Rabu, 22 Jul 2026 05:27 WIB

Cerita Pilu di Balik Mogok Produksi Pengusaha Tempe, Mereka Terintimidasi!

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 25 Feb 2022 12:44 WIB
Ilustrasi tempe Foto: Istiewa
Ilustrasi tempe Foto: Istiewa

selalu.id - Di balik kekompakan aksi mogok pengusaha tempe dan tahu yang digelar selama tiga hari (21-23 Februari 2022) kemarin menyimpan cerita menarik. Ada alasan memilukan kenapa para pengusaha tersebut terlihat kompak mogok produksi. Mereka terintimidasi!

Ghofur, salah satu pengusaha tempe di Surabaya menceritakan alasan dirinya ikut dalam aksi mogok produksi. Beberapa tahun silam, saat harga kedelai naik, ada instruksi yang sama dari perkumpulan pengusaha tempe untuk mogok produksi, namun saat itu Ghofur memilih untuk tidak ikut dan tetap berproduksi dengan mengurangi ukuran tempenya.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tetapkan Perwalian 75 Anak Perlindungan Khusus

"Kalau mengingat kejadian itu, ndak enak rasanya," ujar Ghofur kepada selalu.id, Jumat (25/2/2022).

Berproduksinya Ghofur ternyata membawa petaka bagi pelanggan Ghofur yang menjual tempe di pasar. Pedagang tersebut diintimidasi oleh kelompok pengusaha tempe lainnya yang menggelar sweeping di pasar-pasar.

"Saya pernah kejadian beberapa tahun yang lalu, pelanggan saya ada yang nekat jualan di obrak abrik dagangannya," ungkap Ghofur.

Baca Juga: Beredar Kabar Gerai Mie Gacoan di Surabaya Banyak yang Disegel, Ada Apa?

Berbekal pengalaman tersebut, pada tahun ini, Ghofur memutuskan untuk mengikuti seruan perkumpulan pengusaha tempe dan tahu melalui surat edaran bernomor 01/PPT/Jatim/II/2022 yang diterbitkan oleh paguyuban Pengrajin Tempe dan Tahu Wilayah Surabaya dan sekitarnya, terkait kenaikan harga kedelai.

"Saya takut (Pelanggannya) digituin (takut disakiti di jalan), makanya saya ikuti saja berhenti produksi tiga hari untuk keamanan saya," ungkapnya.

Baca Juga: Mampir di Surabaya, Hasto Bicara Soal Tudingan PDIP Sebagai Dalang Aksi Demonstrasi

Ghofur menambahkan, bahwa aksi mogok yang dilakukan selama tiga hari kemarin tidak membawa dampak penurunan harga kedelai di pasaran. Hanya mengurangi omzet pengusaha tempe dan tahu selama tiga hari.

"Sekarang harga kedelai malah naik, jadi Rp 11.200 sekilo, Naik Rp 200," jelasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Sinergi Nasional dari Jember, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Kemudahan Usaha dan Pembiayaan Murah

Pemerintah Kabupaten Jember terus berkomitmen membantu UMKM agar mampu berkembang menjadi usaha yang lebih produktif dan berdaya saing.

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.