Dari Moroseneng ke Dolly, Cak Yebe Beberkan Pusat Prostitusi Surabaya
- Penulis : Ade Resty
- | Senin, 17 Nov 2025 18:35 WIB
selalu.id - Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko atau Cak Yebe menyoroti maraknya praktik prostitusi yang dinilai masih aktif di sejumlah titik Kota Pahlawan. Ia menyebut aktivitas prostitusi kini hadir dalam bentuk konvensional dan digital sehingga semakin sulit dikendalikan.
Baca Juga: Pelaku Prostitusi dari Luar Surabaya Dipulangkan, Wali Kota Eri: Dolly Aman
Yona mengatakan pihaknya telah berulang kali meminta Pemerintah Kota Surabaya memperketat pengawasan. Ia menekankan peran Satpol PP dan Bapemkesra yang membawahi lurah serta camat agar mengambil tindakan tegas di lokasi rawan.
“Kami berulangkali mengingatkan kepada Pemkot Surabaya melalui Satpol PP serta Bapemkesra yang menaungi lurah dan camat untuk tegas melakukan tindakan jika ada tempat-tempat yang ditengarai digunakan sebagai lokasi prostitusi,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Menurut politisi Gerindra itu, beberapa titik tetap beroperasi meski sudah ditertibkan, termasuk kawasan Moroseneng yang membutuhkan patroli intensif Satpol PP Benowo dari pukul 23.00 sampai 04.00 WIB.
“Termasuk tempat-tempat pijat tradisional berizin Pelayanan Kesehatan Tradisional dan penginapan yang diduga dipakai untuk layanan prostitusi online,” jelasnya.
Kawasan eks lokalisasi Dolly juga kembali masuk pantauan setelah operasi pada 16 November 2025. Dalam penindakan tersebut, petugas mengamankan dua pekerja seks komersial dan dua muncikari di sekitar Gang Dolly Putat Jaya Timur III B. Yona menyebut rumah kos dan wisma di sejumlah titik lain tetap dimanfaatkan untuk aktivitas serupa.
“Masih banyak lokasi rumah kos dan wisma yang meskipun tertutup secara formal, tetap digunakan untuk aktivitas prostitusi terselubung,” tegasnya.
Baca Juga: Polisi Ungkap Prostitusi di Putat Jaya, Wali Kota Eri Pastikan Dolly Bersih
Yona kembali mengingatkan regulasi yang mengatur sanksi prostitusi seperti Pasal 296 dan 506 KUHP, UU ITE, dan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang.
“Maraknya praktik prostitusi terselubung baik konvensional maupun melalui platform digital jelas melanggar regulasi,” ucapnya.
Ia menilai penanganan tidak bisa diserahkan pada satu lembaga. Konsistensi seluruh perangkat pemerintahan dan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci.
Baca Juga: Dua Mucikari Ditangkap, DPRD Sebut Pemkot Surabaya Gagal Awasi Titik-titik Prostitusi
“Dibutuhkan kesadaran, komitmen, dan konsistensi semua pihak untuk bersama-sama menciptakan Surabaya bersih dari prostitusi. Tanpa itu semua pasti akan sia-sia,” ujarnya.
Yona mengingatkan penutupan Dolly pada masa kepemimpinan Tri Rismaharini sebagai contoh keberhasilan upaya penertiban.
“Dampak besar prostitusi adalah merusak moral generasi muda dan citra kota Surabaya. Penutupan Dolly dulu menjadi prestasi yang mengakhiri label Surabaya sebagai kota dengan wisata esek-esek terbesar di Indonesia,” pungkasnya.
Editor : AdingURL : https://selalu.id/news-11453-dari-moroseneng-ke-dolly-cak-yebe-beberkan-pusat-prostitusi-surabaya
