Selasa, 21 Jul 2026 20:00 WIB

Penolakan Meluas, Proyek SWL Surabaya Disebut Rugikan Ekonomi Total

selalu.id – Proyek Surabaya Water Front Land (SWL) yang direncanakan untuk memperluas kawasan komersial dan residensial di sepanjang pantai Surabaya menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Proyek tersebut dinilai berpotensi merusak lingkungan dan mengancam kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir.

 

Baca Juga: PII Jatim Soroti Proyek SWL, Desak Pemkot dan Pemprov Batalkan

Ali Yusa, mahasiswa doktoral dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya sekaligus pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, menyebut tiga alasan utama mengapa proyek SWL perlu dibatalkan.

 

"Ada beberapa alasan yang meliputi potensi penurunan nilai ekonomi total, kerusakan sistem ekologi laut dan pesisir, serta dampak negatif pada sistem sosial masyarakat pesisir," ujar Yusa kepada selalu.id, Kamis (18/9/2025).

 

Ia menilai klaim bahwa SWL akan meningkatkan nilai ekonomi kota melalui investasi properti dan pariwisata tidak tepat jika dilihat dari perspektif nilai ekonomi total (TEV). TEV mencakup nilai non-pasar seperti fungsi perlindungan pesisir oleh mangrove dan terumbu karang, serta keberadaan ekosistem laut yang sehat.

 

Baca Juga: Gelombang Penolakan SWL Membesar, Pemkot dan Pemprov Belum Ambil Sikap

Pembangunan SWL, lanjut Yusa, berpotensi merusak ekosistem alami seperti hutan mangrove dan padang lamun yang berfungsi sebagai habitat ikan sekaligus penahan abrasi. Kerusakan itu akan mengurangi manfaat langsung bagi nelayan tradisional yang menggantungkan hidup pada ekosistem pesisir.

 

"Keuntungan jangka pendek proyek SWL tidak sebanding dengan kerugian ekonomi total jangka panjang yang akan dialami masyarakat dan lingkungan," tegasnya.

 

Baca Juga: Demo Nelayan Surabaya Tolak Reklamasi Berujung Ricuh

Yusa juga menyoroti potensi kerusakan ekologi laut dan pesisir akibat reklamasi pantai dan pengerukan dasar laut. Menurutnya, kerusakan ekosistem tersebut bersifat permanen dan sulit dipulihkan.

 

"Ekosistem pesisir Surabaya, termasuk hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, adalah pusat kehidupan bagi berbagai jenis ikan dan biota laut," tandasnya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.

Diskon BPHTB Surabaya 40 Persen: Fokus Rumah Pertama, Lindungi PAD dan Bantu MBR

Menurut Yuga, efektivitas kebijakan tidak cukup diukur dari besarnya potongan yang diberikan, tetapi dari peningkatan transaksi jual beli properti.

Komitmen Pemkab Jember untuk Pesantren: Dari Beasiswa Internasional, Insentif Guru Ngaji hingga Layanan Kesehatan Gratis

Gus Fawait juga umumkan pembentukan Forum Komunikasi Pondok Pesantren sebagai wadah resmi mempererat koordinasi antara Pemkab Jember dengan seluruh ponpes.

Gebrakan Menko AHY di Benoa: Relokasi Kapal Perikanan demi Terwujudnya Marina District

Nantinya, Marina District akan mampu menampung hingga 180 unit yacht dengan ukuran maksimal panjang 90 meter. 

Nenek di Mojokerto jadi Korban Perampasan, Kalung Emas 7 Gram Raib

Saat beraksi, pelaku berpura-pura memberi makanan kepada korban, kemudian langsung merampas kalung emas yang dipakai korban. 

Puluhan Motor dan Truk Terjaring Razia di Mojokerto, Banyak yang Belum Bayar Pajak

Razia ini digelar karena jumlah warga yang membayar pajak kendaraan bermotor dan memperpanjang uji berkala kendaraan atau KIR mengalami penurunan.