Rabu, 21 Okt 2026 19:34 WIB

Tekan Stunting dan Penyakit Kronis, Surabaya Bangun Sistem Kesehatan Berbasis Data RW

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 29 Jan 2026 14:41 WIB
Foto: Simbolik kesepahaman Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi di ruang kerja wali kota, Rabu (28/1/2026).
Foto: Simbolik kesepahaman Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi di ruang kerja wali kota, Rabu (28/1/2026).

selalu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya untuk memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat berbasis data hingga tingkat rukun warga (RW).

 

Baca Juga: Hilangkan Stigma Kampung Narkoba, Pemkot Surabaya Siapkan Langkah Bagi Warga Jalan Kunti 

Penandatanganan dilakukan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi di ruang kerja wali kota, Rabu (28/1/2026).

 

Kerja sama tersebut mencakup penguatan layanan kesehatan anak dan remaja, kesehatan perempuan dan reproduksi, penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, penyakit degeneratif hingga kanker, serta percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC).

 

Eri mengatakan, kolaborasi ini akan diawali dengan pemetaan kondisi kesehatan warga di setiap RW. Melalui langkah tersebut, pemkot ingin mengetahui secara detail persoalan kesehatan dominan di masing-masing wilayah.

 

“Dalam satu RW, kami ingin tahu secara detail masalah kesehatannya, bukan hanya penyakit, tetapi juga kondisi seperti stunting maupun ibu dengan risiko tinggi,” kata Eri.

 

Data tersebut nantinya dihimpun dan dikaji bersama IDI untuk membentuk klaster kesehatan di tiap RW. Dari situ, pemkot dapat menentukan prioritas penanganan berbasis kondisi riil di lapangan.

 

“Lewat kajian IDI, kita bisa melihat sebenarnya Surabaya ini darurat kesehatan di sektor apa. Dari situ disusun langkah penanganannya,” ujarnya.

 

Menurut Eri, keberhasilan program ini salah satunya diukur dari menurunnya kunjungan warga ke fasilitas kesehatan akibat penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Ia menekankan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif dibanding hanya kuratif.

 

“Daerah yang baik bukan yang kunjungan rumah sakitnya tinggi karena sakit, tapi kunjungan untuk pemeriksaan rutin. Artinya masyarakat sehat dan pencegahan berjalan,” tegasnya.

 

Baca Juga: Bunda Jelita Surabaya Integrasikan Layanan Ibu dan Bayi Sejak Catin hingga Pascapersalinan

Ke depan, Pemkot Surabaya dan IDI akan menyusun timeline pelaksanaan program, termasuk pemenuhan kebutuhan tenaga dokter di puskesmas pembantu (pustu). Selama ini, sebagian besar pustu hanya diisi bidan dan perawat.

 

“Dengan kerja sama ini, kami berharap kebutuhan dokter di pustu juga bisa terpenuhi sehingga layanan kesehatan makin dekat dengan warga,” kata Eri.

 

Selain berdampak pada pola layanan, pemetaan kesehatan berbasis RW juga akan memengaruhi perencanaan anggaran. 

 

Menurut Eri, alokasi anggaran kesehatan nantinya disesuaikan dengan kebutuhan riil masing-masing wilayah sebelum disinergikan di tingkat kota.

 

“Setiap RW pasti punya kebutuhan berbeda. Dengan pendekatan ini, anggaran benar-benar berbasis kebutuhan nyata,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Perketat Penjualan Minol, Pembeli Wajib Tunjukkan Identitas

 

Pemkot menargetkan beberapa RW akan menjadi percontohan mulai Mei 2026 sebelum program diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah Surabaya.

 

Sementara itu, Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi menyatakan siap mendukung penuh program tersebut. Ia menyebut IDI Surabaya memiliki sekitar 7.600 anggota, mulai dari dokter umum, dokter spesialis, hingga akademisi kedokteran.

 

“Kami akan terlibat mulai dari identifikasi masalah kesehatan, analisis solusi, intervensi bersama pemangku kepentingan, hingga evaluasi berbasis data dan sains sampai tingkat RW,” ujarnya.

 

Ia optimistis kolaborasi tersebut dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Surabaya sekaligus menekan angka stunting, kematian ibu dan anak, serta penyakit tidak menular di masa mendatang.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Aksi Motoran Santri Sidoarjo Kampanyekan Tertib Lalu Lintas Sambut HSN 2026

Tak sekadar konvoi, Motoran Santri membawa pesan “Motor Santun”, yakni ajakan berkendara secara aman, tertib, dan bertanggung jawab. 

Kisah Penjual Peyek di Nganjuk Terancam Kehilangan Rumah atas Utang Mendiang Suami Rp690 Juta

Rumah tinggal Lilik terancam disita dan dilelang oleh BRI Cabang Nganjuk atas klaim utang mendiang suaminya, Puji Astanto, sebesar Rp690 juta.

45 Ribu Reklame di Surabaya, Ratusan Masih Bandel dan Nunggak Pajak

Kepala Bidang Pajak Daerah Bapenda Surabaya Ekkie Noorisma menyebut, dua biang keroknya klasik tidak berizin dan belum bayar pajak.

21 Anggota Geng Motor Pengeroyok Pengunjung Angkringan di Mojokerto Diringkus

Tiga orang dilaporkan menjadi korban dan mengalami luka-luka, salah satunya luka robek diduga akibat senjata tajam.

Doa Kebangsaan di Mojokerto, Ning Ita dan Kapolres Kompak Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Doa bersama menjadi ikhtiar menyatukan tekad sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat, dan tokoh masyarakat dalam membangun bangsa.

Ayah Bacok Dua Anak Kandung di Surabaya Gegara Sengketa Harta

Pelaku datang ke lokasi yang juga berfungsi sebagai hunian keluarga, dan menuntut secara kasar kepada Renata agar menyerahkan surat atau sertifikat bangunan.