Selasa, 03 Feb 2026 17:11 WIB

9 Ribu Warga Surabaya Derita TBC, Wali Kota Eri Upayakan Program R1N1

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 21 Jan 2025 11:00 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

selalu.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengupayakan pengendalian penyakit Tuberkulosis (TBC) yang masih menjadi tantangan serius di Kota Pahlawan.

Berdasarkan data hingga 2024, terdapat sekitar 9 ribu warga Surabaya yang terdiagnosis TBC, dari total 11 ribu kasus yang juga mencakup pasien rujukan dari luar kota.

Untuk mendukung target eliminasi TBC pada 2030, Pemkot Surabaya menggelar penyuluhan dan edukasi melalui program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang dikemas dalam acara Orkestra Cinta Merdeka TBC, Senin (20/1/2025), di Graha Sawunggaling.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmen kota untuk memberantas TBC dengan berbagai pendekatan inovatif, termasuk layanan kesehatan berbasis komunitas melalui program RW 1 Nakes 1 (R1N1).

“Kami punya tekad untuk mengeliminasi TBC. Penyakit ini sulit terdeteksi karena penderita cenderung malu dan tidak melapor, sehingga risiko penularan kepada keluarga atau tetangga tinggi. Dengan R1N1, kami bisa memantau warga secara langsung di tingkat RW,” ujar Eri.

Selain itu, Eri juga menyoroti pentingnya menghilangkan stigma terhadap penderita TBC. Ia menekankan bahwa TBC dapat disembuhkan jika pasien rutin mengonsumsi obat selama enam bulan dan menggunakan masker untuk mencegah penularan.

“Stigma adalah musuh kita. Orang yang sakit tidak boleh dijauhi, justru perlu dirangkul dan didukung,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa TBC tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan hexa helix menjadi kunci dalam pengendalian penyakit ini.

“Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, swasta, komunitas, media, hukum, dan regulasi. Skrining rutin di Surabaya dilakukan untuk mendeteksi kasus sedini mungkin, sehingga pasien bisa segera mendapat pengobatan,” ungkap Nanik.

Hingga saat ini, sekitar 90 persen dari total kasus TBC di Surabaya sedang menjalani pengobatan.

Namun, Nanik mengingatkan bahwa pengobatan TBC memerlukan konsistensi. Jika pasien berhenti mengonsumsi obat, risiko resisten obat meningkat, dan proses penyembuhan menjadi lebih lama.

Baca Juga: Mangkir Berobat, Penderita TBC di Surabaya Bisa Kehilangan BPJS dan NIK

Editor : Ading
Berita Terbaru

Kabar Gembira, Nilai Tukar Rupiah Menguat Lagi ke Rp16.755/US$

Penguatan rupiah hari ini sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. 

Wisata Mojokerto dengan Kesejukan Alam yang Syahdu, Cocok Dibuat Santai Sama Keluarga 

Jawa Timur terkenal dengan kuliner dan budayanya. Di balik itu, juga tersimpan wisata yang menakjubkan. Salah satunya di Mojokerto.

Cak Imin: DPW PKB Harus Ubah Cara Berpikir dan Arah Gerak Organisasi

Cak Imin, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa dinamika politik dan persoalan bangsa yang terus berkembang menuntut partai untuk bersikap adaptif.

Jelang HUT ke-18, Gerindra Surabaya Gelar Cek Kesehatan Gratis pada Lansia 

Selain pemeriksaan dasar, warga juga mendapatkan edukasi terkait kewaspadaan terhadap penyakit menular, termasuk Virus Nipah.

Pelindo Petikemas Luruskan Kabar Antrean Kapal di Pelabuhan Tanjung Perak 

Widyaswendra mengatakan bahwa tidak ada keterlambatan pelayanan yang berakibat cukup signifikan dan berpengaruh pada jadwal sandar kapal.

Diduga Ada Penyimpangan Pengadaan Laptop untuk Pesantren, Tiga Unsur Jawa Timur Disorot

Aliansi Gempar menegaskan sudah melakukan pertemuan dengan perwakilan Inspektorat Jatim, untuk segera ditindaklanjuti.