Selasa, 03 Feb 2026 23:25 WIB

Pakar Psikologi UNAIR Sebut Caleg Gagal Cendrung Khawatir Dapat Bullying

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 01 Mar 2024 08:43 WIB
Foto: Ilustrasi Caleg gagal
Foto: Ilustrasi Caleg gagal

selalu.id - Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 telah usai, para calon legistilatif (Caleg)  tinggal menunggu hasil real count suara dari keputusan KPU. Namun, memasuki momen penuh tantangan baru dengan harapan mereka dapat memenangkan kursi yang mereka bidik.
 
Bagi seorang caleg kemenangan merasakan beban tanggung jawab yang besar, sedangkan kekalahan bisa  mengantarkan ke gejala stres.

Menanggapi itu, Pakar Psikologi Universitas Airlangga, (UNAIR) Atika Dian Ariana mengatkan tidak jarang durasi video pendek di sosial media tersebar luas, seorang caleg yang sedang stres karena tidak mendapatkan suara.
 
“Stres secara umum adalah persepsi ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak dianggapnya tidak dapat diatasi dengan sumber daya yang dimilikinya. Tekanan dan rasa malu itu muncul karena tidak terpenuhinya ekspektasi yang dimiliki sebelumnya,” kata Atika, Jumat (1/3/2024).

Menurut Atika tekanan dan gejala untuk Caleg mulai tampak, dengan persoalan  yang begitu kompleks karena caleg nyatanya banyak melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga besar, partai politik, rekan kerja hingga tim sukses.

Ketakutan itu pun, kata dia,  bisa bertambah jika pencalonan caleg menggunakan nilai material atau transaksi. Ia menilai, perasaan gagal dan penurunan harga diri sering kali dapat diatribusikan kepada persepsi individu tentang karakter pribadinya sendiri.
 
Atika menyebut, caleg yang gagal cenderung menarik kesimpulan negatif terhadap diri mereka sendiri, seperti merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup kapabilitas atau kompetensi untuk berhasil dalam politik.

“ Belum lagi validasi lingkungan, kolom komentar netizen yang dikhawatirkan memberikan komentar negatif atau bullying,” ujarnya.

Lebih lanjut Atika menjelaskan untuk mengetahui gejala seseorang yang sedang mengalami stres yaitu, perubahan pola makan, gangguan pola tidur, menarik diri dari lingkungan, perubahan perasaan sedih cemas yang signifikan dan respons fisik seperti gangguan pencernaan.

“Selain itu, gejala kognitif cenderung pelupa banyak yang dipikirkan dalam satu waktu, sulit berkonsentrasi, dan kurangnya fokus,” terangnya.

Baca Juga: Sosok Ahmad Nurjayanto, Caleg Golkar Peraih 11 Ribu Suara

Editor : Ading
Berita Terbaru

Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!

“Insya Allah konstruksinya sudah sesuai. Tiang-tiang utamanya juga masih kuat,” jelas Juru Bicara Anda Advertising, Nana.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya. 

PMI Surabaya dan Solo Jajaki Kerja Sama "Sister City" dalam Kunjungan Studi Banding

“Melihat potensi kedua kota, kami mengusulkan adanya kerja sama antata Surabaya dan Solo,” jelas Sumartono.