Rabu, 21 Okt 2026 15:04 WIB

Adaptasi Kocak Kacik, Kotaseger Hadirkan Angon Angin di Parade Teater Jatim

  • Penulis : Yasin
  • | Sabtu, 25 Okt 2025 12:15 WIB
Pertunjukan Angon Angin
Pertunjukan Angon Angin

selalu.id – Parade Teater Jawa Timur 2025 resmi digelar pada 24–25 Oktober 2025 di Gedung Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur. Salah satu sajian yang menarik perhatian penonton adalah pertunjukan Angon Angin yang dipersembahkan Komunitas Kotaseger Indonesia.

 

Baca Juga: Dewan Kebudayaan Diproyeksi Kubur Dewan Kesenian Surabaya, Maestro Ludruk: Saya Akan Lawan

Pertunjukan dibuka dengan suasana hening. Dalam gelap gulita terdengar rapalan zikir yang perlahan menjalar ke seluruh ruang. Dari kegelapan itu muncul sosok makhluk yang terperangkap di dalam jala, alat tradisional penangkap ikan yang menjadi simbol perjalanan tokoh bernama Darim dalam pencarian jiwanya.

Adegan demi adegan ditampilkan secara akrobatik dengan tetap menonjolkan pesan dan simbol yang ingin disampaikan kepada penonton. Pertunjukan juga menampilkan penanda lokalitas, fenomena sosial, serta nilai-nilai sufistik yang mengisi keseluruhan lakon.

 

Sutradara Angon Angin, Ali Khumaini, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan adaptasi dari lakon Kocak Kacik karya Arifin C. Noer.

“Kami mengadaptasi lakon Kocak Kacik ini untuk menilik kembali gagasan, ide, bahkan nilai-nilai dan nalar teater dari Arifin. Kami membaca karya Arifin ini sebagai medium perenungan jiwa, sekaligus melakukan olah diri untuk sepenuhnya menghadirkan konteks di dalam pertunjukan,” kata Ali.

 

Baca Juga: DKS Mau Diubah jadi Dewan Kebudayaan, Seniman Surabaya Minta Tak Sekadar Ganti Nama

Ali menambahkan, proses adaptasi Angon Angin melibatkan banyak unsur kearifan lokal dari daerah asal para anggotanya. Ia bersama tim Kotaseger Indonesia menampilkan karya dengan pendekatan tubuh yang estetik dan adaptif terhadap konteks sosial masyarakat setempat.

Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur yang juga Kurator Parade Teater Jatim 2025, Luhur Kayungga, mengatakan Komunitas Kotaseger terpilih karena menawarkan pendekatan kreatif yang berbeda dari kelompok lain.

 

“Dari enam kelompok yang lolos kurasi, hanya Kotaseger yang berani menggunakan pendekatan lain. Mereka tidak hanya berhasil mengadaptasi bentuk, tetapi juga nalar, gagasan, dan nilai-nilai dalam naskah tersebut dengan lokalitas mereka,” ujar Luhur.

Baca Juga: SMP Labschool Unesa 3 Surabaya Gelar ANSARA 2025, Gen Z Didorong jadi Pahlawan Bahasa

 

Tahun ini Parade Teater Jatim mengusung tema “Membaca Arifin C. Noer dalam Platform Teater Jawa Timur.” Para kurator memberi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi karya Arifin C. Noer melalui pendekatan berbasis kearifan lokal di berbagai daerah.

 

Melalui kesempatan ini, Komunitas Kotaseger Indonesia menghadirkan Angon Angin sebagai bentuk adaptasi Kocak Kacik dalam perspektif dan konteks budaya mereka.

Editor : Ading
Berita Terbaru

21 Anggota Geng Motor Pengeroyok Pengunjung Angkringan di Mojokerto Diringkus

Tiga orang dilaporkan menjadi korban dan mengalami luka-luka, salah satunya luka robek diduga akibat senjata tajam.

Doa Kebangsaan di Mojokerto, Ning Ita dan Kapolres Kompak Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Doa bersama menjadi ikhtiar menyatukan tekad sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat, dan tokoh masyarakat dalam membangun bangsa.

Hilangkan Stigma Kampung Narkoba, Pemkot Surabaya Siapkan Langkah Bagi Warga Jalan Kunti 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, penindakan saja tidak cukup.

Ayah Bacok Dua Anak Kandung di Surabaya Gegara Sengketa Harta

Pelaku datang ke lokasi yang juga berfungsi sebagai hunian keluarga, dan menuntut secara kasar kepada Renata agar menyerahkan surat atau sertifikat bangunan.

SIER Perkuat Kerja Sama dengan Investor Jepang, Konjen Dukung Rencana Pengembangan Kawasan Industri

Selain membahas kerja sama yang telah berjalan, Takonai menyambut baik rencana SIER untuk terus mengembangkan kawasan industri di daerah lain.

Polda Jatim Terjunkan Pasukan Atasi Penanganan Karhutla

Berdasarkan perkembangan situasi dan hasil pemantauan, karhutla masih terpantau di sembilan wilayah di Jawa Timur.