Minggu, 06 Sep 2026 04:57 WIB

Petani Kedung Cowek Tolak Lahan Produktif Dijadikan Sekolah Rakyat

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 28 Okt 2025 16:53 WIB

selalu.id – Rencana pembangunan Sekolah Rakyat di kawasan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya menuai penolakan dari kelompok petani setempat. Mereka menolak karena lahan yang akan digunakan merupakan lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan warga.

 

Baca Juga: Kunjungi Lahan Terdampak Kekeringan di Gresik, Mentan Amran Tawarkan Solusi Gak Pake Ribet

Ketua RW 01 Kedung Cowek, Witono Adi, menyatakan warga tidak menolak program pendidikan, tetapi meminta agar lokasi pembangunan dipindahkan ke lahan non-produktif yang masih tersedia di sekitar wilayah tersebut.

 

“Warga tidak menolak pembangunan Sekolah Rakyat. Tapi jangan di lahan produktif. Di depan mata kami ada tanah kosong, non-produktif, kenapa itu tidak dipakai?” ujar Witono, usai rapat dengar pendapat di DPRD Surabaya, Selasa (28/10/2025).

 

Witono menjelaskan, lahan pertanian di kawasan Kedung Cowek memiliki tingkat kesuburan tinggi dengan hasil panen mencapai 10 hingga 11 ton padi per hektare setiap musim.

 

“Satu hektare bisa menghasilkan 10 sampai 11 ton padi per musim. Di tempat lain paling 6 atau 7 ton. Ini lahan subur, sumber makan kami,” ujarnya.

 

Perwakilan kelompok petani Kedung Cowek, Nich Husnin, menilai pemerintah kurang bijak dalam menentukan lokasi proyek. Ia menegaskan bahwa warga hanya meminta lokasi pembangunan digeser ke area non-produktif.

 

“Kami tidak menolak. Kami hanya minta digeser saja. Karena lahan yang mau dibangun itu produktif,” kata Nich.

Baca Juga: Lewat Pro Gus'e Update, Bupati Fawait Beber Rp312 Miliar Dukungan Pertanian untuk Jember

 

Nich juga menyebut adanya kekhawatiran warga terhadap kemungkinan kepentingan lain di balik proyek tersebut. Ia menyoroti sejumlah lahan milik Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) di sekitar lokasi yang terbengkalai dan tidak dimanfaatkan.

 

“Banyak lahan BPWS yang dulu dibebaskan, tapi sekarang terbengkalai. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk Sekolah Rakyat?” ujarnya.

 

Ia menambahkan, para petani berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendengarkan aspirasi warga dan tidak mengambil kebijakan yang merugikan masyarakat kecil.

 

Baca Juga: DPRD Surabaya Desak Pemkot Cari Solusi Sengketa Lahan Sekolah Rakyat

“Pemerintah jangan sewenang-wenang terhadap programnya sendiri. Kami dukung pendidikan, kami dukung pengentasan kemiskinan. Tapi kalau lahan produktif diambil, dua-duanya gagal: pangan dan kesejahteraan,” tegasnya.

 

Berdasarkan data kelompok tani, sedikitnya ada empat hektare lahan pertanian milik lima petani yang akan terdampak jika proyek Sekolah Rakyat tetap dilanjutkan di lokasi saat ini.

 

“Lahan ini warisan dari leluhur kami, dulu tanahnya untuk petani. Kami hanya ingin tetap bisa menanam dan memberi makan keluarga kami,” pungkas Nich.

 

Editor : Ading
Berita Terbaru

Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Petugas mencatat area gudang yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 700 meter persegi.

Hadiri Raker Gabungan DPP Apeksi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita: TKD Harus Fleksibel

Ning Ita menegaskan Apeksi akan terus mendorong agar relasi pusat dan daerah dibangun dengan prinsip kuat, adil, dan adaptif.

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item

DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.

Menyoal Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo, Kemenag RI Dorong Upaya Investigasi

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah.

Kenang Setahun Wafatnya Affan Kurniawan, Forkopimda Sidoarjo Bagi Beras ke Seribu Driver Ojol

Bantuan bertepatan dengan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol asal Jakarta yang meninggal dunia setahun lalu dalam aksi ujuk rasa.