Senin, 07 Sep 2026 03:09 WIB

Ijazah Tak Kembali, Karyawan Gerai Es Krim di Surabaya Terpaksa Putus Sekolah

Nazalah Aulia (20) karyawan yang ijazahnya ditahan
Nazalah Aulia (20) karyawan yang ijazahnya ditahan

selalu.id - Kasus penahanan ijazah oleh tempat kerja kembali mencuat. Kali ini dialami Nazalah Aulia (20), warga Jalan Dupak, Surabaya, yang bekerja di sebuah gerai es krim di kawasan Kapas Krampung.

Nazalah mengaku ijazah aslinya ditahan sejak mulai bekerja pada November 2024, dan belum dikembalikan meski telah mengundurkan diri.

“Awalnya saya cuma ingin cari pengalaman kerja. Ini pekerjaan pertama saya. Karena butuh, saya terima meskipun harus menyerahkan ijazah,” ujar Nazalah saat ditemui awak media, Selasa (15/4/2025).

Nazalah direkrut bersama dua temannya setelah menjalani wawancara. Saat itu, pemilik usaha meminta dokumen asli sebagai syarat kerja.

Ia sempat menandatangani kontrak kerja waktu tertentu (PKWT) selama tiga bulan, dengan gaji Rp1.250.000 dan uang makan Rp20.000 per hari. Namun, sistem kerja yang diterapkan dinilainya cukup memberatkan.

“Kalau telat satu menit saja, uang makan hangus. Kalau nilai kerja turun di bawah 85, uang makan dua minggu bisa tidak diberikan,” ungkapnya.

Setelah sebulan bekerja, ia dipindahkan ke gerai di Jalan Pacuan Kuda. Di sana, ia pernah kehilangan hak uang makan dua minggu karena penilaian kerja turun.

Saat izin dua hari untuk melayat neneknya yang meninggal, gajinya tetap dipotong meski ia mengganti hari kerja. Belum selesai masa kontrak, ia ditawari kontrak baru selama setahun. Karena takut sulit mencari kerja lain, ia menerima.

Ketika orang tuanya meminta agar ia melanjutkan pendidikan, Nazalah mencoba mengundurkan diri dan berharap ijazahnya dikembalikan. Namun, permintaan itu tidak ditanggapi serius.

“Saya sudah minta baik-baik, tapi adik owner selalu alasan lagi rapat di Jember. Sampai sekarang belum jelas,” katanya.

Kekecewaan memuncak saat Ramadan lalu. Ia harus bekerja dari pagi hingga malam karena ada rapat internal hingga pukul 23.00 tanpa kompensasi lembur.

“Orang tua saya marah karena saya tidak pulang-pulang dan tidak dapat uang tambahan. Sejak itu saya dilarang kerja lagi,” ujarnya.

Nazalah sempat menghubungi pemilik usaha untuk menyelesaikan proses resign dan pengambilan ijazah. Namun, balasan pesan lama, dan janji pertemuan tak kunjung ditepati.

Ia juga mengetahui temannya yang mengalami hal serupa harus menebus ijazah sebesar Rp2 juta, dengan dalih sumbangan panti asuhan.

“Kalau memang mau menyumbang, harusnya ikhlas. Ini kok malah jadi syarat. Gaji saya saja belum dibayar penuh,” ucapnya kecewa.

Nazalah akhirnya mengadu ke Wakil Wali Kota Surabaya dan diarahkan untuk melapor ke kelurahan serta kecamatan. Ia berharap bisa mendapat keadilan dan ijazahnya dikembalikan tanpa syarat.

Baca Juga: Kasus Ijazah Ditahan Rp 3 Juta, Azhar Kahfi Advokasi Langsung Siswi SMA di Surabaya

Editor : Ading
Berita Terbaru

PAMDI Surabaya Soroti Izin dan Citra Pentas Dangdut, Sekaligus Kejar Pengakuan UNESCO

Ia mendorong para penyanyi dan pelaku seni dangdut mengedepankan etika, termasuk dalam penampilan di atas panggung.

Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

PJT I terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keamanan pasokan air baku bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Air PDAM Surabaya Keruh dan Berbusa di Belasan Kawasan, Warga Keluhkan Bau Kimia

Gangguan dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Banyu Urip, Lakarsantri, Gunung Sari, Babatan, Wiyung, Manukan, Kedurus, Petemon, dan lainnya.

Dua Rumah Terbakar di Mojokerto, Terdengar Tiga Kali Ledakan

Api berasal dari freon kulkas yang diduga mengalami korsleting. Akibat kejadian itu, rumah dan semua perabotan serta peralatan elektronik hangus terbakar.

DPRD Surabaya Soroti Data Warga: Baru Dibetulkan Saat Butuh Bantuan, BPJS hingga Waris

Cahyo menilai Dispendukcapil Surabaya perlu memetakan data yang belum mutakhir maupun tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Melon Hidroponik jadi Magnet Baru Wisata Edukasi di Candi Negoro, Sidoarjo

Greenhouse seluas 400 meter persegi menjadi pusat pengembangan wisata ini.