Bozem Avur Sumo Kembali Dipenuhi Sampah, Ketua LPMK Ragukan Sayembara DLH
- Penulis : Ade Resty
- | Senin, 14 Jul 2025 14:17 WIB
selalu.id – Bozem Avur Sumo di perbatasan Kecamatan Sukomanunggal dan Asemrowo kembali dipenuhi sampah. Fasilitas penampungan air yang seharusnya berfungsi sebagai pengendali banjir ini justru sering menjadi tempat menumpuknya limbah rumah tangga, plastik, styrofoam, hingga eceng gondok.
Baca Juga: Surabaya Susun Perda Baru, Tiap Kawasan Baru Wajib Punya Kolam Tampung Air
Kondisi ini dikhawatirkan memburuk saat musim hujan karena potensi luapan air bercampur sampah yang bisa menggenangi permukiman dan menimbulkan risiko penyakit maupun kerusakan lingkungan.
Ketua LPMK Asemrowo, Moch Widodo, mengatakan permasalahan ini berakar dari rendahnya kesadaran warga, terutama di kawasan hulu sungai.
“Ini problem klasik. Warga di hulu seenaknya buang sampah ke sungai, lalu arusnya membawa semua ke hilir, yaitu ke Bozem Avur Sumo,” kata Widodo, Senin (14/7/2025).
Widodo menambahkan, bozem itu menampung aliran dari dua kecamatan, sehingga warga kerap saling menyalahkan soal asal sampah.
“Kita nggak bisa terus saling menyalahkan. Yang penting sekarang, bagaimana masyarakat sadar dan tidak lagi buang sampah ke sungai,” ujarnya.
Menurutnya, pembersihan sebenarnya rutin dilakukan oleh dinas terkait. Namun karena sampah datang setiap hari, upaya tersebut tak berdampak signifikan.
“Setiap kali ada peninjauan, yang disorot pasti tumpukan sampah ini. Terus terang saya malu,” katanya.
Salah satu langkah yang diambil Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya adalah mengadakan sayembara berhadiah Rp200 ribu bagi warga yang berhasil merekam pelaku pembuangan sampah sembarangan.
Baca Juga: Atasi Banjir, Pemkot Surabaya Bangun Empat Bozem Baru
Widodo menyambut baik inisiatif itu, namun ia meragukan efektivitasnya jika tidak dibarengi perubahan perilaku warga.
“Gagasan sayembara bagus, tapi tanpa niat tulus dari masyarakat untuk berubah, tetap akan sia-sia,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan adanya risiko bagi warga yang melapor.
“Banyak yang khawatir dilaporkan malah berujung konflik. Uang Rp200 ribu tentu bukan segalanya dibanding rasa aman,” tambahnya.
Kepala DLH Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan program ini bertujuan mendorong partisipasi warga menjaga kebersihan kota.
Baca Juga: Kurangi Beban TPA Benowo, DLH Surabaya Tambah Empat TPS 3R Tahun Ini
“Masyarakat bisa kirim video pelanggaran ke kecamatan. Nanti akan kami teruskan ke tim yustisi DLH untuk ditindaklanjuti,” kata Dedik.
Menurutnya, bonus hanya diberikan jika pelaku benar-benar dikenai denda yustisi minimal Rp300 ribu. Video yang dikirim harus jelas dan memungkinkan identifikasi pelaku.
“Ini untuk mencegah manipulasi laporan,” ujarnya.
Dedik berharap program ini bisa mendorong budaya saling mengingatkan. Namun ia menegaskan, kesadaran kolektif tetap menjadi kunci utama menjaga kebersihan lingkungan.
Editor : Ading