Senin, 02 Feb 2026 02:14 WIB

Adaptasi Kocak Kacik, Kotaseger Hadirkan Angon Angin di Parade Teater Jatim

  • Penulis : Yasin
  • | Sabtu, 25 Okt 2025 12:15 WIB
Pertunjukan Angon Angin
Pertunjukan Angon Angin

selalu.id – Parade Teater Jawa Timur 2025 resmi digelar pada 24–25 Oktober 2025 di Gedung Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur. Salah satu sajian yang menarik perhatian penonton adalah pertunjukan Angon Angin yang dipersembahkan Komunitas Kotaseger Indonesia.

 

Baca Juga: SMP Labschool Unesa 3 Surabaya Gelar ANSARA 2025, Gen Z Didorong jadi Pahlawan Bahasa

Pertunjukan dibuka dengan suasana hening. Dalam gelap gulita terdengar rapalan zikir yang perlahan menjalar ke seluruh ruang. Dari kegelapan itu muncul sosok makhluk yang terperangkap di dalam jala, alat tradisional penangkap ikan yang menjadi simbol perjalanan tokoh bernama Darim dalam pencarian jiwanya.

Adegan demi adegan ditampilkan secara akrobatik dengan tetap menonjolkan pesan dan simbol yang ingin disampaikan kepada penonton. Pertunjukan juga menampilkan penanda lokalitas, fenomena sosial, serta nilai-nilai sufistik yang mengisi keseluruhan lakon.

 

Sutradara Angon Angin, Ali Khumaini, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan adaptasi dari lakon Kocak Kacik karya Arifin C. Noer.

“Kami mengadaptasi lakon Kocak Kacik ini untuk menilik kembali gagasan, ide, bahkan nilai-nilai dan nalar teater dari Arifin. Kami membaca karya Arifin ini sebagai medium perenungan jiwa, sekaligus melakukan olah diri untuk sepenuhnya menghadirkan konteks di dalam pertunjukan,” kata Ali.

 

Baca Juga: Seniman Surabaya ini Punya Cara Pandang Berbeda Soal Hubungan DKS dan Pemkot

Ali menambahkan, proses adaptasi Angon Angin melibatkan banyak unsur kearifan lokal dari daerah asal para anggotanya. Ia bersama tim Kotaseger Indonesia menampilkan karya dengan pendekatan tubuh yang estetik dan adaptif terhadap konteks sosial masyarakat setempat.

Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur yang juga Kurator Parade Teater Jatim 2025, Luhur Kayungga, mengatakan Komunitas Kotaseger terpilih karena menawarkan pendekatan kreatif yang berbeda dari kelompok lain.

 

“Dari enam kelompok yang lolos kurasi, hanya Kotaseger yang berani menggunakan pendekatan lain. Mereka tidak hanya berhasil mengadaptasi bentuk, tetapi juga nalar, gagasan, dan nilai-nilai dalam naskah tersebut dengan lokalitas mereka,” ujar Luhur.

Baca Juga: Sajikan Manufaktur Anatomi Kera, Teater Gapus Surabaya Turut Menyoal Konsumerisme Lewat Pertunjukan

 

Tahun ini Parade Teater Jatim mengusung tema “Membaca Arifin C. Noer dalam Platform Teater Jawa Timur.” Para kurator memberi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi karya Arifin C. Noer melalui pendekatan berbasis kearifan lokal di berbagai daerah.

 

Melalui kesempatan ini, Komunitas Kotaseger Indonesia menghadirkan Angon Angin sebagai bentuk adaptasi Kocak Kacik dalam perspektif dan konteks budaya mereka.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Pada laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 ini, Bajul Ijo-julukan Persebaya, hanya mampu memetik satu poin, tidak seperti yang diharapkan.

Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan bahwa pohon tumbang itu telah dievakuasi dan dinyatakan kondusif.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.