Satpam SD di Surabaya Sodomi Siswa, Orangtua Wadul Dewan
- Penulis : Ade Resty
- | Kamis, 25 Jan 2024 18:22 WIB
selalu.id - Orang tua wali murid mengadu ke DPRD Surabaya terkait anaknya yang menjadi korban kekerasan seksual oleh salah satu satpam di SDN 5 Ploso Surabaya.
Hal ini dibenarkan oleh Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono bahwa salah satu orang tua korban, yakni sang ayah menceritakan kondisi anaknya yang telah dicabuli di sekolah kepada dirinya.
"Kejadiannya sudah setengah tahun yang lalu. Dan, ini terduga pelakunya itu sekuriti sekolah dasar," kata Baktiono, saat dihubungi.
Saat ini Ayah korban berisinial AM (52) telah mendatangi kantor DPRD Surabaya, Kamis (25/1/2024), melaporkan ke bagian Komisi D terkait dugaan kekerasan terhadap anaknya.
"Kejadiannya tidak sekali untuk dua korban anak di SDN 5 Ploso Surabaya," terangnya.
Sehingga, ia menyarankan orang tua korban mengadu ke Komisi D terkait hal itu. Baktiono mengaku geram mendengar laporan dari korban yang diduga pelaku melakukan disodomi dan dipaksa oral ke korban.
Sementara, Ayah korban berisinial AM (52) menceritakan bahwa dua anak laki-lakinya B (13) dan U (8) itu pernah mengalami kekerasan seksual berkali-kali sejak tahun 2020. Di tahun 2022 hingga 2023 kedua putranya kembali mendapatkan kekerasan seksual di lingkungan rumah hingga di sekolah.
“2021 anak saya kena pencabulan lagi oleh kelompok predator beberapa orang secara bergantian, sebanyak 10 orang kalau gak salah secara bergantian” katanya, usai mengadu ke DPRD Surabaya.
Diketahui AM telah bercerai dengan istrinya yang selingkuh dengan keluarganya sendiri atau ponakannya. Bahkan, ponakannya itu juga diduga menjadi pelaku kekerasan seksual anaknya yang bungusu yakni U. Sehingga, AM dan kedua putranya pindah tempat tinggal ke kawasan karang asem.
“Saya sudah cerai sama mantan istri karena istri saya selingkuh sama keponakan saya (keluarganya) bawa U ke kos-kosan depan sekolah itu, U kembali dicabuli,” lanjutnya.
Tak hanya itu, usai pindah rumah lagi dan memindahkan anaknya sekolah di SDN 5 Ploso Surabaya terjadi justru mendapat perlakuan dugaan pencabulan lagi terhadap seorang Satpam.
Hal itu terungkap pada Januari 2023, putranya U bercerita kalau telah dicabuli oleh satpam sekolahnya di kawasan sekolahnya..
“Setelah itu saya sekolahkan anak saya ke SD Ploso V, selang beberapa bulan sudah saya titipkan ke kepala sekolah sama wali kelasnya itu. Bu tolong anak saya dijaga karena ada masalah seperti ini (kekeraaan seksual),” jelasnya.
Ia pun memebeberkan kejadian pelecehan yang dialami anakanya itu. “2022 itu ponakan (pelaku cabuli) di Desember, yang Januari Satpam sekolah Januari 2023 sampai sekarang saya laporkan jadi 2024 ini,” tambahnya.
AM pun geram dan melaporkan kejadian itu ke Polrestabes, namun hingga kini belum ada kejelasan dan laporannya tidak berlanjut karena bukti tak cukup kuat.
Bahkan laporan itu ke Polda Jatim dan dilimpahkan ke Polrestabes, namun dirasa kurang bukti. Hari ini, AM dan kedua anaknya mendatangi DPRD Surabaya dengan harapan ada titik terang.
Pada laporan tahun 2020, U dan B mendapatkan pendampingan dari Dinas Pemberdayaan, Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Surabaya. Namun kini sudah tidak mendampingi lagi.
