Kamis, 17 Sep 2026 21:02 WIB

Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting Menurut Ahli Gizi Unair

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 20 Feb 2026 17:38 WIB
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).

selalu.id - Di tengah tren intermittent fasting yang populer untuk menurunkan berat badan, ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menegaskan bahwa pola tersebut berbeda secara mendasar dengan puasa Ramadan.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi menjelaskan perbedaan utama keduanya terletak pada tujuan pelaksanaan.

Baca Juga: IKA Unair Jember Resmi Dikukuhkan, Siap Dukung Program Pemkab

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” ujarnya, Jumat (20/8/2026).

Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan pengaturan waktu makan atau time-restricted eating. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka, tanpa makan maupun minum.

Sementara itu, intermittent fasting memiliki variasi pola. Metode paling populer adalah 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Ada pula pola 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.

Menurut Mahmud, perbedaan lain terletak pada aturan konsumsi cairan. Dalam puasa Ramadan, tidak diperbolehkan makan dan minum sama sekali selama waktu puasa.

Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori.

Dari sudut pandang ilmu gizi, ia menekankan pentingnya menjaga asupan yang beragam dan seimbang selama Ramadan.

Tubuh membutuhkan waktu 3–6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis alami dalam mengatur metabolisme.

Karbohidrat yang tidak langsung digunakan akan disimpan sebagai glikogen. Saat tubuh kekurangan asupan, cadangan tersebut dipecah kembali menjadi glukosa sebagai sumber energi.

Baca Juga: Menginspirasi Birokrasi: Sekel Surabaya Raih Gelar Doktor Lewat Riset Kelincahan Pegawai

“Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelas Mahmud.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan kebutuhan energi minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).

Jika asupan kalori terlalu rendah dalam jangka panjang, tubuh bisa mengalami defisit energi dan berisiko kehilangan massa otot.

Mahmud menyarankan pengurangan kalori dilakukan bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Memasuki Ramadan, Mahmud juga mengingatkan agar masyarakat tidak membalas rasa lapar dengan makan berlebihan saat berbuka.

Baca Juga: Tiga Jurusan Paling Diminati di UNAIR pada UTBK 2026

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan dalam jumlah besar sekaligus. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta selingan sehat bila diperlukan. Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Konsumsi sayur dan buah tinggi serat juga dianjurkan untuk membantu rasa kenyang lebih lama serta menjaga kestabilan energi selama berpuasa.

“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkas dia.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Surabaya Panaskan Mesin Atlet Menuju Porprov Jatim 2027 Lewat SRC

Penyelenggaraan SRC merupakan bagian dari komitmen Pemkot Surabaya bersama KONI untuk memastikan atlet tetap memiliki ruang bertanding dan kembangkan prestasi.

Dinkopumdag Surabaya Tegaskan Lapak SWK Gratis, Ada Praktik Sewa Ilegal Laporkan

Dinkopumdag Surabaya meminta masyarakat atau pihak yang dirugikan segera melapor jika memiliki bukti transaksi jual beli maupun sewa-menyewa lapak.

PMII Sidoarjo Bongkar Catatan RAPBD Perubahan 2026, Minta Pengesahan Ditunda

Ketua Umum PC PMII Sidoarjo, Muchammad Alfien Ananta mengatakan surat terbuka itu merupakan hasil kajian yang dilakukan selama kurang lebih lima bulan.

Bukan Cuma Kebersihan, Ini 4 Pilar dan Bobot Penilaian Lomba Kampung Pancasila Surabaya

Koordinator penilaian, Maria, mengatakan pembagian bobot itu menjadi dasar dalam menentukan kampung yang dinilai memenuhi berbagai aspek kehidupan bermasyakat.

AAI Gelar Munaslub dan Dialog Terbuka soal Masa Depan Advokat

Persoalan ini diamini oleh Dr. Grees Selly. Ia memaparkan saat ini terdapat lebih dari 50 organisasi advokat dengan standar yang berbeda-beda di Indonesia.

Momen 425 Pendonor Darah Surabaya Terima Penghargaan Spesial di HUT ke-81 PMI

Apresiasi tersebut diberikan atas konsistensi mereka yang tercatat sudah mendonorkan darahnya sebanyak 50 kali di PMI Kota Surabaya.