Senin, 02 Feb 2026 09:50 WIB

Pemkot Surabaya Pastikan Tak Ada Beras Oplosan, Stok Diklaim Aman untuk 8 Bulan

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 20 Jul 2025 13:33 WIB

Selalu.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan tidak ada peredaran beras oplosan di Kota Pahlawan. 

Pemkot juga telah melakukan mendadak (sidak) yang digelar bersama Satgas Pangan Polrestabes Surabaya di sejumlah pasar dan distributor beras, Kamis (17/7/2025).

Baca Juga: Hadapi Puncak Hujan Februari, Pemkot Surabaya Tambah Lagi 5 Rumah Pompa

Ketua Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Surabaya, Agung Supriyo Wibowo, mengatakan sidak dilakukan di Pasar Pucang Anom, Pasar Tambahrejo, serta sebuah perusahaan distribusi beras di kawasan Surabaya Barat.

“Berdasarkan hasil sidak kali ini, kami tidak menemukan beras oplosan di Kota Pahlawan. Selain itu, ketersediaan beras juga sangat aman,” ujar Agung.

Ia menyebut seluruh sampel beras yang diperiksa tergolong premium. Tak hanya untuk memastikan tidak ada pengoplosan, sidak ini juga dilakukan untuk menjawab keresahan warga soal kelangkaan beras medium di pasaran.

“Semua yang kami temukan itu beras premium, tidak ada oplosan. Kami belum menemukan,” tegasnya.

Meski begitu, Pemkot tetap bersiaga jika ke depan ditemukan indikasi pengoplosan. Karena itu, kerja sama dengan Satgas Pangan Polrestabes terus dilakukan, termasuk menindaklanjuti hasil rapat koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Putus 2 Kontraktor Proyek Pompa Air Karena Wanprestasi

“Kami libatkan Satgas Pangan dari kepolisian agar penelusurannya bisa tuntas,” imbuhnya.

Terkait stok beras, Agung memastikan Surabaya dalam kondisi aman. “Alhamdulillah ketersediaan kami angka delapan. Artinya cukup untuk delapan bulan ke depan,” jelasnya.

Ia menyebut kelangkaan beras medium di pasaran terjadi karena beberapa faktor, termasuk kemungkinan pembatasan distribusi serta sedikitnya beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang sudah tersebar. Di lapangan, beras medium memang masih ditemukan, tapi dalam jumlah terbatas.

“Kalau dari informasi, beras medium ini jarang karena memang tidak banyak yang produksi. Sehingga selepan-selepan juga tidak diperkenankan buat medium lagi,” ujarnya.

Baca Juga: Rapor Merah Dari DPRD Surabaya untuk Setahun Kepemimpinan Eri-Armuji

Selain mengecek keberadaan beras medium, petugas juga memeriksa kualitas beras premium. Salah satu indikatornya adalah kadar pecahan yang tak boleh lebih dari 10 persen. Bila melebihi itu, kualitasnya dianggap turun ke kategori medium.

Ke depan, sidak bakal dilanjutkan ke sejumlah pasar besar lainnya, termasuk Pasar Wonokromo, Soponyono, dan Genteng. Agung pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

“Kami pastikan ketersediaan beras di Surabaya sangat cukup, dan isu soal beras oplosan tidak kami temukan,” tandasnya.

Editor : Yasin
Berita Terbaru

Ramalan Zodiak Hari Ini: Banyak Kabar Gembira, Dari Keuangan hingga Karier

Ramalan zodiak hari ini meliputi seputar percintaan, keuangan dan karier bisa menjadi prediksi peruntungan di masa depan.

Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Pada laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 ini, Bajul Ijo-julukan Persebaya, hanya mampu memetik satu poin, tidak seperti yang diharapkan.

Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan bahwa pohon tumbang itu telah dievakuasi dan dinyatakan kondusif.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.