Antara Elit Lama dan Gen Z, Ini Pandangan Pengamat Soal Calon Ketua Baru PDIP Surabaya
- Penulis : Ade Resty
- | Minggu, 21 Des 2025 10:44 WIB
selalu.id - Beredar dua nama kader disebut paling kuat dan realistis untuk dipilih sebagai Ketua DPC PDIP Surabaya periode 2025–2030, yakni Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan Syaifuddin Zuhri yang akrab disapa Kaji Ipuk.
Nantinya, pengumuman Ketua DPC PDIP Surabaya menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan Kota Surabaya yang digelar Minggu, 22 Desember 2025, hari ini.
Baca Juga: DPC PDIP Magetan Buka Rekrutmen Anggota Baru, Sasar Generasi Muda
Pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC) I Ikhsan Rosidi, menilai Keduanya memiliki basis politik, rekam jejak, serta legitimasi yang diakui kader PDIP Surabaya.
“Menjelang Konfercab, memang mengerucut dua nama yang banyak disebut layak bersaing, yakni Armuji dan Kaji Ipuk. Siapa yang terpilih nanti sepenuhnya ditentukan oleh pemilik hak suara di Konfercab PDIP Surabaya,” ujar Ikhsan, kepada selalu.id.
Menurut Ikhsan, jika berbicara soal popularitas dan nama besar di panggung politik Surabaya, Armuji berada di posisi unggul. Rekam jejak politiknya yang dimulai sejak era 1980-an hingga awal 1990-an menjadikannya figur senior yang lekat dengan sejarah dan kebesaran PDIP Surabaya.
“Hampir seluruh karier politik Armuji dihabiskan untuk membangun PDIP Surabaya, hingga mengantarkannya menjadi Wakil Wali Kota mendampingi Eri Cahyadi. Ini investasi politik yang sulit ditandingi kader mana pun,” jelasnya.
Tak hanya itu, Armuji juga dikenal aktif turun langsung ke masyarakat, terutama melalui kerja-kerja politik di tingkat akar rumput. Aktivitas tersebut dinilai memperkuat citranya sebagai figur yang dekat dengan warga dan responsif terhadap persoalan kota.
“Pengalaman, nama besar, dan kerja politik nyata menjadi nilai lebih Armuji untuk memimpin PDIP Surabaya,” tambah Ikhsan.
Namun, Ikhsan menegaskan bahwa Kaji Ipuk bukan tanpa peluang. Dalam konteks strategi PDIP Surabaya menghadapi Pemilu 2029, figur Kaji Ipuk dinilai memiliki relevansi tersendiri, terutama dalam menggarap pemilih generasi Z dan generasi Alpha yang akan mendominasi basis pemilih ke depan.
“Pemilu 2029 akan sangat ditentukan pemilih gen Z dan gen Aplha. Banyak pihak menilai Kaji Ipuk memiliki kans kuat di segmen ini, sehingga peluangnya tidak bisa dianggap kecil,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Politik Universitas Airlangga, Fitrianto. Ia menilai Armuji sebagai kader senior memiliki kekuatan besar dari sisi pengalaman dan ketangguhan politik.
Baca Juga: Dihadiri Armuji, Rapat Evaluasi Fraksi PDIP Surabaya Digelar Tertutup, Isyarat Perombakan?
“Armuji sudah kenyang makan asam garam dan teruji kualitasnya di PDIP. Itu menjadikannya figur yang sangat kuat di Surabaya,” ujar Fitrianto.
Sementara Kaji Ipuk, lanjut Fitrianto, hadir sebagai tokoh baru yang cukup menjanjikan dan memiliki basis kekuatan politik di Surabaya Barat.
“Kalau Kaji Ipuk memegang jabatan Ketua DPC, itu bisa menjadi penyegaran bagi PDIP Surabaya,” imbuhnya.
Analisis lebih komprehensif disampaikan Pengamat Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni. Ia menilai persaingan Armuji dan Kaji Ipuk bukan sekadar duel figur, melainkan pertarungan arah dan strategi kaderisasi PDIP Surabaya.
“Persaingan ini mencerminkan pilihan strategis partai: antara stabilitas elit lama dan penguatan organisasi kader,” jelas Ken Bimo.
Menurutnya, keunggulan utama Armuji terletak pada pengalaman politik, penguasaan jaringan struktural partai, serta relasi kuat dengan birokrasi dan pemerintahan kota. Modal ini dinilai strategis untuk menjaga stabilitas partai dan efektivitas pemenangan dalam pilkada maupun pemilu mendatang.
Baca Juga: Hadapi Maraknya Korupsi, PDIP Perkuat Sistem Antipolitik Uang
Namun, Armuji juga menghadapi tantangan sebagai representasi kader lama di tengah dominasi pemilih muda. “Citra elit senior bisa memunculkan persepsi kurang responsif terhadap isu kontemporer seperti digitalisasi kampanye dan isu perkotaan yang sensitif bagi generasi muda,” ujarnya.
Sebaliknya, Kaji Ipuk dinilai kuat sebagai operator partai dan figur kaderisasi akar rumput. Basisnya di PAC dan ranting menjadikannya representasi PDIP sebagai organisasi kader yang solid dan berkelanjutan.
“Kelemahannya ada pada visibilitas publik yang masih terbatas. Keberhasilan Kaji Ipuk sangat bergantung pada strategi komunikasi politik yang efektif,” kata Ken Bimo.
Ia menegaskan, pilihan Ketua DPC PDIP Surabaya akan berdampak strategis, tidak hanya di level lokal tetapi juga regional dan nasional.
“Surabaya kerap menjadi barometer PDIP di Jawa Timur. Pilihan DPP akan menjadi sinyal apakah partai menekankan efektivitas elektoral jangka pendek atau penguatan organisasi jangka panjang,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardianto