Kamis, 20 Agu 2026 12:44 WIB

Overpopulasi Komodo Jadi Masalah Mendesak Kebun Binatang Surabaya

Ketua Asosiasi Pemerhati dan Pecinta Satwa Indonesia (APECSI), Singky Soewadji
Ketua Asosiasi Pemerhati dan Pecinta Satwa Indonesia (APECSI), Singky Soewadji

selalu.id – Kebun Binatang Surabaya (KBS), salah satu ikon wisata tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1916, menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan perannya sebagai pusat konservasi, pendidikan, dan pariwisata.

 

Baca Juga: Menanti Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi Rp10 Miliar di Kebun Binatang Surabaya

Selain citranya sebagai destinasi favorit keluarga dan pelajar, KBS kini bergulat dengan masalah overpopulasi satwa, keterbatasan fasilitas, serta manajemen sumber daya manusia yang dinilai belum optimal.

 

Salah satu persoalan mendesak adalah kelebihan jumlah satwa, terutama Komodo dan Jalak Bali. Saat ini, KBS menampung sekitar 135 ekor Komodo, jumlah yang jauh melebihi kapasitas ideal.

 

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Pemerhati dan Pecinta Satwa Indonesia (APECSI), Singky Soewadji, dalam kegiatan Jagongan Bareng bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di Surabaya, Jumat (5/9/2025).

 

Menurutnya, overpopulasi satwa berdampak pada kesejahteraan hewan akibat ruang yang terbatas, meningkatnya kebutuhan pakan, beban biaya operasional, serta risiko penyebaran penyakit.

 

“Saya tidak bermaksud meremehkan anak muda, namun pengalaman dan pengetahuan yang mendalam tentang konservasi satwa liar tidak bisa didapatkan hanya dengan semangat atau latar belakang pendidikan formal,” ujarnya.

 

Singky menyebut ada tiga solusi teknis untuk mengatasi masalah ini, yaitu pelepasliaran ke habitat asli dengan kajian ekosistem, peminjaman atau hibah ke lembaga konservasi lain di dalam maupun luar negeri, serta eutanasia sebagai pilihan terakhir dengan pendekatan etis dan profesional.

 

“KBS itu rumah kedua bagi saya. Tapi sekarang, masalah overpopulasi dan kompetensi SDM harus segera ditangani,” tegasnya.

 

Selain satwa, Singky juga menyoroti manajemen internal KBS. Dari sekitar 200 pegawai, sekitar 60 persen disebut merupakan mandor atau tenaga nonproduktif yang tidak terlibat langsung dalam konservasi atau pelayanan publik.

 

Baca Juga: Buntut Kasus Korupsi, Pemkot Surabaya Buka Seleksi Terbuka Dirut KBS Secara Nasional

Ia menilai perlu ada restrukturisasi organisasi, pelatihan ulang tenaga kerja, modernisasi sistem manajemen berbasis teknologi, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas.

 

Menurut Singky, peran direktur baru KBS akan sangat menentukan dalam menangani dua isu utama tersebut.

 

Sebagai lembaga konservasi yang sudah berusia lebih dari satu abad, KBS bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga bagian dari identitas sejarah Surabaya. Namun, di tengah persaingan dengan wisata buatan dan digitalisasi pariwisata, KBS dituntut beradaptasi agar tidak ditinggalkan generasi muda.

 

“Kami berharap agar pemimpin yang terpilih benar-benar kompeten dan memiliki komitmen tinggi terhadap konservasi satwa liar Indonesia. Kami juga berharap agar masalah overpopulasi satwa dan manajemen yang tidak profesional dapat segera diatasi agar lembaga konservasi dapat berfungsi secara optimal,” pungkasnya.

 

KBS pernah tercatat sebagai kebun binatang terlengkap di Asia Tenggara dengan koleksi lebih dari 230 spesies atau sekitar 2.179 ekor satwa, termasuk satwa langka Indonesia maupun dunia yang terdiri atas mamalia, aves, reptilia, dan pisces.

Baca Juga: Tak Cukup Jago Manajemen, Apecsi Minta Bos Baru KBS Punya Jiwa Konservasi

 

Dukungan terhadap KBS juga datang dari industri perhotelan. Ketua Himpunan Humas Hotel (H3) Surabaya Raya, Kus Andi, menyatakan bahwa keberadaan KBS sangat penting bagi pengembangan sektor wisata.

 

“Harapan kami adalah terciptanya kemudahan-kemudahan antara pelaku hotel dan pelaku wisata. Misalnya, dengan Kebun Binatang Surabaya, kami bisa melakukan kolaborasi yang saling menguntungkan,” ujarnya.

 

Kolaborasi ini, lanjutnya, bisa berupa kebijakan khusus seperti pemberian harga spesial bagi tamu hotel yang berkunjung ke KBS.

 

“Melalui kegiatan ini, kita bisa melakukan branding bersama melalui media sosial. Kami akan mempromosikan wisata di Surabaya, termasuk KBS, dan sebaliknya,” tandas Kus Andi.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Transisi Energi yang Tetap Menjaga Daya Saing Industri

Persoalan tersebut mengemuka dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 yang diselenggarakan bersamaan dengan IndoSolar 2026 di Jakarta.

Soal Foto Armuji Tak Dipasang di Poster Soekarno Cup 2026, Begini Jawaban Halus Panitia

Sebelumnya, Kader PDIP Surabaya Ahmad Hidayat mengaku sempat dihujani pertanyaan dari sesama kader terkait absennya wajah Armuji di poster Soekarno Cup 2026.

Kebakaran Hutan di Gunung Arjuno-Welirang, Jalur Pendakian Ditutup

Dampak dari insiden kebakaran ini, akses pendakian Gunung Arjuno-Welirang resmi ditutup total mulai Rabu (19/8) hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Waspada! Ini Tanda Kenapa Batuk Tak Kunjung Sembuh, Jangan Disepelekan

Apabila Anda mengalami batuk persisten yang tak kunjung membaik, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Bareskrim Bongkar Kasus Kekerasan Seksual dan Pengantin Pesanan, Amankan Pelatih hingga Tokoh Agama

Melalui program Rise and Speak, Polri mengajak masyarakat berani bersuara dan melaporkan segala bentuk kekerasan di sekitarnya.

Sentuhan Teknologi Digital NIC, Kunci PLN Nusantara Power Amankan Listrik Kemerdekaan RI

PLN NP terus berkomitmen mendukung transisi energi hijau menuju Net Zero Emission melalui target pengembangan lebih dari 6,3 GW energi baru terbarukan (EBT).