Jumat, 05 Jun 2026 03:24 WIB

Cerita Pilu di Balik Mogok Produksi Pengusaha Tempe, Mereka Terintimidasi!

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 25 Feb 2022 12:44 WIB
Ilustrasi tempe Foto: Istiewa
Ilustrasi tempe Foto: Istiewa

selalu.id - Di balik kekompakan aksi mogok pengusaha tempe dan tahu yang digelar selama tiga hari (21-23 Februari 2022) kemarin menyimpan cerita menarik. Ada alasan memilukan kenapa para pengusaha tersebut terlihat kompak mogok produksi. Mereka terintimidasi!

Ghofur, salah satu pengusaha tempe di Surabaya menceritakan alasan dirinya ikut dalam aksi mogok produksi. Beberapa tahun silam, saat harga kedelai naik, ada instruksi yang sama dari perkumpulan pengusaha tempe untuk mogok produksi, namun saat itu Ghofur memilih untuk tidak ikut dan tetap berproduksi dengan mengurangi ukuran tempenya.

Baca Juga: Menanti Ending di Balik Proyek Ilegal PT Wulandaya Cahaya Lestari di Surabaya

"Kalau mengingat kejadian itu, ndak enak rasanya," ujar Ghofur kepada selalu.id, Jumat (25/2/2022).

Berproduksinya Ghofur ternyata membawa petaka bagi pelanggan Ghofur yang menjual tempe di pasar. Pedagang tersebut diintimidasi oleh kelompok pengusaha tempe lainnya yang menggelar sweeping di pasar-pasar.

"Saya pernah kejadian beberapa tahun yang lalu, pelanggan saya ada yang nekat jualan di obrak abrik dagangannya," ungkap Ghofur.

Baca Juga: Remaja di Surabaya Tewas Dikeroyok Pelajar SMA, Sempat Gegar Otak dan Patah Tulang

Berbekal pengalaman tersebut, pada tahun ini, Ghofur memutuskan untuk mengikuti seruan perkumpulan pengusaha tempe dan tahu melalui surat edaran bernomor 01/PPT/Jatim/II/2022 yang diterbitkan oleh paguyuban Pengrajin Tempe dan Tahu Wilayah Surabaya dan sekitarnya, terkait kenaikan harga kedelai.

"Saya takut (Pelanggannya) digituin (takut disakiti di jalan), makanya saya ikuti saja berhenti produksi tiga hari untuk keamanan saya," ungkapnya.

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Ghofur menambahkan, bahwa aksi mogok yang dilakukan selama tiga hari kemarin tidak membawa dampak penurunan harga kedelai di pasaran. Hanya mengurangi omzet pengusaha tempe dan tahu selama tiga hari.

"Sekarang harga kedelai malah naik, jadi Rp 11.200 sekilo, Naik Rp 200," jelasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pemain Utama Rantai Halal Nasional

Tantangan berikutnya adalah memastikan daerah-daerah potensial mampu mengambil peran lebih besar sebagai produsen penggerak utama industri halal global.

Lima Mahasiswa FH Untag Surabaya Ajukan Uji Materi ke MK Soal Pembuatan SIM

Namun demikian, para mahasiswa tidak meminta seluruh tes dihapus, melainkan dilakukan penyempurnaan agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.

Pemkab Sidoarjo Komitmen Selesaikan Hak Warga Terdampak Lumpur Lapindo

Pengaktifan kembali Satgas dinilai penting mengingat masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat terdampak lumpur Lapindo.

Ning Ita Ajak ASN Kota Mojokerto Berani Tolak dan Laporkan Gratifikasi

Ning Ita mengatakan upaya pencegahan korupsi tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tapi harus dibangun dengan kesadaran dan integritas setiap pemerintah.

Mahasiswa Statistika Bisnis ITS Pelajari Penerapan ISO 9001:2015 di Terminal Petikemas Surabaya

Mahasiswa diharapkan mampu menjembatani pemahaman teoritis yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di lapangan.

Polresta Sidoarjo Bongkar Jaringan Narkotika Internasional Senilai Puluhan Miliar

Saat ini penyidik masih mengembangkan kedua perkara tersebut guna mengungkap jaringan yang lebih luas.