• Loadingselalu.id
  • Loading

Sabtu, 18 Mei 2024 23:18 WIB

Gunakan Aplikasi Standarisasi Harga Telur, Perhimpunan Peternak Halau Monopoli Komoditas

Foto: Peternakan Ayam Petelur

Foto: Peternakan Ayam Petelur

selalu.id - Harga telur yang terus melambung tinggi bisa berpotensi menimbulkan dampak perekonomian yang eskalatif. Pasalnya telur merupakan salah satu komoditas unggulan dalam dunia peternakan.

Oleh karenanya, selalu.id kali ini akan membahas tentang guliran harga telur (ayam, bebek dan puyuh) yang sangat penting untuk diketahui masyarakat Indonesia.

Peran pentingnya mengetahui patokan harga pasaran terbagi dua, pertama untuk para bakul atau pengecer dan kedua manfaat bagi para peternak.

Berdasarkan pada patokan standart harga telur di aplikasi 'Harga Komoditas Unggas Nusantara - Peternak Rakyat', satu platform yang digagas oleh perhimpunan peternak nusantara.

Peternak dan bakul atau pembeli dapat berpatokan pada standarisasi harga yang telah terhitung secara kalkulatif alogaritma dalam applikasi tersebut. Sehingga dapat menghindari permainan harga dan monopoli komoditas.

Aplikasi tersebut memang banyak digunakan para peternak untuk memantau pergerakan stok dan serapan pasar yang nantinya bisa digunakan peternak untuk menambah produksi atau mengurangi produksi dan harga jual ke pembeli.

Baca Juga: Dilema Peternak Ayam Diantara Harga Pakan dan Telur



Sementara itu, dengan mengetahui harga telur nantinya akan tercipta siklus yang berulang setiap tahunnya di bulan-bulan tertentu seperti bulan puasa dan tahun baru dimana serapan dan harga telur akan merangkak naik.

Andik Setiono (52) salah satu peternak puyuh petelur di Tulungagung mengatakan, dengan mengetahui harga detail perwilayahnya dan perharinya, peternak memiliki harga acuan dan standart hari itu jika ingin menjual hasil panen telurnya, baik telur ayam, bebek maupun telur puyuh.

"Dengan begitu, tidak dipermainkan harga belinya oleh pembeli seperti bakul atau agen," jelas peternak yang memiliki 5.000 ekor populasi puyuh petelur ini kepada selalu.id saat dikinfirmasi, Rabu (28/2/2024).

Dikatakannya, dengan melihat harga jual peternak bisa menghitung pendapatan keuntungan hariannya, yang dimana peternak sebelumnya sudah memiliki standart patokan jual diangka berapa mereka menjual untuk mendapatkan keuntungan.

"Walaupun terkadang harga jual tidak selalu diatas harga operasional yang dikeluarkan, dan bisa saja penjualan hari itu mereka mengalami kerugian. Tetapi dengan adanya info harian (Aplikasi Harga Komoditas Unggas Nusantara) ini kerugian bisa ditekan," terangnya.

Menurutnya, untuk pembeli lokalan atau di wilayah tertentu terkadang para tengkulak atau agen (termasuk para bakul) sudah mendapatkan harga telur hari ini terlebih dahulu karena sudah bisa melihat serapan pasar dan stok di lapangan.

"Karena mereka yang berhubungan langsung dengan pembeli atau masyarakat. Tetapi sedikit kesulitan apabila stok di lokal habis dan ingin mengambil di wilayah lain," tandasnya.

Senada dengan Andik, Rohman (44) salah satu peternak ayam petelur di Blitar Jawa Timur juga mengungkapkan, adapun keuntungan mengetahui harga telur, bakul bisa mendapatkan harga telur yang murah dengan melihat update-an harga wilayah mana saja yang harganya di bawah harga wilayah lain.

"Dengan melihat harga hari ini bakul atau pembeli bisa menentukan harga jual hari ini walaupun mereka tidak membeli ke peternak karena stok masih ada," ucapnya.

Jika tadi telah dibahas tentang harga jual telur, sebaliknya Rohman akan menjelaskan kenapa harga telur naik. Hal ini tidak lain dikarenakan permintaan meningkat dan produksi tetap bahkan berkurang.

Hal ini sering terjadi baik di lokal maupun nasional ketika ada hajatan, atau saat lebaran dan tahun baru dimana banyak keluarga yang pulang kampung ke halaman dengan membawa anak saudaranya.

"Hajatan disini seperti peringatan nifsu syaban, pemilu kemarin, maupun acara-acara besar lainnya. Juga bisa karena bentar lagi kan lebaran. Dan yang pasti harga pakan juga naik, jadi mau tidak mau kami selaku peternak juga ikut menaikkan harga," ungkapnya.

Harga pakan naik, tidak bisa dipungkiri lagi dengan pakan yang sampai 75 persen dari total produksi membuat peternak harus menaikkan harga jual agar menutupi harga produksi dan mendapatkan keuntungan.

Disisi lain, DOC dan pullet juga mengalami kelangkaan, bisa disebabkan karena pembatasan oleh pemerintah dari hatchery untuk mengontrol harga telur atau terkendalanya import dari grand parent stok.

"DOC dan pullet juga langka sekarang, kami juga terkadang merasa bingung. Tapi, ya dijalanin saja," tukasnya.

Seperti diketahui, berdasarkan pantauan selalu.id, harga telur langsung dari peternak hari ini di Medan Rp1.600-1700/butir, Tapanuli naik kisaran Rp1.575-1700/butir, Payakumbuh naik Rp1.610-1670/butir

Sementara di Lampung Rp28.000/kg, Palembang Rp26.500/kg, Jakarta Rp29.000/kg, Banyumas Rp28.900/kg Tegal Rp28.300/kg, Pati Rp27.500/kg.

Beberapa kota lain, seperti Semarang harga telur  saat ini berada diangka Rp28.500/kg, Cilacap Rp28.400/kg, Solo Rp28.200/kg, Salatiga Rp27.800/kg, Jogja Rp28.800/kg, Blitar Rp27.300/kg, Probolinggo Rp28.000/kg, Malang Rp27.000/kg, dan Surabaya Rp28.000/kg, serta Banyuwangi yang mencapai Rp29.600/kg.

Baca Juga: Harga Telur Masih Melambung di Hari Kedua Ramadan

Editor : Ading