Seragam Bantuan Siswa Miskin Berbeda Warna, DPRD Surabaya Soroti Potensi Diskriminasi
- Penulis : Ade Resty
- | Minggu, 10 Agu 2025 12:14 WIB
selalu.id – DPRD Kota Surabaya menyoroti bantuan seragam sekolah bagi penerima Beasiswa Pemuda Tangguh yang berbeda warna dari seragam reguler di sekolah negeri.
Perbedaan ini dinilai berpotensi memunculkan stigma dan diskriminasi terhadap siswa dari keluarga kurang mampu.
Baca Juga: Rapor Merah Dari DPRD Surabaya untuk Setahun Kepemimpinan Eri-Armuji
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, mengungkap temuan tersebut saat meninjau sejumlah SMA negeri.
Ia menemukan warna seragam pramuka dan abu-abu bantuan tidak sesuai standar sekolah.
“Ternyata di SMA Negeri, seperti SMA 2 dan SMA 10, warna seragam pramukanya berbeda. Saya sudah cek langsung dan konfirmasi ke kepala sekolah,” kata Imam, Minggu (10/8/2025).
Menurutnya, perbedaan warna ini membuat siswa penerima bantuan merasa minder. “Anak-anak itu jadi malu. Kita tahu sendiri, anak dari keluarga miskin itu sensitif,” ujarnya.
Imam juga menyoroti kualitas kain seragam abu-abu bantuan yang dinilai lebih rendah. Bahkan, sebagian siswa terpaksa membeli kain sendiri seharga Rp280 ribu, ditambah ongkos jahit Rp200 ribu per set, agar seragamnya sama seperti teman-teman.
Baca Juga: Atap Kelas SMPN 60 Surabaya Ambruk, DPRD Desak Evaluasi Total Bangunan Sekolah
Meski ada kepala sekolah dan guru yang membantu menjahitkan seragam sesuai standar, jumlahnya sangat terbatas sekitar lima siswa per sekolah.
Melihat kondisi ini, Imam meminta Pemkot Surabaya lebih cermat dalam merancang dan mendistribusikan bantuan. “Harusnya sebelum dibagi, dicek dulu. Warnanya sesuai atau tidak, kualitas kainnya layak atau tidak,” tegas mantan jurnalis ini.
Ia menyayangkan jika bantuan yang dibeli dengan dana APBD justru tidak terpakai. “Kalau enggak sesuai, ya mubazir. Malah memperkuat stigma kemiskinan,” ujarnya.
Baca Juga: Kasus Bimtek DPRD Surabaya Kembali Dibuka, Begini Tanggapan Sekwan
Imam juga menyinggung efisiensi belanja daerah, mengingat Pemkot saat ini masih menanggung utang hingga Rp452 miliar.
“Memang utangnya bukan untuk seragam, tapi ironis kalau anggaran yang terbatas malah terbuang percuma,” tambahnya.
Sebagai solusi, Imam mendorong adanya standardisasi warna dan kualitas seragam bantuan agar tidak terlihat berbeda. “Kalau mau membantu anak miskin, ya berikan yang terbaik. Jangan sampai bantuan malah membuat mereka merasa dibedakan,” pungkasnya.
Editor : Redaksi