Saat dikonfirmasi, Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Rina Shanty Dewi Nainggolan membenarkan bila ada laporan dari AM terkait pencabulan sejak 2020.
Tetapi dalam kasus tersebut hasilnya dinyatakan SP3 karena memang tidak terbukti. Kata dia, sejak tahun 2020, ada tiga laporan yang ditujukan kepada keponakannya berinisial E. Dari ketiga laporan, semuanya SP3 atau tidak terbukti.
"Ada tiga kali dia melaporkan oleh ponakannya. Karena memang tidak terbukti," kata AKP Rina.
Berdasarkan hasil psikologi yang dilakukan PPA dan DP3A, anaknya diminta ayahnya untuk berbohong. Dimana tidak ada kasus pencabulan itu.
"2023 ada laporan lagi kita lidik juga seperti itu. Setelah kita pisahkan ponakannya dengan dia, ponakannya mengakui bahwa dia disuruh oleh anaknya. Anaknya disuruh bapaknha untuk berbohong. Anaknya ini, hasil psikologinya anaknya berbohong," jelasnya.
Laporan pada tahun 2023, AM menyuruh anaknya membuat laporan ke kepolisian. Namun laporan dihentikan.
Lokasi kos-kosan dekat sekolah yang disebut AM pada kejadian Desember 2022, setelah ditelusuri kepolisian di TKP tidak ada. Bukan indekos, melainkan rumah dan pemilik rumah tak merasa ada keponakan dan anak AM pernah masuk rumah tersebut.
"Dari laporannya itu, untuk anaknya yang dibawa. Semua yang dilaporkan dsri hasil BAP jarak pada saat itu TKP jauh yang digambarkan di TKP ga ada. Gambaran kos-kosan saat kita datang rumah dan yang punya rumah bilang ga ada masuk rumah itu. Yang dilaporkan keponakannya," urainya.
Hal yang sama juga disampaikan Kepala DP3A-PPKB Surabaya Ida Widayati mengatakan, kasus ini sudah terjadi sejak 2020. Pada tahun 2021 pernah ditangani oleh Komisi D DPRD Surabaya.
"Bapaknya bermasalah dengan istrinya, bapaknya ga punya pekerjaan yang bekerja istrinya. Dia tinggal di rumah keluarga istrinya, di dalamnya ada yang namanya E keponakannya. Nah cemburu dia sama E. Sebetulnya cemburu ke istrinya, tapi ga berani sama istrinya, wong yang nyukupi istrinya. Akhirnya dia buat cerita bahwa anaknya disodomi E," kata Ida.
Saat dampingi di Polrestabes, tidak terbukti dan laporan dicabut. Kemudian, melaporkan hal yang sama lagi ke Polda dan Polrestabes, namun semuanya juga menolak karena tak ada bukti. Baik yang dilakukan E maupun satpam sekolah.
AM juga pernah meminta bantuan lembaga hukum Unair dan didampingi DP3A. Hasilnya pun juga sama, tak ada. Ida menjelaskan, saat di BA, anaknya sendiri bercerita bahwa tidak ada apa-apa atau tidak ada kekerasan seksual. Tetapi, saat di BAP didampingi ayahnya, sang anak diarahkan bercerita seolah ada kekerasan seksual.
"Kalau ke anaknya iya, kasihan anaknya jadi korban bapaknya, harus mengiyakan apa pun yang diceritakan bapaknya. Bapaknya kemana-mana, kasihan anaknya, padahal anaknya ga kenapa-kenapa,” terangnya
“Ya semoga mau kesini bapaknya, tapi kayaknya sudah ga berani ke DP3A. Yang pegang kedua anaknya ini satu konselor, tahu ceritanya, ga pernah saya ganti konselor," pungkasnya
Baca Juga: Atap Kelas SMPN 60 Surabaya Ambruk, DPRD Desak Evaluasi Total Bangunan Sekolah
Editor : AdingURL : https://selalu.id/news-6326-satpam-sd-di-surabaya-sodomi-siswa-orangtua-wadul-dewan
