Senin, 02 Feb 2026 01:49 WIB

Petani Kedung Cowek Tolak Lahan Produktif Dijadikan Sekolah Rakyat

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 28 Okt 2025 16:53 WIB

selalu.id – Rencana pembangunan Sekolah Rakyat di kawasan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya menuai penolakan dari kelompok petani setempat. Mereka menolak karena lahan yang akan digunakan merupakan lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan warga.

 

Baca Juga: DPRD Surabaya Desak Pemkot Cari Solusi Sengketa Lahan Sekolah Rakyat

Ketua RW 01 Kedung Cowek, Witono Adi, menyatakan warga tidak menolak program pendidikan, tetapi meminta agar lokasi pembangunan dipindahkan ke lahan non-produktif yang masih tersedia di sekitar wilayah tersebut.

 

“Warga tidak menolak pembangunan Sekolah Rakyat. Tapi jangan di lahan produktif. Di depan mata kami ada tanah kosong, non-produktif, kenapa itu tidak dipakai?” ujar Witono, usai rapat dengar pendapat di DPRD Surabaya, Selasa (28/10/2025).

 

Witono menjelaskan, lahan pertanian di kawasan Kedung Cowek memiliki tingkat kesuburan tinggi dengan hasil panen mencapai 10 hingga 11 ton padi per hektare setiap musim.

 

“Satu hektare bisa menghasilkan 10 sampai 11 ton padi per musim. Di tempat lain paling 6 atau 7 ton. Ini lahan subur, sumber makan kami,” ujarnya.

 

Perwakilan kelompok petani Kedung Cowek, Nich Husnin, menilai pemerintah kurang bijak dalam menentukan lokasi proyek. Ia menegaskan bahwa warga hanya meminta lokasi pembangunan digeser ke area non-produktif.

 

“Kami tidak menolak. Kami hanya minta digeser saja. Karena lahan yang mau dibangun itu produktif,” kata Nich.

Baca Juga: DPRD Jatim Dorong Bantuan Alat Pertanian untuk Tingkatkan Produktivitas Sawah

 

Nich juga menyebut adanya kekhawatiran warga terhadap kemungkinan kepentingan lain di balik proyek tersebut. Ia menyoroti sejumlah lahan milik Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) di sekitar lokasi yang terbengkalai dan tidak dimanfaatkan.

 

“Banyak lahan BPWS yang dulu dibebaskan, tapi sekarang terbengkalai. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk Sekolah Rakyat?” ujarnya.

 

Ia menambahkan, para petani berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendengarkan aspirasi warga dan tidak mengambil kebijakan yang merugikan masyarakat kecil.

 

Baca Juga: Luluk Fokus Atasi Ketimpangan dan Sejahterakan Petani

“Pemerintah jangan sewenang-wenang terhadap programnya sendiri. Kami dukung pendidikan, kami dukung pengentasan kemiskinan. Tapi kalau lahan produktif diambil, dua-duanya gagal: pangan dan kesejahteraan,” tegasnya.

 

Berdasarkan data kelompok tani, sedikitnya ada empat hektare lahan pertanian milik lima petani yang akan terdampak jika proyek Sekolah Rakyat tetap dilanjutkan di lokasi saat ini.

 

“Lahan ini warisan dari leluhur kami, dulu tanahnya untuk petani. Kami hanya ingin tetap bisa menanam dan memberi makan keluarga kami,” pungkas Nich.

 

Editor : Ading
Berita Terbaru

Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Pada laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 ini, Bajul Ijo-julukan Persebaya, hanya mampu memetik satu poin, tidak seperti yang diharapkan.

Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan bahwa pohon tumbang itu telah dievakuasi dan dinyatakan kondusif.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.