Jumat, 05 Jun 2026 14:38 WIB

Unesa Menonaktifkan Dosen Terduga Pelaku Pelecehan Seksual terhadap Mahasiswinya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 11 Jan 2022 16:08 WIB
Humas Unesa, Vinda Maya saat konfrensi pers
Humas Unesa, Vinda Maya saat konfrensi pers

selalu.id - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) merespon cepat viralnya kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus tersebut dengan membuka pengaduan serta pendampingan terhadap korban.

Humas Unesa, Vinda Maya mengaku telah melakukan sejumlah tindakan untuk merespon kabar tersebut.

Baca Juga: Menanti Ending di Balik Proyek Ilegal PT Wulandaya Cahaya Lestari di Surabaya

"Kami Unesa sangat apresiasi dan berterima kasih terhadap penyintas yang sudah menyuarakan kasus ini. Kami akan memberi jaminan untuk mereka yang mengalaminya dengan memberikan perlindungan kerahasian identitas, pendampingan psikologis maupun hukum, " kata Vinda pada konfrensi pers yang digelar di Kampus Unesa pada Senin (10/1/2022).

Diketahui, muncul berita yang menjadi viral di media sosial terkait dugaan kasus pelecehan seksual di lingkungan Kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kasus ini diungkapkan oleh salah satu akun di media sosial @dear_unesacatcaller dimana dosen inisial H melakukan pelecehan saat mahasiswanya bimbingan skripsi.

Unesa, lanjut Vinda, membentuk tim investigasi dari unsur jurusan hukum dan Satuan Tugas Pencegahan penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) untuk mengusut cepat dan tepat kasus itu.

"Tim sudah melakukan pemanggilan dan meminta keterangan kepada terduga pelaku pelecehan itu. Unesa juga menjunjung tinggi prinsip pro terhadap korban,"jelasnya.

Selain itu, berdasarkan keputusan rapat antara pimpinan Universitas dan tim investigasi, demi kelancaran pemeriksaan, Unesa menonaktifkan dosen yang terduga sebagai pelaku.

Baca Juga: Remaja di Surabaya Tewas Dikeroyok Pelajar SMA, Sempat Gegar Otak dan Patah Tulang

"Kami membuka layanan pengaduan bagi seluruh civitas akademika yang mengalami kekerasan seksual melalui nomor layanan pengaduan 082142815124,"terangnya.

"Tentu terhadap korban kami akan melindungi. Kami sangat berhati hati untuk mengungkap identitas," imbuhnya.

Ketua Satgas PPKS, Mutimmatul Faida menyampaikan, pihaknya telah melakukan mekanisme secara spesifik bagaimana memberi perlindungan terhadap korban.

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

"Kami berterimakasih terhadap korban yang berani speak up. Karena ini merupakan diluar kode etik dari dosen. Kami akan mengawal itu dengan tuntas," ujarnya.

Faida menjelaskan bahwa kejadian pelecehan seksudal tersebut sejak tahun 2020 lalu. Namun banyak proses yang harus dilalui korban. Korban yang sedang mengurus skripsi harus menunggu untuk mengumpulkan bukti-bukti.

"Baru terkumpul itu memang saat ini. Kampus langsung ada teguran," ujarnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Pemkot Surabaya Perketat Jalur Domisili pada SPMB 2026

Langkah ini dilakukan untuk menutup celah praktik perpindahan Kartu Keluarga (KK) yang hanya bertujuan memperoleh akses masuk sekolah tertentu.

Pemprov Jatim Sabet Penghargaan Terbaik Ketegori Penurunan Pengangguran

Capaian ini merupakan hasil upaya pencapaian banyak poin indikator kinerja utama Pemprov Jatim yang selama ini dijalankan melalui Nawa Bhakti Satya.

Harga Emas Antam Hari Ini: Masih Kurang Bagus, Jangan Marah ya Bunda..

Sementara itu, buyback harga emas hari ini naik lebih tinggi hingga Rp40.000 per gram dan kini berada di level Rp2.589.000 per gram.

Ramalan Zodiak Hari Ini: Banyak Peristiwa Tak Terduga, Siapkan Mental dan Hati-hati

Ramalan zodiak pada umumnya meliputi tentang kehidupan secara umum, kesehatan, pekerjaan, hingga cinta. Kali ini diulas lengkap, banyak kejutan.

Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pemain Utama Rantai Halal Nasional

Tantangan berikutnya adalah memastikan daerah-daerah potensial mampu mengambil peran lebih besar sebagai produsen penggerak utama industri halal global.

Lima Mahasiswa FH Untag Surabaya Ajukan Uji Materi ke MK Soal Pembuatan SIM

Namun demikian, para mahasiswa tidak meminta seluruh tes dihapus, melainkan dilakukan penyempurnaan agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.