Kamis, 05 Mar 2026 22:59 WIB

Cerita Mencekam WNI Surabaya saat Konflik Timur Tengah: Dari Hujan Rudal, Lalu Tertahan di Tengah Laut

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 05 Mar 2026 21:15 WIB
Hujan rudal dalam perang Amerika-Israil dan Iran di laut Bahrain. (Dok. Dimas for selalu,id).
Hujan rudal dalam perang Amerika-Israil dan Iran di laut Bahrain. (Dok. Dimas for selalu,id).

selalu.id - Hujan rudal di langit Bahrain saat konflik antara Amerika-Israel dan Iran, menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Dimas, Warga Negara Indonesia (WNI) asal Surabaya. 

Pagi itu, Sabtu (28/2/2026), benar-benar mencekam. Matanya sekita terbelalak. Yang awalnya mengantuk, langsung seolah dihunus pedang yang tajam. 

Baca Juga: Perang Timur Tengah Memanas, Pemkot Minta Warga Surabaya Tunda ke Luar Negeri

Tak terbayang jika rudal itu mengenainya. 

Dimas adalah kru kapal asal Indonesia. Tepatnya sebagai Chief Engineer. 

Dia bekerja di salah satu perusahaan pelayaran internasional.

Kepada selalu.id, Dimas mengatakan dirinya baru tiba di Bahrain ketika serangan pertama terjadi. Saat itu, dia berada di Pelabuhan Khalifa Bin Salman Port.

“Saya berangkat dari Soekarno-Hatta hari Jumat 27 Februari 2026 malam, dan sampai di Bahrain paginya, Sabtu tanggal 28. Sampai di sana langsung pecah serangan,” kata Dimas mengawali ceritanya, Kamis (5/3/2026).

Ia mengatakan serangan tersebut diawali dengan serangan Amerika-Israel ke Iran yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain.

Pangkalan militer AS di negara itu merupakan salah satu yang terbesar di kawasan Timur Tengah.

“Dari tempat kami jaraknya mungkin sekitar 10 kilometer. Jadi waktu rudal ditembakkan itu kelihatan jelas dari kejauhan. Ledakannya terlihat, bahkan asapnya juga terlihat,” ungkapnya.

Dimas mengaku situasi paling menegangkan terjadi pada malam hari ketika rudal-rudal saling berhadapan di udara sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 Waktu wilayah Bahrain.

“Kalau kita lihat ke langit itu seperti ada kembang api. Padahal sebenarnya rudal dari Iran ditembakkan lalu dicegat oleh sistem pertahanan militer AS,” tambahnya.

Dari kejauhan, cahaya ledakan di udara terlihat jelas sebelum suara dentuman terdengar beberapa detik kemudian.

“Kita lihat dulu cahayanya pecah di langit, beberapa detik kemudian baru terdengar suara ledakannya. Suaranya seperti petir,” ingatnya ketakutan.

Meski menegangkan, ia mengaku pengalaman itu terasa campur aduk antara takut dan takjub.

“Jujur rasanya ngeri juga, tapi sekaligus kagum karena melihat kejadian seperti itu secara langsung,” tutur Dimas.

Baca Juga: Mengenal LUCAS, Drone Murah AS yang Bikin Pemimpin Besar Iran Ali Khamenei Meninggal Dunia

Perang Rudal Hari Kedua

Dimas mengatakan situasi semakin menegangkan pada hari kedua ketika beberapa rudal berhasil lolos dari sistem pencegat.

“Di hari kedua lebih banyak rudal yang lolos. Salah satunya ada yang menghantam hotel,” sebutnya.

Namun ia menjelaskan hotel tersebut bukan hotel untuk warga sipil. Ia pun mengaku langsung hantaman rudal ke hotel tersebut.

“Hotel yang terkena itu sebenarnya bukan hotel umum. Itu biasanya tempat para perwira militer AS menginap,” jelas Dimas.

Setelah hari kedua, intensitas serangan disebut mulai berkurang meski sesekali suara ledakan masih terdengar.

“Sekarang sudah tidak sebanyak hari pertama dan kedua. Kadang masih terdengar suara ledakan, tapi tidak sesering sebelumnya,” bebernya.

Pelabuhan di Bahrain Ditutup

Konflik tersebut juga berdampak pada aktivitas pelabuhan di Bahrain. 

Dimas mengatakan operasional pelabuhan sempat dihentikan sehingga kapal tempatnya bekerja harus menjauh dari daratan.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ali Khameini, Murid Sekaligus Suksesor Ruhollah Khomeini 

“Secara operasional pelabuhan berhenti. Kami juga mendapat instruksi dari perusahaan untuk menjauhi pelabuhan,” paparnya.

Akibatnya kapal tempatnya bekerja kini hanya berada di laut sambil menunggu instruksi lebih lanjut.

“Jadi sekarang kapal kami hanya standby di laut, istilahnya mengapung di tengah laut sambil menunggu instruksi,” ujarnya.

Meski berada di laut, ia mengaku rasa khawatir tetap ada karena setiap hari masih terdengar suara rudal dan ledakan.

“Kalau dibilang takut ya pasti takut. Mendengar suara rudal saja sudah bikin deg-degan,” jelasnya.

Untuk mengurangi ketegangan dan rasa takut, Dimas dan rekan-rekannya mencoba saling menghibur. 

“Kami kadang bercanda saja, bilang kapan lagi bisa minum kopi sambil melihat rudal di langit,” ungkapnya.

Sejauh ini, kata Dimas, kru kapal Indonesia di Bahrain masih berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan belum ada instruksi evakuasi.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Mojokerto Geger, Pemuda Ditemukan Tewas Tinggal Kerangka di Dalam Rumah

Temuan itu pun menggegerkan warga. Polisi saat ini tengah melakukan penyelidikan.

Arus Logistik Jelang Lebaran Meningkat, Pelindo Antisipasi Kepadatan di Pelabuhan

Volume arus logistik Lebaran bakal meningkat 80 persen. Apalagi Surabaya selama ini kerap menjadi jalur transit ke wilayah Timur.

Pelaku Penipuan dan Penggelapan Penginapan di Mojokerto Belum Ditahan, Kenapa?

Kasus penipuan penggelapan ini bergulir sejak pemilik penginapan melaporkan dugaan tipu gelap yang dilakukan oleh dua orang yang dipercaya untuk mengurus.

Momen Polda Jatim Bagikan 600 Paket Takjil pada Pengguna Jalan di Surabaya

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian memperingati bulan suci Ramadan sekaligus sarana mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.

Pemkot Mojokerto Bersama Pos Indonesia Salurkan Bansos Bagi 1.077 Lansia Kurang Mampu

Banntuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih, khususnya menjelang lebaran.

Kader PDIP DPRD Kediri Dilaporkan soal Ijazah Palsu, Sanksi Tegas Menanti

DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menyatakan akan menindaklanjuti dan mengusut tuntas kasus tersebut.