Jumat, 05 Jun 2026 02:01 WIB

Elektabilitas Risma-Gus Hans Diprediksi Naik dan Khofifah-Emil Turun, Begini Penjelasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 19 Sep 2024 16:08 WIB
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR

selalu.id - Elektabilitas Khofifah-Emil sebagai Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) di kontestasi Pilgub Jawa Timur 2024 menempati urutan tertinggi, yakni mencapai 57,3 persen.

Angka itu diperoleh dari rilis survei Pilgub Jawa Timur 2024 oleh Lembaga Survei Poltracking Indonesia. Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR mengatakan elektabitasi Risma-Gus Hans berada di urutan kedua dengan memperoleh angka hanya 22,7 persen. Disusul Luluk-Lukman berada di posisi terbawah dengan angka 2,2 persen.

“Tapi di saat yang sama penantang Risma-Gus Hans juga ada potensi untuk tumbuh di angka 22,7 persen dan yang ketiga Bu Luluk relatif sangat rendah, saya kira agak sulit untuk mengingmbangi dua kekuatan ini,” kata Hanta Yuda AR, saat konferensi pers daring, Kamis (18/9/2024).

Hanta mengatakan, perolehan suara masing-masing paslon pada 27 November nanti akan bergantung pada cara mereka meyakinan para undecided voters yang jumlahnya masih cukup besar.

Namun ia juga menilai bahwa elektabilitas Khofifah-Emil diprediksi akan cenderung turun karena mereka merupakan pasangan petahana. Suara keduanya tergantung dari approval rating atau tingkat kepuasan warga.

“Tinggal pada undecided ini akan kemana. Rumusnya dalam hukum elektoral, incumbent atau petahana relatif memang lebih bisa cendrung turun ketimbang naik, tapi apakah peluang Khofifah faktor incumbent ini bisa lebih besar menaikkan atau menurunkan, kita harus bisa melihat tingkat aprroval rating atau tingkat kepuasannya seperti apa,” kata Hanta.

“Begitu juga dengan penantang, apakah bisa meraup atau mengambil potensi yang belum menentukan pilihan sekaligus merebut potensi yang dimiliki petahana,” tambahnya.

Sementara itu dalam kategori perorangan bakal calon gubernur, elektabilitas Khofifah berada di posisi teratas sebesar 55,3 persen, disusul Risma dengan 22,8 dan Luluk 1,8 persen, sementara ada 20,1 persen belum menentukan pilihan yaitu tidak tahu dan tidak jawab.

Sementara elektibilitas para bakal calon wakil gubernur, Emil teratas dengan 51,7 persen, Gus Hans 9,9 persen, sementara Lukman 3,2 persen, kemudian pemilih yanh tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 35,2 persen.

Survei Poltracking Indonesia dilakukan pada 4-10 September 2024 dengan metode multistage random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka.

Survei ini dilakukan di 38 kabupaten/kota di seluruh Jatim. Total ada 1.200 responden, dengan tingkat margin of error di angka 2,9 persen dan tingkat kepercayaan di angka 95 persen.

Baca Juga: Latihan Baris Berbaris, Khofifah: Ini Simbol Kesatuan Pembangunan Nasional

Editor : Ading
Berita Terbaru

Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pemain Utama Rantai Halal Nasional

Tantangan berikutnya adalah memastikan daerah-daerah potensial mampu mengambil peran lebih besar sebagai produsen penggerak utama industri halal global.

Menanti Ending di Balik Proyek Ilegal PT Wulandaya Cahaya Lestari di Surabaya

Iman tidak menjelaskan lebih detail terkait proses perizinan yang menurutnya pada pekan lalu akan segera selesai, tinggal menunggu pembayaran PBG.

Remaja di Surabaya Tewas Dikeroyok Pelajar SMA, Sempat Gegar Otak dan Patah Tulang

Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami luka berat pada bagian kepala hingga tempurung kepalanya pecah. Korban juga disebut menderita patah tulang.

Lima Mahasiswa FH Untag Surabaya Ajukan Uji Materi ke MK Soal Pembuatan SIM

Namun demikian, para mahasiswa tidak meminta seluruh tes dihapus, melainkan dilakukan penyempurnaan agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.

Pemkab Sidoarjo Komitmen Selesaikan Hak Warga Terdampak Lumpur Lapindo

Pengaktifan kembali Satgas dinilai penting mengingat masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat terdampak lumpur Lapindo.

Ning Ita Ajak ASN Kota Mojokerto Berani Tolak dan Laporkan Gratifikasi

Ning Ita mengatakan upaya pencegahan korupsi tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tapi harus dibangun dengan kesadaran dan integritas setiap pemerintah.