Rabu, 22 Jul 2026 00:24 WIB

Pengamat Sebut Koalisi PKB-PDIP Berat, Pilgub Jatim Bakal Tiga Poros

  • Penulis : Ade Resty
  • | Rabu, 12 Jun 2024 16:03 WIB
Foto: 3 sosok kandidat Pilgub Jatim 2024
Foto: 3 sosok kandidat Pilgub Jatim 2024

selalu.id- Pengamat Politik Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yakni Mubarok menyebut arus politik dalam Pemilihan Kepala Daerah untuk Calon Gubernur Jatim memungkinkan bakal terjadi tiga poros.

Tiga poros pasangan yang beredar disebutkan untuk Pilgub Jatim yakni partai koalisi pengusungan Gerindra, PSI, Golkar, PAN, Demokrat Khofifah-Emil yang dipastikan PDIP Risma-Arifin, PKB Kiai Marzuki-Ida Fauziah.

“Bisa jadi tiga poros. Tapi PDIP masih berjuang keras untuk mendapatkan tiket (calonkan Kadernya untuk Cagub Jatim),” kata Mubarok, saat dihubungi, Rabu (12/6/2024).

Terlebih lagi, PDIP tidak bisa mengusung kadernya sendiri untuk maju Cagub. Sebab, Partai Banteng tersebut hanya memiliki 21 kursi DPRD Jatim, hal itu karena tak penuhi syarat untuk bisa usung calon sendiri yakni 20 persen atau 24 kursi dari total  DPRD Jatim. Maka PDIP membutuhkan partai lain untuk membangun koalisi.

Meskipun PDIP dan PKB ingin berkoalisi, Mubarok menyebut Kiai Marzuki Mustamar yang pernah menjabat  Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur itu juga akan berpikir ulang jika dipasangkan sebagai Cawagub bersama Risma misalnya.

“Kalau itu mungkin Kiai Marzuki masih berpikir ulang,” tuturnya.

Apalagi, PKB yang mendapatkan melebihi 24 kursi yakni sebanyak 27 kursi merupakan salah satu partainya yang bisa mengusung sendiri  tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.

“Karena kiai Marzuki sejak awal diproyeksikan sebagai Calon Gubernur bukan Calon Wakil Gubernur. Dan apabila terjadi tiga poros akan sangat menarik, karena pemilih akan mendapatkan banyak pilihan,” terangnya.

Lebih lanjut Mubarok menerangkan PKB yang merupakan pemenang pemilu ini akan berat tawar menawar kepada PDIP jika ingin berkoalisi.

“PKB pemenang pemilu, dia merasa calonkan sendiri. Kalau koalisi dengan PDIP tidak bisa menawarkan itu karena PDIP tak bisa jalan sendiri,” terangnya.

“Tapi juga PDIP merasa kalau dia punya layak jual yaitu bu Risma. Dan itu PDIP juga menginginkan menjadi calon Gubernur tapi kan PDIP harus berkoalisi,” lanjutnya.

Terkecuali, kata dia, PDIP mau bergandeng dengan PKS maka Risma bisa dicalonkan menjadi Gubernur, kemudian Wagubnya dari PKS.

“Kemungkinan saya bisa mengatakan tiga poros di Pilkada Jatim. Apalagi PDIP bisa bertemu dengan PKS di DKI Jakarta. PDIP bisa bertemu Pilkada Jatim. Sekarang PDIP kan menggandeng Anies di di Jakarta, Anies kan selama ini merasa miliknya PKS,” pungkasnya.

Baca Juga: Demi Dongkrak Daya Beli, Pemprov Jatim Salurkan Bantuan Sosial Rp32,16 Miliar di Ngawi 

Editor : Ading
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.