Minggu, 06 Sep 2026 14:37 WIB

Tekan Stunting dan Penyakit Kronis, Surabaya Bangun Sistem Kesehatan Berbasis Data RW

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 29 Jan 2026 14:41 WIB
Foto: Simbolik kesepahaman Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi di ruang kerja wali kota, Rabu (28/1/2026).
Foto: Simbolik kesepahaman Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi di ruang kerja wali kota, Rabu (28/1/2026).

selalu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya untuk memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat berbasis data hingga tingkat rukun warga (RW).

 

Baca Juga: DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

Penandatanganan dilakukan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi di ruang kerja wali kota, Rabu (28/1/2026).

 

Kerja sama tersebut mencakup penguatan layanan kesehatan anak dan remaja, kesehatan perempuan dan reproduksi, penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, penyakit degeneratif hingga kanker, serta percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC).

 

Eri mengatakan, kolaborasi ini akan diawali dengan pemetaan kondisi kesehatan warga di setiap RW. Melalui langkah tersebut, pemkot ingin mengetahui secara detail persoalan kesehatan dominan di masing-masing wilayah.

 

“Dalam satu RW, kami ingin tahu secara detail masalah kesehatannya, bukan hanya penyakit, tetapi juga kondisi seperti stunting maupun ibu dengan risiko tinggi,” kata Eri.

 

Data tersebut nantinya dihimpun dan dikaji bersama IDI untuk membentuk klaster kesehatan di tiap RW. Dari situ, pemkot dapat menentukan prioritas penanganan berbasis kondisi riil di lapangan.

 

“Lewat kajian IDI, kita bisa melihat sebenarnya Surabaya ini darurat kesehatan di sektor apa. Dari situ disusun langkah penanganannya,” ujarnya.

 

Menurut Eri, keberhasilan program ini salah satunya diukur dari menurunnya kunjungan warga ke fasilitas kesehatan akibat penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Ia menekankan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif dibanding hanya kuratif.

 

“Daerah yang baik bukan yang kunjungan rumah sakitnya tinggi karena sakit, tapi kunjungan untuk pemeriksaan rutin. Artinya masyarakat sehat dan pencegahan berjalan,” tegasnya.

 

Baca Juga: Aturan Jam Operasional Pasar Tanjungsari 77 Surabaya Diprotes, Saleh Mukadar: Pemerintah Mau Ganti Rugi Kalau Buah Rusak

Ke depan, Pemkot Surabaya dan IDI akan menyusun timeline pelaksanaan program, termasuk pemenuhan kebutuhan tenaga dokter di puskesmas pembantu (pustu). Selama ini, sebagian besar pustu hanya diisi bidan dan perawat.

 

“Dengan kerja sama ini, kami berharap kebutuhan dokter di pustu juga bisa terpenuhi sehingga layanan kesehatan makin dekat dengan warga,” kata Eri.

 

Selain berdampak pada pola layanan, pemetaan kesehatan berbasis RW juga akan memengaruhi perencanaan anggaran. 

 

Menurut Eri, alokasi anggaran kesehatan nantinya disesuaikan dengan kebutuhan riil masing-masing wilayah sebelum disinergikan di tingkat kota.

 

“Setiap RW pasti punya kebutuhan berbeda. Dengan pendekatan ini, anggaran benar-benar berbasis kebutuhan nyata,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Matangkan RDTR 2026, Bebaskan Lahan Warga yang 'Terjebak' Proyek Mangkrak

 

Pemkot menargetkan beberapa RW akan menjadi percontohan mulai Mei 2026 sebelum program diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah Surabaya.

 

Sementara itu, Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi menyatakan siap mendukung penuh program tersebut. Ia menyebut IDI Surabaya memiliki sekitar 7.600 anggota, mulai dari dokter umum, dokter spesialis, hingga akademisi kedokteran.

 

“Kami akan terlibat mulai dari identifikasi masalah kesehatan, analisis solusi, intervensi bersama pemangku kepentingan, hingga evaluasi berbasis data dan sains sampai tingkat RW,” ujarnya.

 

Ia optimistis kolaborasi tersebut dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Surabaya sekaligus menekan angka stunting, kematian ibu dan anak, serta penyakit tidak menular di masa mendatang.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Membangun Kemandirian Teknologi Industri Maritim Indonesia melalui Robotika Bawah Air dalam Semangat Asta Cita

Laut Indonesia akhirnya bukan hanya menjadi kekayaan yang kita miliki, tetapi juga menjadi tempat kita membangun masa depan.

Bupati Jember Fawait Berangkatkan Peserta Tajemtra Meski Akui Baru Lepas Infus

Ia mengaku tidak ingin meninggalkan masyarakat yang telah datang dari berbagai wilayah untuk mengikuti Tajemtra.

Kolaborasi Pemkab Jember-KAI, 350 Peserta Tajemtra Berangkat ke Tanggul Naik Kereta Khusus

Penggunaan kereta api untuk mengangkut peserta diharapkan dapat memberikan perjalanan yang aman dan nyaman.

Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Petugas mencatat area gudang yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 700 meter persegi.

Hadiri Raker Gabungan DPP Apeksi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita: TKD Harus Fleksibel

Ning Ita menegaskan Apeksi akan terus mendorong agar relasi pusat dan daerah dibangun dengan prinsip kuat, adil, dan adaptif.

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item