Rabu, 21 Okt 2026 07:13 WIB

Pakar Psikologi UNAIR Sebut Caleg Gagal Cendrung Khawatir Dapat Bullying

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 01 Mar 2024 08:43 WIB
Foto: Ilustrasi Caleg gagal
Foto: Ilustrasi Caleg gagal

selalu.id - Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 telah usai, para calon legistilatif (Caleg)  tinggal menunggu hasil real count suara dari keputusan KPU. Namun, memasuki momen penuh tantangan baru dengan harapan mereka dapat memenangkan kursi yang mereka bidik.
 
Bagi seorang caleg kemenangan merasakan beban tanggung jawab yang besar, sedangkan kekalahan bisa  mengantarkan ke gejala stres.

Menanggapi itu, Pakar Psikologi Universitas Airlangga, (UNAIR) Atika Dian Ariana mengatkan tidak jarang durasi video pendek di sosial media tersebar luas, seorang caleg yang sedang stres karena tidak mendapatkan suara.
 
“Stres secara umum adalah persepsi ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak dianggapnya tidak dapat diatasi dengan sumber daya yang dimilikinya. Tekanan dan rasa malu itu muncul karena tidak terpenuhinya ekspektasi yang dimiliki sebelumnya,” kata Atika, Jumat (1/3/2024).

Menurut Atika tekanan dan gejala untuk Caleg mulai tampak, dengan persoalan  yang begitu kompleks karena caleg nyatanya banyak melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga besar, partai politik, rekan kerja hingga tim sukses.

Ketakutan itu pun, kata dia,  bisa bertambah jika pencalonan caleg menggunakan nilai material atau transaksi. Ia menilai, perasaan gagal dan penurunan harga diri sering kali dapat diatribusikan kepada persepsi individu tentang karakter pribadinya sendiri.
 
Atika menyebut, caleg yang gagal cenderung menarik kesimpulan negatif terhadap diri mereka sendiri, seperti merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup kapabilitas atau kompetensi untuk berhasil dalam politik.

“ Belum lagi validasi lingkungan, kolom komentar netizen yang dikhawatirkan memberikan komentar negatif atau bullying,” ujarnya.

Lebih lanjut Atika menjelaskan untuk mengetahui gejala seseorang yang sedang mengalami stres yaitu, perubahan pola makan, gangguan pola tidur, menarik diri dari lingkungan, perubahan perasaan sedih cemas yang signifikan dan respons fisik seperti gangguan pencernaan.

“Selain itu, gejala kognitif cenderung pelupa banyak yang dipikirkan dalam satu waktu, sulit berkonsentrasi, dan kurangnya fokus,” terangnya.

Baca Juga: Kasus Penahanan Ijazah di Surabaya, Pakar Hukum Soroti Pelanggaran Berat

Editor : Ading
Berita Terbaru

Kisah Dua Saudara di Nganjuk Merawat Takdir Gamelan Legendaris di Panggung Dunia

Satu paket gamelan lengkap dibanderol mulai Rp90 juta untuk material besi puncu kuningan, sedangkan untuk material full kuningan mencapai Rp300 juta per paket.

Gegara Sampah, Garasi Rumah dan Mobil di Nganjuk Ludes Terbakar

Atas kejadian ini, pihak Damkar mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, terutama saat kondisi cuaca berangin, apalagi musim kemarau.

Polda Jatim Minta Mahasiswa Kritis dan Objektif Sikapi Isu Daerah

Polda Jatim komitmen untuk terus memelihara komunikasi yang berkesinambungan dengan elemen mahasiswa demi terciptanya stabilitas kamtibmas yang aman dan damai.

Bunda Jelita Surabaya Integrasikan Layanan Ibu dan Bayi Sejak Catin hingga Pascapersalinan

Integrasi ini memudahkan masyarakat mengakses layanan administrasi kependudukan tanpa harus mendatangi sejumlah kantor pelayanan secara terpisah.

Guru SMK Hamil 8 Bulan Tewas Usai Tabrak Minibus di Mojokerto, Ini Namanya

Peristiwa tragis itu terjadi ketika korban sedang perjalanan hendak menuju tempatnya mengabdi sebagai pendidik di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Gelar Razia Simpatik, Petugas Bagi-bagi Helm SNI Buat Pengendara Taat Pajak di Sidoarjo

Ke depan, operasi simpatik dan penagihan dari rumah ke rumah akan terus digencarkan secara bergiliran di sejumlah lokasi strategis di Kabupaten Sidoarjo.