Sabtu, 13 Jun 2026 14:37 WIB

Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting Menurut Ahli Gizi Unair

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 20 Feb 2026 17:38 WIB
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).

selalu.id - Di tengah tren intermittent fasting yang populer untuk menurunkan berat badan, ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menegaskan bahwa pola tersebut berbeda secara mendasar dengan puasa Ramadan.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi menjelaskan perbedaan utama keduanya terletak pada tujuan pelaksanaan.

Baca Juga: Tiga Jurusan Paling Diminati di UNAIR pada UTBK 2026

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” ujarnya, Jumat (20/8/2026).

Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan pengaturan waktu makan atau time-restricted eating. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka, tanpa makan maupun minum.

Sementara itu, intermittent fasting memiliki variasi pola. Metode paling populer adalah 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Ada pula pola 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.

Menurut Mahmud, perbedaan lain terletak pada aturan konsumsi cairan. Dalam puasa Ramadan, tidak diperbolehkan makan dan minum sama sekali selama waktu puasa.

Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori.

Dari sudut pandang ilmu gizi, ia menekankan pentingnya menjaga asupan yang beragam dan seimbang selama Ramadan.

Tubuh membutuhkan waktu 3–6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis alami dalam mengatur metabolisme.

Karbohidrat yang tidak langsung digunakan akan disimpan sebagai glikogen. Saat tubuh kekurangan asupan, cadangan tersebut dipecah kembali menjadi glukosa sebagai sumber energi.

Baca Juga: Sering Overthinking Jelang UTBK? Dekan Fakultas Psikologi Unair Bagikan Cara Ampuh Mengatasinya

“Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelas Mahmud.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan kebutuhan energi minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).

Jika asupan kalori terlalu rendah dalam jangka panjang, tubuh bisa mengalami defisit energi dan berisiko kehilangan massa otot.

Mahmud menyarankan pengurangan kalori dilakukan bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Memasuki Ramadan, Mahmud juga mengingatkan agar masyarakat tidak membalas rasa lapar dengan makan berlebihan saat berbuka.

Baca Juga: Unair Umumkan Kandidat Penerima Golden Ticket 2026, Berikut Jumlah Siswa yang Lolos

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan dalam jumlah besar sekaligus. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta selingan sehat bila diperlukan. Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Konsumsi sayur dan buah tinggi serat juga dianjurkan untuk membantu rasa kenyang lebih lama serta menjaga kestabilan energi selama berpuasa.

“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkas dia.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Peringati Harganas ke-33, KB Permanen di Jember Sasar 234 Perempuan dan 25 Laki-laki

Target akseptor MOW di Jember berkisar 250 peserta dan kini hampir seluruhnya telah terpenuhi.

Demi Tingkatkan Layanan ke Masyarakat, Polres Probolinggo Resmikan Gedung SPKT Baru

Kapolres Probolinggo juga mengingatkan seluruh personel yang bertugas di SPKT agar mengedepankan sikap ramah, responsif, dan berorientasi pada solusi.

Diduga Ada yang Nyontek di Seleksi Direksi PDAM Delta Tirta, Begini Pengakuan Seorang Peserta

"Saya duduk bersebelahan dengan yang diduga pelaku. Selain saya, ada yang duduk di depan dan di belakang yang juga mengetahui kejadian tersebut," ungkap Sigit.

Lagi Asyik Latihan Musik, Motor Pemuda di Mojokerto Dicuri Maling

Sebelum beraksi, pelaku datang dua kali, pertama memantau keadaan dan dua kali motor langsung dibawa kabur.

Surabaya Jadi Percontohan Nasional Program Indonesia-UEA Cegah Sampah Plastik ke Laut

Surabaya dipilih sebagai kota pertama pelaksanaan program karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan.

Antar Penumpang ke Bandara Juanda, Driver Ojol Tewas Tertabrak Mobil

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat berkendara di kawasan bandara yang memiliki lalu lintas kendaraan cukup padat.