Perkuat Kerja Sama Global, Untag Surabaya Undang Akademisi Australia dan Filipina
- Penulis : Ading
- | Selasa, 28 Okt 2025 21:13 WIB
selalu.id – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya terus memperkuat langkah menuju internasionalisasi. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Selasa (28/10/2025) di Ruang Rapat Rektorat Gedung R. Ing. Soekonjono lantai tiga, Untag Surabaya.
Baca Juga: Kebocoran Data Mahasiswa, Bom Waktu di Dunia Pendidikan
FGD tersebut menghadirkan tiga akademisi dari dalam dan luar negeri, yakni Prof. Ian Buchanan dari University of Wollongong (Australia), Prof. Dr. Jessie Barot dari National University (Filipina), dan Prof. Dr. I Ketut Artawa dari Universitas Udayana (Indonesia). Kegiatan dihadiri jajaran pimpinan universitas, dekan fakultas, Badan Kerja Sama, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari konferensi internasional Cultural Dialogues: English Studies in a Globalized World yang kali ini digelar di Indonesia dengan Untag Surabaya sebagai tuan rumah.
Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., menyebut FGD ini menjadi langkah strategis memperkuat misi internasional universitas. “Mari kita manfaatkan momentum ini untuk memperluas jejaring kerja sama internasional melalui kolaborasi penelitian, publikasi bersama, dan program pertukaran mahasiswa sebagai bagian dari misi internasionalisasi Untag Surabaya,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Prof. Dr. Jessie Barot menyampaikan antusiasmenya terhadap peluang kolaborasi lintas negara. “Sebagai Kepala Divisi Penelitian di National University Filipina, saya sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Untag Surabaya. Kegiatan ini menjadi kesempatan baik untuk bertukar gagasan dan memperkuat jejaring riset antarnegara,” katanya.
Baca Juga: Bersama BPIP, UNTAG Surabaya Perkuat Kurikulum Pancasila
Ketua Bidang Pengembangan Program dan Akreditasi Internasional Untag Surabaya, Eka Marliana, S.T., M.Eng., menanyakan mekanisme kerja sama yang diterapkan di universitas mitra. Prof. Jessie menjelaskan bahwa prinsip utama kolaborasi adalah manfaat timbal balik. “Kerja sama biasanya diawali dari diskusi kecil yang kemudian berkembang menjadi proyek penelitian bersama. Kami menargetkan publikasi di jurnal bereputasi tinggi dan terbuka bagi seluruh universitas ASEAN yang memiliki visi serupa dalam memajukan pendidikan,” terangnya.
Ketua Badan Kerja Sama Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA., menyampaikan bahwa Untag telah memiliki sejumlah kolaborasi internasional. “Kami telah menjalin kerja sama dengan universitas di Thailand yang kini mengirimkan mahasiswanya untuk magang di Untag Surabaya, mahasiswa kami magang di Jepang, serta penelitian bersama dengan dosen dari Malaysia. Semoga ke depan kerja sama ini semakin luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ketua Pusat Penelitian Untag Surabaya, Dr. Achmad Yanu, S.T., MBA., turut menggali fokus riset di negara mitra. Prof. Ian Buchanan menyebut pihaknya tengah menaruh perhatian besar pada tema Sustainable Development Goals (SDGs). “Kami sangat senang dapat berpartisipasi dalam kolaborasi ini, terlebih jika kerja sama ini mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Baca Juga: “Mrs. Struggle” Untag Surabaya, Perjalanan Panjang Dr. Sumiati dari DPRD hingga Wakil Rektor
Sementara itu, Prof. Dr. I Ketut Artawa menekankan pentingnya hubungan personal dalam membangun kolaborasi internasional. “Kunci keberhasilan kolaborasi dimulai dari hubungan personal yang baik antar dosen. Dengan saling percaya dan komunikasi yang terjalin erat, peluang bekerja sama dengan universitas ternama akan semakin terbuka,” tuturnya.
Melalui kegiatan FGD ini, Untag Surabaya menegaskan komitmennya memperluas jaringan akademik global sekaligus memperkuat peran sebagai kampus nasionalis yang berorientasi global. Kampus Merah Putih berupaya memperkokoh kolaborasi riset internasional, memperluas jejaring akademik, dan menyiapkan lulusan yang kompetitif di tingkat dunia.
Editor : Ading
