Senin, 02 Nov 2026 15:03 WIB

Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting Menurut Ahli Gizi Unair

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 20 Feb 2026 17:38 WIB
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).

selalu.id - Di tengah tren intermittent fasting yang populer untuk menurunkan berat badan, ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menegaskan bahwa pola tersebut berbeda secara mendasar dengan puasa Ramadan.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi menjelaskan perbedaan utama keduanya terletak pada tujuan pelaksanaan.

Baca Juga: 172 PPDS FK Unair Muntah dan Pusing, Begini Kondisinya 

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” ujarnya, Jumat (20/8/2026).

Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan pengaturan waktu makan atau time-restricted eating. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka, tanpa makan maupun minum.

Sementara itu, intermittent fasting memiliki variasi pola. Metode paling populer adalah 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Ada pula pola 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.

Menurut Mahmud, perbedaan lain terletak pada aturan konsumsi cairan. Dalam puasa Ramadan, tidak diperbolehkan makan dan minum sama sekali selama waktu puasa.

Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori.

Dari sudut pandang ilmu gizi, ia menekankan pentingnya menjaga asupan yang beragam dan seimbang selama Ramadan.

Tubuh membutuhkan waktu 3–6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis alami dalam mengatur metabolisme.

Karbohidrat yang tidak langsung digunakan akan disimpan sebagai glikogen. Saat tubuh kekurangan asupan, cadangan tersebut dipecah kembali menjadi glukosa sebagai sumber energi.

Baca Juga: IKA Unair Jember Resmi Dikukuhkan, Siap Dukung Program Pemkab

“Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelas Mahmud.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan kebutuhan energi minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).

Jika asupan kalori terlalu rendah dalam jangka panjang, tubuh bisa mengalami defisit energi dan berisiko kehilangan massa otot.

Mahmud menyarankan pengurangan kalori dilakukan bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Memasuki Ramadan, Mahmud juga mengingatkan agar masyarakat tidak membalas rasa lapar dengan makan berlebihan saat berbuka.

Baca Juga: Menginspirasi Birokrasi: Sekel Surabaya Raih Gelar Doktor Lewat Riset Kelincahan Pegawai

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan dalam jumlah besar sekaligus. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta selingan sehat bila diperlukan. Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Konsumsi sayur dan buah tinggi serat juga dianjurkan untuk membantu rasa kenyang lebih lama serta menjaga kestabilan energi selama berpuasa.

“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkas dia.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Antisipasi Harga BBM Naik, DPRD Sebut Pemkot Surabaya Harus Hitung Ulang Anggaran BTT

Potensi kenaikan BBM harus disikapi sejak awal lewat skema anggaran yang fleksibel.

Bupati Sidoarjo Berangkatkan Atlet Popda dan Peparpeda, Bonus hingga Beasiswa Disiapkan

Subandi menyebut mereka sebagai putra-putri terbaik daerah yang sudah ditempa latihan panjang.

Pemkot Surabaya Targetkan 5 Rumah Pompa Baru Beroperasi Desember

Lima lokasi itu berada di Nginden Intan Timur, Panjang Jiwo, Dharmahusada, Tambak Segaran, dan Tanjungsari.

Polda Jatim Siapkan Pengawalan Distribusi BBM dan Elpiji Antisipasi Kecurangan

Polisi juga menemukan adanya dugaan keterlibatan oknum dalam rantai penyimpangan distribusi bbm dan elpiji bersubsidi.

Pelindo Daya Sejahtera Perkuat Struktur Korporasi Lewat Konsolidasi Usaha

PDS direncanakan menggabungkan diri ke dalam PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI).

Polda Jatim Bongkar 22 Kasus Penyalahgunaan BBM dan LPG Bersubsidi

Ini respons langsung terhadap keresahan masyarakat akibat kelangkaan bahan bakar bersubsidi yang belakangan sempat memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.