Ancaman Spyware Canggih Mengintai, Ketahanan Siber Indonesia Diuji
- Penulis : Dony Maulana
- | Jumat, 20 Feb 2026 19:07 WIB
selalu.id – Perkembangan teknologi digital yang memudahkan komunikasi, transaksi, dan layanan publik kini dihadapkan pada ancaman siber yang semakin kompleks dan sulit terdeteksi.
Terungkapnya sistem spyware bernama Graphite yang dikaitkan dengan Paragon Solutions menjadi pengingat keras bahwa keamanan digital Indonesia tidak lagi hanya soal virus atau peretasan konvensional.
Baca Juga: DPRD Surabaya Dorong Sosialisasi Reaktivasi BPJS PBI Demi Layanan Kesehatan
Berbeda dengan serangan generasi sebelumnya, spyware modern bekerja senyap di dalam sistem operasi perangkat, masuk dalam kategori Advanced Persistent Threats (APT) yang menargetkan sistem inti dan bertahan lama tanpa terdeteksi.
Laporan ENISA Threat Landscape 2023 mencatat peningkatan eksploitasi kerentanan perangkat, termasuk teknik zero-click exploit yang bisa menginfeksi perangkat tanpa korban mengklik apa pun.
Kondisi ini menantang asumsi rasa aman masyarakat. Banyak pengguna merasa terlindungi dengan aplikasi ber-enkripsi ujung-ke-ujung seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal.
Namun, kajian endpoint security menunjukkan jika sistem operasi ponsel disusupi, pesan bisa diakses sebelum terenkripsi atau setelah didekripsi persoalan mendasar bukan pada jalur komunikasi, melainkan keamanan perangkat itu sendiri.
Indonesia tidak luput dari ancaman ini. Laporan tahunan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat tingginya anomali trafik siber nasional, mulai dari malware hingga upaya eksploitasi sistem.
Baca Juga: Pemkot Tata Ulang Pasar Tembok Dukuh Surabaya, Stannya Dikhususkan untuk Ini
Tekanan terhadap infrastruktur digital bersifat konstan dan memerlukan respons sistematis.
Secara regulasi, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Namun, tantangan terletak pada implementasi teknis, pengawasan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar regulasi tidak berhenti sebagai norma administratif semata.
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat, menegaskan tantangan utama bukan hanya pada teknologi, melainkan tata kelola dan budaya keamanan.
Baca Juga: Percepat DTSEN, Pemkot Surabaya Buka Layanan Konfirmasi Bagi Warga
"Selama keamanan siber masih diposisikan sebagai isu teknis semata, sementara manajemen risiko, kepatuhan, dan literasi digital belum menjadi prioritas strategis, kerentanan akan terus berulang," terang dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya tersebut kepada selalu.id, Jumat (20/2/2026).
Supangat menambahkan, perguruan tinggi harus menjadikan keamanan siber fondasi pengembangan teknologi, bukan pelengkap, dengan memperkuat riset dan kolaborasi antarinstansi.
"Pada level praktis, audit keamanan berkala, pembaruan sistem disiplin, dan literasi digital menjadi langkah tak tertunda. Ketahanan siber adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga kepercayaan publik dan kedaulatan data nasional," jelasnya.
Editor : Zein MuhammadURL : https://selalu.id/news-12493-ancaman-spyware-canggih-mengintai-ketahanan-siber-indonesia-diuji
