Selasa, 03 Feb 2026 22:13 WIB

Impor Rendah, Indonesia Jadi Negara Net Eksportir Produk Perikanan

Perikanan Indonesia
Perikanan Indonesia

selalu.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan nilai impor perikanan menurun pada semester I tahun 2024 menjadi US$219,54 juta dolar atau Rp 3,57 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.294 per dolar). Nilai tersebut mengalami penurunan hingga 35,15 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Budi Sulistiyo menjelaskan, penurunan nilai impor perikanan tersebut membuat neraca perdagangan perikanan surplus sebesar US$2,49 miliar atau setara Rp 40,67 triliun.

Menurutnya, nilai surplus tersebut pun meningkat sebesar 6,2 persen dibanding periode serupa tahun sebelumnya. "Penurunan impor ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara net eksportir produk perikanan," terangnya, Senin (29/7/2024).

Sementara itu, untuk komoditas impor sendiri, jelasnya lebih lanjut, ada yang tujuannya untuk bahan baku industri dan ada juga untuk selain bahan baku industri, seperti untuk kebutuhan hotel, restoran, katering dan pasar modern (horekapasmod).

"Nah, yang horeka ini adalah ikan-ikan yang tidak ada di Indonesia, seperti ikan salmon, trout dan ikan kod," kata Budi.

Penurunan ini dipengaruhi pasokan ikan hasil tangkapan nelayan dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan pemindangan. Ikan yang pasokannya cukup banyak yakni ikan-ikan pelagis seperti ikan kembung.

Oleh karena itu, pihaknya berupaya terus mendorong pelaku pengolahan dan pemindangan untuk memprioritaskan ikan hasil tangkapan nelayan kita sendiri. Untuk komoditas utamanya masih didominasi oleh udang, tuna-tongkol-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan kepiting, dan rumput laut.

"Dari awal tahun sampai Mei pasokan kita cukup, sehingga diprioritaskan menggunakan produk hasil tangkapan dalam negeri. Ikan impor itu hanya untuk mengisi ketika tak ada bahan baku," jelasnya.

Sedangkan kinerja ekspor perikanan dari Januari hingga Juni nilainya mencapai US$2,71 miliar. Negara tujuan utama pengiriman yakni Amerika Serikat sebesar US$889,39 juta disusul China (556,04 juta), Asean (353,93 juta), Jepang (285,47 juta), dan Uni Eropa (193,35 juta).

Kendati demikian, kinerja ekspor perikanan masih terus digenjot melalui strategi promosi hasil perikanan, peningkatan kualitas hasil perikanan, hingga membuka peluang pasar baru di negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur.

Baca Juga: Target Stop Impor Gula Putih 2026 Ditegaskan di NSS 2025 Surabaya

Editor : Ading
Berita Terbaru

Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!

“Insya Allah konstruksinya sudah sesuai. Tiang-tiang utamanya juga masih kuat,” jelas Juru Bicara Anda Advertising, Nana.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya. 

PMI Surabaya dan Solo Jajaki Kerja Sama "Sister City" dalam Kunjungan Studi Banding

“Melihat potensi kedua kota, kami mengusulkan adanya kerja sama antata Surabaya dan Solo,” jelas Sumartono.