Overpopulasi Komodo Jadi Masalah Mendesak Kebun Binatang Surabaya
- Penulis : Rahmat Hidayat
- | Sabtu, 06 Sep 2025 16:12 WIB
selalu.id – Kebun Binatang Surabaya (KBS), salah satu ikon wisata tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1916, menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan perannya sebagai pusat konservasi, pendidikan, dan pariwisata.
Baca Juga: Tiket KBS Berpotensi Naik 2026, Manajemen Ajukan Skema Rp20–25 Ribu
Selain citranya sebagai destinasi favorit keluarga dan pelajar, KBS kini bergulat dengan masalah overpopulasi satwa, keterbatasan fasilitas, serta manajemen sumber daya manusia yang dinilai belum optimal.
Salah satu persoalan mendesak adalah kelebihan jumlah satwa, terutama Komodo dan Jalak Bali. Saat ini, KBS menampung sekitar 135 ekor Komodo, jumlah yang jauh melebihi kapasitas ideal.
Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Pemerhati dan Pecinta Satwa Indonesia (APECSI), Singky Soewadji, dalam kegiatan Jagongan Bareng bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di Surabaya, Jumat (5/9/2025).
Menurutnya, overpopulasi satwa berdampak pada kesejahteraan hewan akibat ruang yang terbatas, meningkatnya kebutuhan pakan, beban biaya operasional, serta risiko penyebaran penyakit.
“Saya tidak bermaksud meremehkan anak muda, namun pengalaman dan pengetahuan yang mendalam tentang konservasi satwa liar tidak bisa didapatkan hanya dengan semangat atau latar belakang pendidikan formal,” ujarnya.
Singky menyebut ada tiga solusi teknis untuk mengatasi masalah ini, yaitu pelepasliaran ke habitat asli dengan kajian ekosistem, peminjaman atau hibah ke lembaga konservasi lain di dalam maupun luar negeri, serta eutanasia sebagai pilihan terakhir dengan pendekatan etis dan profesional.
“KBS itu rumah kedua bagi saya. Tapi sekarang, masalah overpopulasi dan kompetensi SDM harus segera ditangani,” tegasnya.
Selain satwa, Singky juga menyoroti manajemen internal KBS. Dari sekitar 200 pegawai, sekitar 60 persen disebut merupakan mandor atau tenaga nonproduktif yang tidak terlibat langsung dalam konservasi atau pelayanan publik.
Baca Juga: Target 200 Ribu Pengunjung, KBS Siapkan Skema Parkir Darurat
Ia menilai perlu ada restrukturisasi organisasi, pelatihan ulang tenaga kerja, modernisasi sistem manajemen berbasis teknologi, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas.
Menurut Singky, peran direktur baru KBS akan sangat menentukan dalam menangani dua isu utama tersebut.
Sebagai lembaga konservasi yang sudah berusia lebih dari satu abad, KBS bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga bagian dari identitas sejarah Surabaya. Namun, di tengah persaingan dengan wisata buatan dan digitalisasi pariwisata, KBS dituntut beradaptasi agar tidak ditinggalkan generasi muda.
“Kami berharap agar pemimpin yang terpilih benar-benar kompeten dan memiliki komitmen tinggi terhadap konservasi satwa liar Indonesia. Kami juga berharap agar masalah overpopulasi satwa dan manajemen yang tidak profesional dapat segera diatasi agar lembaga konservasi dapat berfungsi secara optimal,” pungkasnya.
KBS pernah tercatat sebagai kebun binatang terlengkap di Asia Tenggara dengan koleksi lebih dari 230 spesies atau sekitar 2.179 ekor satwa, termasuk satwa langka Indonesia maupun dunia yang terdiri atas mamalia, aves, reptilia, dan pisces.
Baca Juga: KBS Gelar Program Libur Nataru, Tiket Masuk Tetap Rp15 Ribu
Dukungan terhadap KBS juga datang dari industri perhotelan. Ketua Himpunan Humas Hotel (H3) Surabaya Raya, Kus Andi, menyatakan bahwa keberadaan KBS sangat penting bagi pengembangan sektor wisata.
“Harapan kami adalah terciptanya kemudahan-kemudahan antara pelaku hotel dan pelaku wisata. Misalnya, dengan Kebun Binatang Surabaya, kami bisa melakukan kolaborasi yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Kolaborasi ini, lanjutnya, bisa berupa kebijakan khusus seperti pemberian harga spesial bagi tamu hotel yang berkunjung ke KBS.
“Melalui kegiatan ini, kita bisa melakukan branding bersama melalui media sosial. Kami akan mempromosikan wisata di Surabaya, termasuk KBS, dan sebaliknya,” tandas Kus Andi.
Editor : AdingURL : https://selalu.id/news-10735-overpopulasi-komodo-jadi-masalah-mendesak-kebun-binatang-surabaya
