Surabaya Krisis Hunian, Ketua Komisi A Dorong Rusun Terpadu di Atas Pasar Tradisional
- Penulis : Ade Resty
- | Jumat, 11 Jul 2025 10:11 WIB
selalu.id – Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menyoroti krisis hunian terjangkau yang semakin mendesak. Hingga Maret 2025, jumlah pendaftar rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Surabaya mencapai 14.000 orang, sementara unit yang tersedia hanya 5.233 dari 23 rusun.
Baca Juga: Perda Baru Buka Jalan Investasi Lewat Pemanfaatan Aset Pemkot Surabaya
“Kondisi ini tidak bisa ditangani dengan pendekatan biasa. Kebutuhan hunian vertikal sudah sangat mendesak,” kata Yona usai rapat Pansus Hunian Layak di Gedung DPRD Surabaya, Kamis (10/7/2025).
Sebagai solusi, Yona mengusulkan konsep rusun terintegrasi di atas pasar tradisional, mengadopsi model Pasar Rumput di Jakarta. Rusun tersebut memiliki tiga lantai pasar di bawah, dengan hunian 1.984 unit di lantai empat hingga dua puluh lima.
“Model seperti itu bisa diterapkan di Surabaya. Pasar hidup, ekonomi jalan, dan hunian terpenuhi,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah pasar seperti Keputran, Tambakrejo, dan Wonokromo sebagai lokasi potensial. Tambakrejo bahkan telah dikembangkan dengan Kaza Mall dan Hotel Palm Park di atasnya.
“Pasar Tambakrejo sudah jadi contoh, bisa dikembangkan lebih lanjut,” imbuhnya.
Baca Juga: Arif Fathoni: Perikanan Surabaya Siap Sokong Ketahanan Pangan Presiden Prabowo
Yona menilai konsep ini menjawab keterbatasan lahan di tengah kota dan mendukung pemanfaatan ruang vertikal yang efisien.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan swasta. Pansus Hunian Layak telah mengundang sejumlah pihak seperti REI, Apersi, dan YKP untuk berdiskusi bersama.
“Pembangunan kota tidak bisa hanya ditangani Pemkot. Butuh sinergi semua pihak,” jelasnya.
Baca Juga: Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin
Ia meminta Pemkot memberi ruang bagi pengembang lokal untuk ikut terlibat dalam proyek hunian rakyat. Selain itu, ia menyoroti perlunya publikasi agar program-program Pemkot lebih dikenal publik.
“Kadang programnya sudah bagus, tapi gaungnya kurang. Media harus dilibatkan untuk menyampaikan informasi ke masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Ading
