Guru Besar ITS: Sedimentasi Berguna Bagi Nelayan, Reklamasi Bertolak Belakang
- Penulis : Dony Maulana
- | Jumat, 01 Nov 2024 15:31 WIB
selalu.id - Polemik seputar Proyek Pengembangan Surabaya Waterfront Land (SWL) masih terus bergulir. Dimana sebelumnya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) tengah melakukan sejumlah kajian ilmiah, diantaranya membahas soal sedimentasi pada wilayah terdampak.
Persoalan sedimentasi pesisir Nambangan Cumpat Kelurahan Kedung Cowek yang notabenenya merupakan wilayah terdampak dari proyek pengembangan SWL, tetap masih menjadi perhatian banyak pihak. Termasuk datang dari Guru Besar Departemen Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Mahmud Mustain.
Baca Juga: Libatkan LKPP dan ITS, Surabaya Konsolidasikan Pengadaan Semen untuk Proyek 2026
Menurut Guru Besar ITS tersebut, permasalahan sedimentasi perlu diselesaikan secara menyeluruh. Dikatakannya, dari 3 alternatif sebelumnya yang ditawarkan mulai pembangunan jembatan, pembuatan alur Laut dan Kolam Labuh, salah satu alternatif yang relevan untuk kondisi Nambangan Cumpat dengan diberlakukannya pembauran Kolam Labuh.
"Metode itu cukup relevan dan sesuai dengan kondisi wilayah Nambangan Cumpat," ungkapnya kepada selalu.id saat dikonfirmasi, Jumat (1/11/2024).
Kendati demikian, saat disinggung apakah pengentasan sedimentasi dapat dilakukan dengan reklamasi ? Lulusan strata 3 University of Leicester ini sontak menampik hal tersebut. Menurutnya, proses pemberdayaan nelayan dan penanganan sedimentasi pesisir pantai akan menguap dengan begitu saja.
Baca Juga: Menteri Amran Apresiasi Inovasi Alumni ITS, Siap Terapkan di Pertanian
"Ini menjadi tidak ada artinya, karena tujuan pemberdayaan dan pengentasan sedimentasi ini untuk memudahkan nelayan mencari ikan. Sedangkan kalau reklamasi, bertolak belakang dengan itu," terangnya secara tegas.
Sebab, jika pada akhirnya proyek reklamasi sepanjang 10 kilometer itu terwujud, maka semua lahan penghasilan nelayan akan hilang. "Termasuk tidak akan mewujudkan keseimbangan ekologi, justru itu merusak ekologi dan ekosistem," tandasnya.
Sementara itu, berdasarkan kajian ilmiah dari ITS menyebutkan jika proyek pengembangan SWL ini terealisasi, maka akan ada penurunan pada indeks ekonomi masyarakat terdampak, yang mana angka penurunan tersebut mencapai 14 persen. Angka (14 persen) ini termasuk cukup besar bagi para masyarakat yang terdampak.
Baca Juga: Aktivis 98 Tolak Wacana Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional ke Soeharto
Artinya, pihak PT Granting Jaya tidak mengedepankan tinjauan nurani sebagai aspek utama untuk melakukan Pembangunan SWL dengan tanpa memperdulikan kelangsungan hajat hidup nelayan, petani tambak, masyarakat pesisir dan masyarakat kota Surabaya pada umumnya.
Dimana seluruh nelayan akan kehilangan mata pencaharian terhadap kerang kupang, kerang dara, kerang manuk (kapak), jangkang, kepiting, jambal, belanak, dukang, keting, udang, nener, kakap, kerapu, kuniran, layur dan mimi. Dan para petani tambak akan kehilangan mata pencaharian karena kemrosotan produktivitas hasil tambak, karena kualitas air dan banjir yang ditimbulkan oleh proyek tersebut.
Editor : Ading