DPRD Tuding Banjir Surabaya karena Pemotongan Anggaran, Begini Klaim Pemkot
- Penulis : Ade Resty
- | Jumat, 07 Nov 2025 15:10 WIB
selalu.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan bahwa penyebab utama genangan dan banjir di sejumlah titik bukan semata karena proyek drainase yang belum rampung, tetapi juga akibat sampah yang menyumbat saluran air.
Baca Juga: Hadapi Puncak Hujan Februari, Pemkot Surabaya Tambah Lagi 5 Rumah Pompa
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) dan petugas rumah pompa selama 24 jam nonstop.
Kepala DSDABM Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menyebut persoalan sampah menjadi tantangan serius dalam penanganan banjir, terutama di titik-titik krusial.
“Paling banyak itu sampah di saluran Greges yang mau masuk ke bozem Morokrembangan. Itu banyak sampahnya di sana,” ujar Syamsul, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, jenis sampah yang ditemukan sangat beragam, bahkan ada benda besar yang ikut dibuang ke saluran air hingga menyebabkan penyumbatan dan genangan.
“Sampahnya variatif. Mulai helm, sofa, kasur, macam-macam pokoknya. Kalau ingin cari macam-macam sampah ada di sana,” katanya.
Untuk memastikan kinerja rumah pompa berjalan optimal, DSDABM menyiagakan petugas pompa dan petugas penyaring sampah secara penuh. Petugas pompa berjaga 24 jam dengan sistem tiga shift, masing-masing selama delapan jam.
“Kalau petugas penyarang sampah, mereka menyisir saluran air saat tidak hujan. Tapi kalau hujan turun, langsung fokus bekerja di saringan rumah pompa untuk membersihkan sampah,” jelasnya.
Syamsul menambahkan, pekerjaan menyaring sampah tergolong berat. Ia bahkan pernah mencobanya sendiri.
“Aku pernah mencoba. Sebentar saja sudah kemeng tangan saya. Jadi pekerjaan itu berat karena sampahnya sudah bercampur dengan air,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, jika curah hujan tinggi dan sampah menumpuk, petugas akan meminta bantuan dari posko lain untuk mempercepat penanganan.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Putus 2 Kontraktor Proyek Pompa Air Karena Wanprestasi
Penanganan banjir di Surabaya saat ini didukung 76 rumah pompa, dan akan ditambah lima unit lagi pada 2025 sehingga total menjadi 81 rumah pompa.
“Jumlah petugas di setiap rumah pompa bervariasi antara 4 hingga 8 orang, tergantung karakteristik dan ukuran pompa,” imbuhnya.
Syamsul menjelaskan, rumah pompa besar seperti di Greges dan Kalisari memiliki hingga delapan petugas penyaring karena menampung tujuh unit pompa berkapasitas besar.
“Dengan penanganan maksimal ini, kami juga meminta kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air,” pungkasnya.
Sementara itu, Komisi C DPRD Surabaya menilai genangan dan banjir yang masih terjadi di beberapa titik bukan hanya disebabkan oleh bangunan warga di atas saluran air seperti yang disorot Wali Kota Eri Cahyadi saat inspeksi di Jalan Tanjungsari, Rabu (5/11/2025).
Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Arning Rahmati, menyebut persoalan banjir berakar pada belum tuntasnya pembangunan infrastruktur dan lemahnya pelaksanaan normalisasi saluran.
Baca Juga: Rapor Merah Dari DPRD Surabaya untuk Setahun Kepemimpinan Eri-Armuji
“Selama ini anggaran pembangunan drainase hampir setiap tahun dirasionalisasi. Akibatnya, banyak proyek yang seharusnya tuntas di 2025 justru bergeser ke 2026,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).
Ia mencontohkan proyek drainase di kawasan Gunung Sari dan Semampir yang belum rampung karena penyesuaian anggaran.
“Artinya konektivitas saluran belum nyambung. Kalau yang sudah selesai itu nggak banjir. Tapi yang belum selesai, apalagi rumah pompanya belum jadi, ya masih tergenang,” tegasnya.
Selain itu, Arning juga menyoroti lemahnya pelaksanaan normalisasi saluran yang seharusnya dilakukan rutin oleh Pemkot.
“Harusnya enam bulan pertama itu dikeruk terus tiap hari. Tapi faktanya, banyak titik yang dibiarkan penuh lumpur dan sampah. Pemerintah kota juga belum maksimal dalam menyediakan alat dan anggarannya,” ungkapnya.
Editor : Ading