat Pilar Kebangsaan

 

Lebih lanjut, Mufti mengajak masyarakat untuk mengimplementasikan nilai gotong royong dan kepedulian sosial. Ia mencontohkan pentingnya memperhatikan kondisi lingkungan sekitar agar tidak ada warga yang mengalami kesulitan, termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan.

 

“Coba tengok tetangga kanan dan kiri. Jangan sampai ada yang kesusahan atau bahkan tidak bisa makan. Mari kita saling bantu dan saling peduli,” imbuh mantan Ketua HIPMI Jawa Timur tersebut.

Baca Juga: Mufti Anam: Bumikan Empat Pilar Kebangsaan, Jaga Persaudaraan dan Gotong Royong

 

Selain itu, Mufti juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama dan menghormati perbedaan suku, agama, serta latar belakang sosial. Menurutnya, persatuan adalah kunci utama kemajuan bangsa dan daerah.

 

“Perbedaan adalah keniscayaan. Kita semua adalah bagian dari rumah besar Indonesia. Kalau kita bertengkar karena perbedaan agama atau suku, negara dan daerah kita tidak akan bisa maju,” pungkasnya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Pada laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 ini, Bajul Ijo-julukan Persebaya, hanya mampu memetik satu poin, tidak seperti yang diharapkan.

Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan bahwa pohon tumbang itu telah dievakuasi dan dinyatakan kondusif.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.