Senin, 02 Feb 2026 05:22 WIB

Penolakan Meluas, Proyek SWL Surabaya Disebut Rugikan Ekonomi Total

selalu.id – Proyek Surabaya Water Front Land (SWL) yang direncanakan untuk memperluas kawasan komersial dan residensial di sepanjang pantai Surabaya menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Proyek tersebut dinilai berpotensi merusak lingkungan dan mengancam kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir.

 

Baca Juga: PII Jatim Soroti Proyek SWL, Desak Pemkot dan Pemprov Batalkan

Ali Yusa, mahasiswa doktoral dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya sekaligus pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, menyebut tiga alasan utama mengapa proyek SWL perlu dibatalkan.

 

"Ada beberapa alasan yang meliputi potensi penurunan nilai ekonomi total, kerusakan sistem ekologi laut dan pesisir, serta dampak negatif pada sistem sosial masyarakat pesisir," ujar Yusa kepada selalu.id, Kamis (18/9/2025).

 

Ia menilai klaim bahwa SWL akan meningkatkan nilai ekonomi kota melalui investasi properti dan pariwisata tidak tepat jika dilihat dari perspektif nilai ekonomi total (TEV). TEV mencakup nilai non-pasar seperti fungsi perlindungan pesisir oleh mangrove dan terumbu karang, serta keberadaan ekosistem laut yang sehat.

 

Baca Juga: Gelombang Penolakan SWL Membesar, Pemkot dan Pemprov Belum Ambil Sikap

Pembangunan SWL, lanjut Yusa, berpotensi merusak ekosistem alami seperti hutan mangrove dan padang lamun yang berfungsi sebagai habitat ikan sekaligus penahan abrasi. Kerusakan itu akan mengurangi manfaat langsung bagi nelayan tradisional yang menggantungkan hidup pada ekosistem pesisir.

 

"Keuntungan jangka pendek proyek SWL tidak sebanding dengan kerugian ekonomi total jangka panjang yang akan dialami masyarakat dan lingkungan," tegasnya.

 

Baca Juga: Demo Nelayan Surabaya Tolak Reklamasi Berujung Ricuh

Yusa juga menyoroti potensi kerusakan ekologi laut dan pesisir akibat reklamasi pantai dan pengerukan dasar laut. Menurutnya, kerusakan ekosistem tersebut bersifat permanen dan sulit dipulihkan.

 

"Ekosistem pesisir Surabaya, termasuk hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, adalah pusat kehidupan bagi berbagai jenis ikan dan biota laut," tandasnya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Pada laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 ini, Bajul Ijo-julukan Persebaya, hanya mampu memetik satu poin, tidak seperti yang diharapkan.

Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan bahwa pohon tumbang itu telah dievakuasi dan dinyatakan kondusif.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.