Jumat, 23 Okt 2026 00:54 WIB

Ancaman Spyware Canggih Mengintai, Ketahanan Siber Indonesia Diuji

Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat. (Dok. Humas Untag Surabaya).
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat. (Dok. Humas Untag Surabaya).

selalu.id – Perkembangan teknologi digital yang memudahkan komunikasi, transaksi, dan layanan publik kini dihadapkan pada ancaman siber yang semakin kompleks dan sulit terdeteksi.

Terungkapnya sistem spyware bernama Graphite yang dikaitkan dengan Paragon Solutions menjadi pengingat keras bahwa keamanan digital Indonesia tidak lagi hanya soal virus atau peretasan konvensional.

Baca Juga: Massa Demo Berpakaian Serba Hitam Mulai Datang di Depan Grahadi Surabaya

Berbeda dengan serangan generasi sebelumnya, spyware modern bekerja senyap di dalam sistem operasi perangkat, masuk dalam kategori Advanced Persistent Threats (APT) yang menargetkan sistem inti dan bertahan lama tanpa terdeteksi.

Laporan ENISA Threat Landscape 2023 mencatat peningkatan eksploitasi kerentanan perangkat, termasuk teknik zero-click exploit yang bisa menginfeksi perangkat tanpa korban mengklik apa pun.

Kondisi ini menantang asumsi rasa aman masyarakat. Banyak pengguna merasa terlindungi dengan aplikasi ber-enkripsi ujung-ke-ujung seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal.

Namun, kajian endpoint security menunjukkan jika sistem operasi ponsel disusupi, pesan bisa diakses sebelum terenkripsi atau setelah didekripsi persoalan mendasar bukan pada jalur komunikasi, melainkan keamanan perangkat itu sendiri.

Indonesia tidak luput dari ancaman ini. Laporan tahunan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat tingginya anomali trafik siber nasional, mulai dari malware hingga upaya eksploitasi sistem.

Baca Juga: Ruang Data Centre Lama Untag Terbakar, Satu PMK Diterjunkan

Tekanan terhadap infrastruktur digital bersifat konstan dan memerlukan respons sistematis.

Secara regulasi, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Namun, tantangan terletak pada implementasi teknis, pengawasan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar regulasi tidak berhenti sebagai norma administratif semata.

Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat, menegaskan tantangan utama bukan hanya pada teknologi, melainkan tata kelola dan budaya keamanan.

Baca Juga: DPRD Surabaya Siapkan Public Hearing dalam Tatib Baru, Cegah Protes Perda Susulan

"Selama keamanan siber masih diposisikan sebagai isu teknis semata, sementara manajemen risiko, kepatuhan, dan literasi digital belum menjadi prioritas strategis, kerentanan akan terus berulang," terang dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya tersebut kepada selalu.id, Jumat (20/2/2026).

Supangat menambahkan, perguruan tinggi harus menjadikan keamanan siber fondasi pengembangan teknologi, bukan pelengkap, dengan memperkuat riset dan kolaborasi antarinstansi.

"Pada level praktis, audit keamanan berkala, pembaruan sistem disiplin, dan literasi digital menjadi langkah tak tertunda. Ketahanan siber adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga kepercayaan publik dan kedaulatan data nasional," jelasnya.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Pabrik Daur Ulang Ban Bekas Dekat SPBU di Mojokerto Terbakar

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih diselidiki pihak kepolisian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir cukup besar.

Polda Jatim Amankan 11 Orang Diduga Pembuat Onar saat Demo di Grahadi Surabaya

Dalam penangkapan itu, polisi turut menyita barang bukti cairan tiner, minuman keras jenis arak, senjata keling (knuckle), hingga beberapa telepon seluler.

7.000 Hektare Hutan dan Lahan di Indonesia Masih Terbakar, Ini Daftar Wilayahnya

Selain karhutla, BNPB mencatat 2.188 bencana alam melanda Indonesia hingga Oktober 2026. Dari kekeringan, gempa, erupsi gunung, hingga cuaca ekstrem.

Banyak Santri Terganjal Aturan Usia 16 Tahun, DPRD Surabaya Desak Revisi Juknis Beasiswa

Muhammad Saifuddin mengungkapkan, dari target awal 3.000 santri penerima beasiswa pada 2026, baru sekitar 700 santri yang terealisasi.

Kanwil Kemenag Jatim Luncurkan Aplikasi El-Santri pada Hari Santri 2026, Ini Kegunaannya

Syaikhul Hadi menekankan pentingnya sikap adaptif dan inovatif agar ilmu yang dimiliki mampu menjawab tantangan zaman. 

Soal Isu Kredit Fiktif Rp690 Juta, BRI Nganjuk Tegaskan Sesuai Prosedur

BRI Nganjuk juga telah memanggil pihak keluarga terkait untuk duduk bersama. Ruang mediasi dibuka guna mencari jalan keluar terbaik sesuai regulasi.