Rabu, 21 Okt 2026 19:41 WIB

9 Ribu Warga Surabaya Derita TBC, Wali Kota Eri Upayakan Program R1N1

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 21 Jan 2025 11:00 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

selalu.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengupayakan pengendalian penyakit Tuberkulosis (TBC) yang masih menjadi tantangan serius di Kota Pahlawan.

Berdasarkan data hingga 2024, terdapat sekitar 9 ribu warga Surabaya yang terdiagnosis TBC, dari total 11 ribu kasus yang juga mencakup pasien rujukan dari luar kota.

Untuk mendukung target eliminasi TBC pada 2030, Pemkot Surabaya menggelar penyuluhan dan edukasi melalui program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang dikemas dalam acara Orkestra Cinta Merdeka TBC, Senin (20/1/2025), di Graha Sawunggaling.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmen kota untuk memberantas TBC dengan berbagai pendekatan inovatif, termasuk layanan kesehatan berbasis komunitas melalui program RW 1 Nakes 1 (R1N1).

“Kami punya tekad untuk mengeliminasi TBC. Penyakit ini sulit terdeteksi karena penderita cenderung malu dan tidak melapor, sehingga risiko penularan kepada keluarga atau tetangga tinggi. Dengan R1N1, kami bisa memantau warga secara langsung di tingkat RW,” ujar Eri.

Selain itu, Eri juga menyoroti pentingnya menghilangkan stigma terhadap penderita TBC. Ia menekankan bahwa TBC dapat disembuhkan jika pasien rutin mengonsumsi obat selama enam bulan dan menggunakan masker untuk mencegah penularan.

“Stigma adalah musuh kita. Orang yang sakit tidak boleh dijauhi, justru perlu dirangkul dan didukung,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa TBC tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan hexa helix menjadi kunci dalam pengendalian penyakit ini.

“Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, swasta, komunitas, media, hukum, dan regulasi. Skrining rutin di Surabaya dilakukan untuk mendeteksi kasus sedini mungkin, sehingga pasien bisa segera mendapat pengobatan,” ungkap Nanik.

Hingga saat ini, sekitar 90 persen dari total kasus TBC di Surabaya sedang menjalani pengobatan.

Namun, Nanik mengingatkan bahwa pengobatan TBC memerlukan konsistensi. Jika pasien berhenti mengonsumsi obat, risiko resisten obat meningkat, dan proses penyembuhan menjadi lebih lama.

Baca Juga: Blokir KTP Pasien TBC Dinilai Langgar HAM, DPRD Surabaya Minta Kaji Ulang Kebijakan

Editor : Ading
Berita Terbaru

Banyak Kabel Semrawut di Surabaya, DPRD Minta Pemkot Tertibkan dan Tegas Pada Provider

Bukan hanya mengganggu pemandangan, kabel yang sudah tidak digunakan juga dinilai tak semestinya dibiarkan menggantung begitu saja, harus ditertibkan.

Aksi Motoran Santri Sidoarjo Kampanyekan Tertib Lalu Lintas Sambut HSN 2026

Tak sekadar konvoi, Motoran Santri membawa pesan “Motor Santun”, yakni ajakan berkendara secara aman, tertib, dan bertanggung jawab. 

Kisah Penjual Peyek di Nganjuk Terancam Kehilangan Rumah atas Utang Mendiang Suami Rp690 Juta

Rumah tinggal Lilik terancam disita dan dilelang oleh BRI Cabang Nganjuk atas klaim utang mendiang suaminya, Puji Astanto, sebesar Rp690 juta.

45 Ribu Reklame di Surabaya, Ratusan Masih Bandel dan Nunggak Pajak

Kepala Bidang Pajak Daerah Bapenda Surabaya Ekkie Noorisma menyebut, dua biang keroknya klasik tidak berizin dan belum bayar pajak.

21 Anggota Geng Motor Pengeroyok Pengunjung Angkringan di Mojokerto Diringkus

Tiga orang dilaporkan menjadi korban dan mengalami luka-luka, salah satunya luka robek diduga akibat senjata tajam.

Doa Kebangsaan di Mojokerto, Ning Ita dan Kapolres Kompak Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Doa bersama menjadi ikhtiar menyatukan tekad sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat, dan tokoh masyarakat dalam membangun bangsa.