Kamis, 22 Okt 2026 09:58 WIB

DPRD Surabaya Minta Perda Retribusi dan Pajak Dibekukan, Ini Alasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 21 Jan 2024 10:55 WIB
Gedung DPRD Surabaya
Gedung DPRD Surabaya

selalu.id - DPRD Surabaya meminta penerapan Peraturan Daerah (Perda) Surabaya Nomor 7 Tahun 2023 tentang Rertibusi dan Pajak Daerah dibekukan. Hal karena berpotensi mengancam ekonomi kreatif masyarakat.

Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Arif Fathoni mengatakan, karena viralnya pengumuman sekaligus sosialisasi Perda 7/2023 di Balai Pemuda beberapa saat lalu.

Baca Juga: DPRD Surabaya Siapkan Public Hearing dalam Tatib Baru, Cegah Protes Perda Susulan

Oleh karena itu, Toni sapaan akrabnya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menunda penerapan perda tersebut.

Menurutnya, Pemerintah belum menerapkan Undang-undang No.1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Karena ada proses Judicial Review di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Kalau kemudian aturan yang di tingkat pusat dilakukan penundaan. Ya sebaiknya Perda Nomor 7 Tahun 2023 ini juga dilakukan penundaan terlebih dahulu penerapannya. Sehingga tidak terjadi kesimpang siuran di masyarakat," kata Toni kepada wartawan saat di temui di Kantor DPRD Surabaya, Minggu (20/01/2024).

Politisi Partai Golkar ini menilai Perda yang digedok oleh Pemkot Surabaya pada akhir tahun 2023 dan berlaku mulai 1 Januari 2024 itu, belum sepenuhnya tersosialisasikan kepada masyarakat.

Baca Juga: Banyak Kabel Semrawut di Surabaya, DPRD Minta Pemkot Tertibkan dan Tegas Pada Provider

Bahkan, sesi pemotretan dan pengambilan video produk, hingga calon pengantin atau prewedding bakal dikenakan biaya Rp500.000 untuk jangka waktu tiga jam.

Oleh karena itu, Toni meminta pembekuan Perda 7/2023, kemudian dilakukan pengkajian ulang untuk kajian akademisnya dan menggunakan peraturan sebelumnya. Dengan demikian, perda tersebut dapat menjadi landasan hukum yang mensejahterakan masyarakat.

"Kalau kemudian timbul ketidakpastian ekonomi yang dibuat komponen pajak dan retribusi yang naik sedemikian rupa. Saya yakin itu malah tidak bagus bagi pertumbuhan ekonomi kita," jelasnya.

Baca Juga: 45 Ribu Reklame di Surabaya, Ratusan Masih Bandel dan Nunggak Pajak

"Otomatis ya kita kembali ke peraturan sebelumnya. Sehingga para pelaku usaha yang ada di Kota Surabaya ini tidak merasa was-was dan tidak merasa dirugikan," sambungnya.

Toni juga mendesak Pemkot Surabaya untuk segera melakukan perbaikan Perda 7/2023 itu, dengan mengundang para pelaku usaha dan stakeholder lainnya, yang masing-masing memiliki unit komponen pajak retribusi. Dengan demikian, gejolak pada masyarakat tentang naiknya retribusi itu dapat diredakan.

"Jika tidak direvisi, ada kekhawatiran dan justru malah membuat pertumbuhan ekonomi kita menjadi terganggu. Karena isu kenaikan pajak itu, isu yang sensitif di negara manapun," tegasnya

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

67 Bangunan Liar di Frontage Road Sidoarjo Diratakan

selalu.id - Pemkab Sidoarjo menurunkan sekitar 600 personel gabungan untuk membongkar 67 bangunan liar di sepanjang frontage road di Kecamatan Waru, Gedangan,

Top 5 Berita: Klaim Utang Mendiang Suami hingga Hasil Liga Champions

Pembaca tertarik berita utang piutang hingga ekonomi.

Hasil Liga Champions: Como Bantai Manchester United 4-1, Setan Merah Tak Berkutik

Nico Paz jadi bintang lapangan. Gelandang muda Argentina itu mencetak 2 gol dan 1 assist.

Antisipasi Kekeringan, Pemkab Mojokerto Salurkan 84 Tangki Air Bersih ke Trawas dan Ngoro

Langkah Pemkab Mojokerto ini diharapkan dapat meringankan beban warga selama musim kemarau dan memastikan kebutuhan air bersih terpenuhi hingga musim hujan.

Polda Jatim Luncurkan Polisi Jogo Sekolah, Bentengi Siswa dari Bullying dan Narkoba

Irjen Dekananto memastikan Polisi Jogo Sekolah tidak akan berhenti sebagai kegiatan seremonial belaka, melainkan memberi manfaat nyata bagi pendidikan di Jatim.

Sindikat Pengoplos LPG Subsidi Digulung Polres Pasuruan, 8 Orang Diamankan

Nilai penjualan ditaksir mencapai Rp300 juta dengan proyeksi keuntungan pihak B-P hingga Rp1 miliar, yang kini masih terus didalami penyidik.