Surabaya Krisis Lahan Pemakaman, Wali Kota Eri Dorong Tradisi Makam Keluarga
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 28 Okt 2025 14:09 WIB
selalu.id - Krisis lahan pemakaman mulai menghantui Kota Surabaya. Kepadatan penduduk membuat ketersediaan ruang pemakaman semakin terbatas. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencari solusi dengan menghidupkan kembali tradisi lama makam keluarga.
Baca Juga: Surabaya Darurat Lahan Makam! 13 TPU Hampir Penuh dan Sebagian Sudah Ditutup
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengakui persoalan makam menjadi tantangan tersendiri di kota besar.
“Kalau lahan makam dengan bertambahnya orang pasti tambah kurang. Karena itu, kita fungsikan lagi lahan makam yang ada di perkampungan,” ujar Eri, Selasa (28/10/2025).
Menurutnya, pemkot menggandeng pengurus kampung untuk menata dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan makam agar lebih efisien. Pola lama yang mengandalkan makam keluarga atau makam kampung, kata dia, perlu dihidupkan kembali.
“Kalau setiap orang minta satu lahan makam, ya habis semua tanahnya,” tegasnya.
Eri menjelaskan, lonjakan penduduk menjadi penyebab utama berkurangnya ruang pemakaman di Surabaya.
“Kemarin penduduk 2,7 juta, sekarang sudah lebih dari 3 juta. Kan tidak mungkin semua lahan di kota ini dijadikan makam,” ujarnya.
Baca Juga: Lahan Makam di TPU Keputih Terus Menyempit, Hanya Tersisa 32 Ribu Unit
Eri mencontohkan tradisi keluarga sendiri yang masih menerapkan sistem makam keluarga di kawasan Tembok Dukuh.
“Kalau makam keluarga saya, itu makam mbahku. Waktu abahku meninggal, dimakamkan di situ juga. Kalau masing-masing mau punya lahan sendiri, lahannya siapa?” ucapnya.
Ia menilai tradisi makam keluarga bukan hanya solusi keterbatasan lahan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antarwarga.
Baca Juga: TPU Ngagel Rejo Darurat Lahan, Banyak Makam Tumpang Tindih
“Pemerintah kota tidak bisa terus-menerus menyiapkan lahan makam baru. Karena itu, kita kolaborasi dengan pengelola makam kampung. Warga yang tinggal di situ, ya keluarganya dimakamkan di situ juga,” jelasnya.
Eri menegaskan, sistem pengelolaan makam berbasis komunitas menjadi langkah realistis untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ruang hidup dan ruang pemakaman di tengah keterbatasan lahan kota.
“Kalau mbah sudah lama meninggal, terus abah meninggal, ya dimakamkan di situ. Jadi satu liang bisa dipakai beberapa anggota keluarga,” pungkasnya.
Editor : Ading